View Full Version: Cross Blade: Dragon Slayer

Gcdc > Open Manga Project > Cross Blade: Dragon Slayer


Title: Cross Blade: Dragon Slayer
Description: Oneshot/Movie, sequel of Twin Blade


V33D12AG0N - October 1, 2007 01:30 PM (GMT)
Cerita ini bersetting di antara kekosongan 8 tahun setelah Zeno cs mengalahkan Lexor. Well, sebetulnya bukan sequel sih, tapi menceritakan kisah lain selain petualangan Zeno cs mencari Dark Crystal :D

enjoy!

Bulan sabit sedang bersinar dengan terang di angkasa, ditemani bintang-bintang yang berkelap-kelip di sekitarnya. Tetapi ada kepulan asap yang ikut menghiasi malam. Samar-samar terdengar suara keributan. Suara itu makin lama makin kencang dan makin jelas. Terdengar pula suara terbakar, orang-orang berteriak minta tolong, maupun teriakan-teriakan histeris. Di antara suara-suara itu, terdengar pula suara samar sabetan pedang dan derap langkah kuda.

"TOLOOONGGG!!!"

"JANGAN... JANGAN BUNUH AKU!!!"

"AKU TIDAK TAHU APA-APA!!!"

Suara-suara itu bersahutan satu sama lain di sebuah desa yang kacau balau. Rumah-rumah terbakar, mayat-mayat bergelimpangan, sementara sisanya hanyalah orang-orang panik yang mencari perlindungan dan melarikan diri.

SRRIINGGG... CRAAKKK!!!! "AAAKKKHHHH!!!!"

DRAP...DRAP...DRAP...

"Hosh... hosh... hah..." Seorang ibu terlihat ketakutan dan berlari sambil tergesa-gesa membawa anaknya yang masih bayi. Ia berlari melewati mayat manusia, mayat hewan-hewan ternak, rumah-rumah yang terbakar, gerobak yang terbakar, dan orang-orang panik yang berlalu-lalang ke sana kemari hanya untuk menemukan jalan buntu. Ia segera berbalik, namun sesuatu telah menunggunya di ujung jalan.

Sosok itu tinggi, memakai armor tebal, berjubah merah, dan menunggang seekor kuda. Yang unik dari kuda yang ditungganginya, bulunya tengkuknya menyala seperti api, dan mempunyai delapan kaki. Tangan kanannya menggenggam sebilah pedang besar yang ukurannya kira-kira dua kali tinggi tubuhnya sendiri. Perlahan-lahan, diacungkannya pedang raksasa itu ke seorang ibu yang terpojok di jalan buntu.

"Katakan... di mana naga itu?"

"IA SUDAH PERGI!!" Jawab ibu itu dengan kasar, berharap sosok di hadapannya segera meninggalkannya dalam keadaan hidup.

"Hmm... begitukah?" Sahut sosok dalam armor itu sambil menyingkirkan pedangnya ke belakang punggungnya. "Kalau begitu aku harus segera mencarinya di tempat lain..."

Ibu itu merasa bahaya sudah lewat. Ia pun mendongakkan kepalanya untuk melihat keadaan di sekitarnya. Namun, matanya terbelalak saat melihat pedang raksasa itu terayun ke arahnya...

ZRRREEEEESSSSHHHHHHHH!!!!!!!

[center]CROSS BLADE: DRAGON SLAYER[/center]


Seorang anak melemparkan batu ke dalam sebuah lubang raksasa yang dalam. Batu itu jatuh ke dalam lubang itu. Terus bergerak ke bawah, hingga ia terpental oleh sesuatu. Sesuatu yang berkulit tebal dan kuat, bersayap, dan bergigi tajam, namun salah satu tanduknya patah. Seekor naga. Menyusul anak lain datang dan ikut-ikutan melempar batu ke dalam lubang itu. Anak-anak lain pun berdatangan dan melempar bebatuan kecil ke lubang itu. Tidak menyakitkan, memang, bagi sang Naga yang berkulit tebal. Tapi ada sesuatu yang menyakiti hatinya.

"PERGI KAU!!" Bentak seorang anak sambil melempar batu ke liang naga itu.

"KAU MENGHANCURKAN DESA KAMI!" Bentak anak lainnya.

Sejenak, naga itu terlihat kesal dan menggeram serta memperlihatkan gigi-giginya. Namun ia sadar kalau yang ia hadapi hanyalah anak-anak. Ia harus mengalah. Kalau mereka tak ingin ia berada di tempat itu, ia tinggal terbang pergi meninggalkan liangnya dan mencari tempat baru untuk dijadikan sarang. Mulailah ia mengepakkan sayapnya. BWESSSHHH!!!

Anak-anak yang berada di sekitar lubang itu pun terkejut saat naga itu keluar dari sarangnya. Mereka secara reflek menghindar dan jatuh ke belakang.

"MAMAAAA!!!" Teriak seorang anak sambil berlari ketakutan. Anak-anak lainnya pun segera pergi menyusulnya. Melihat hal itu, sang Naga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun terbang menjauh dari tempat itu, mencari tempat baru untuk ditinggali...

5 tahun sudah perjalananku mencari tujuan hidupku, tapi tak kunjung kutemukan. Aku masih belum bisa mengerti. Mengapa semua manusia... bukan, semua makhluk di dunia ini ingin hidup? Bukankah mereka akhirnya pasti akan mati juga? Kata-katanya masih terngiang di telingaku hingga sekarang. 'Aku harus hidup!'.

"Hey, Rogagor! Ada berita baru!" Teriak seorang pemuda pada orang yang dimaksud 'Rogagor' itu. "Pernahkah kau mendengar naga pembawa sial?"

"Naga pembawa sial?" Rogagor mengulangi pertanyaan pemuda itu.

"Ya. Katanya, setiap desa yang dikunjungi naga itu selalu mendapat malapetaka. Seluruh desa itu akan hancur lebur sesaat setelah sang naga tinggal di dekat tempat itu!" Jelasnya.

"Bagaimana bisa begitu?"

"Aku juga tidak tahu... tapi menurut seorang saksi mata, katanya akan ada malaikat maut yang membawa pedang raksasa, memakai armor berat, dan menunggang seekor kuda berkaki delapan dan berbulu api yang menghancur leburkan seluruh desa seorang diri!"

"Seorang diri?!"

"Ya! Bukankah itu hal yang menakutkan?"

"I...ya..." Jawab Rogagor ragu. Ia sendiri tak merasakan ketakutan akan kematian. Ini kembali mengingatkannya akan perkataan seseorang kepadanya. 'Aku harus hidup'.

"Hey, Rogagor... kau masih memikirkan kata-kata musuhmu 4 tahun yang lalu itu?" Tanya pemuda itu seakan dapat membaca pikiran Rogagor.

"Ya... begitulah, Frex. Aku masih bingung memikirkan arti kata-kata itu..."

"Tenang saja. Suatu hari kau pasti akan menemukannya. Aku yakin itu!" Katanya sambil menatap langit cerah. Tapi ada yang mengganggu pemandangan langit cerah itu. Tampak samar-samar asap hitam yang mengepul entah dari mana. "Rog... kau melihatnya?" Tanyanya pada Rogagor.

"Asap?!" Rogagor curiga. Ia segera turun dari dangau di tengah sawah itu dan melacak sumber asap itu.

"CELAKA!! Itu berasal dari desa kita!"

DRAP...DRAP...DRAP... Rogagor dan Frex segera berlari dari sawah kembali ke desa mereka. Beberapa rumah sudah terbakar, dan beberapa lainnya rusak.

"Siapa yang melakukan ini?!" Tanya Rogagor.

"Rog, di belakangmu!!!" Frex memperingatkan.

BRAAAKK!!! Sesuatu yang terbuat dari logam menghantam punggung Rogagor. Hantaman itu tak mempengaruhi Rogagor. Ia pun segera berbalik dan melihat 'sesuatu' yang menyerangnya. Tampaknya pandangan setinggi tubuhnya saja tak dapat melihat makhluk ini sepenuhnya. Rogagor harus mendongak untuk melihat seluruh tubuhnya.

Tubuh makhluk ini seluruhnya terbuat dari logam yang dihubung-hubungkan dengan roda-roda besi dan kabel-kabel, seperti layaknya sebuah robot. Ukurannya kira-kira dua kali tinggi manusia biasa. Makhluk ini nyaris tak berbentuk. Kaki-kakinya terbuat dari roda-roda yang dihubungkan dengan rantai besi. Tubuhnya dihiasi lampu berkelap-kelip, mur, dan baut. Tangannya yang terbuat dari tabung-tabung besi berujungkan capit seperti kepiting. Matanya tidak berbentuk bulatan, melainkan garis hitam yang mengelilingi kepalanya secara horizontal dengan lampu-lampu merah bersinar di dalamnya.

GREEBB!!! Makhluk itu mencengkeram erat tubuh Rogagor, lalu melemparkannya ke salah satu rumah penduduk. BRAAAKK!!! Rogagor jatuh menimpa genting salah satu rumah di desa itu. Sasaran selanjutnya adalah Frex. Namun, sebelum tangan makhluk aneh itu menyerang Frex, tiba-tiba ada sesuatu menyambarnya dari rumah tempat Rogagor terlempar. BRUKK!!! Serangan itu tidak merobohkan makhluk itu, melainkan hanya mendorongnya mundur beberapa meter saja karena kakinya berbentuk roda.

Frex yang tadi sempat menutup matanya saat akan diserang makhluk itu pun membuka matanya. Tampak seseorang dengan sayap naga tengah berdiri di hadapannya. Tampaknya seseorang yang ia kenal. Saat orang itu menoleh, barulah Frex menyadarinya.

"ROG!!" Teriaknya terkejut.

"Kau tak apa-apa kan, Frex?" Tanya Rogagor.

Frex pun mengangguk sambil menelan ludahnya. Ia tak menyangka temannya yang ia kenal sangat baik, ternyata...

BRRAAAKKK!!! BRAAAKKK!!! Rogagor mencoba memukul dan menendang makhluk itu, namun tak ada hasilnya. Rogagor kemudian merubah tangan dan kakinya menjadi besar, berotot, dan berkulit tebal seperti kulit naga. Dengan begini, pukulannya menjadi lebih terasa. BRRUUAAAAKKK!!! Logam penyusun tubuh makhluk itu pun melengkung karena pukulan Rogagor. Namun makhluk besi itu masih saja bergerak dan menyerang Rogagor.

Rogagor pun mengubah kakinya menjadi kaki naga, dan memunculkan ekor naga. BRRAAAAAKK!!!! Ekornya disabetkan pada kepala makhluk itu. Garis hitam yang merupakan 'mata' makhluk itu retak. Untuk mengakhiri semuanya, Rogagor akhirnya mengubah kepalanya menjadi kepala naga. Mulutnya mulai memanjang, tumbuh dua tanduk di kepalanya, dan kulitnya wajahnya pun mengeras. Kini Rogagor sudah berubah total. Ia mendongak ke atas, mengambil ancang-ancang untuk menyerang dengan semburan apinya.

BWWWOOOSSSHHH!!! Semburan itu cukup efektif untuk melelehkan sebagian tubuh makhluk itu. Akhirnya makhluk itu roboh ke tanah karena salah satu rodanya terlepas. BRRRUUAAAGGGHHH!!!! Beberapa bagian tubuhnya lepas dan terlempar ke sekitarnya. Rogagor pun mengubah tubuhnya seperti semula, kecuali sayapnya. Setelah ia mendarat, barulah ia menyimpan sayap naganya itu.

"Rog... sebenarnya... apa yang terjadi padamu?!" Tanya Frex dalam keterkejutannya.

"Maaf... aku belum menceritakan hal ini padamu... tapi sebenarnya aku adalah manusia hasil eksperimen Lexor Corporation. Aku seorang Anthromonster..."

"Jadi, kau kaki tangan Lexor?!"

"Dulu. Tapi sejak peristiwa itu, aku memutuskan untuk keluar dari Lexor Corporation..."

-------------------------

"AKU HARUS HIDUP!!!" Teriak seekor naga yang berhadapan dengan Rogagor dalam wujud naganya. Bersamaan dengan itu, bentuk tubuhnya berubah drastis.

"Ultimate... Dragon... Form..." Kata Rogagor pelan dengan tatapan mata yang terbelalak.

SRRRIIINGGG... Lawan Rogagor mendongakkan kepalanya untuk menghimpun api di lehernya, lalu ditembakkannya sebagai bola-bola api secara beruntun. Rogagor pun segera mengepakkan sayapnya untuk terbang, namun sebuah bola api menghancurkan sayap kirinya. DHUAARR!!! Beberapa bola-bola api lainnya mengenai Rogagor berturut-turut. Saat Rogagor sedang repot menghadapi bola-bola api, lawannya segera meluncur maju ke depan dan melepaskan pukulannya... BUAKKK!!!

Menyusul pula cambukan ekor lawan Rogagor yang menghantam tubuh Rogagor... CRRAAAKKK!!! Tulang tajam yang menghiasi ekor naga itu melukai perut Rogagor. BLEDAAAMM!!!! Tubuh raksasa Rogagor pun tumbang. Perlahan-lahan, tubuhnya mulai menyusut dan kembali ke wujud manusianya. Begitu pula dengan lawannya yang sudah kelelahan. Manusia naga itu pun berjalan terseok-seok ke arah Rogagor, namun jatuh pingsan di dekat Rogagor.

Beberapa saat kemudian, Rogagor tersadar. Di hadapannya tergeletak lawannya yang masih pingsan.

"Ragor..." Ucap Rogagor pelan. Sesaat ia akan mengakhiri hidup lawannya, tapi ingatannya akan kata-kata lawannya itu menghentikannya. Aku harus hidup

Ragor pun berpaling, dan meninggalkan lawannya sendirian. Sebelum ia jauh dari tempat itu, ia mendengar ada sekelompok orang datang ke tempat itu. Ia pun bersembunyi di balik pohon dan mengamati mereka. Mereka mengangkat Ragor yang masih pingsan. Setelah sekelompok orang itu pergi, Rogagor pun segera memalingkan tubuhnya dan berjalan semakin ke dalam hutan.

-------------------------

"...dan akhirnya, aku menemukan desa ini," Rogagor menyelesaikan ceritanya.

"Kau berjanji, tak akan kembali pada Lexor lagi?" Tanya Frex.

"Ya. Aku tak akan kembali lagi!" Jawab Rogagor tegas.

"Baiklah, aku mempercayaimu!" Kata Frex sambil menepuk punggung Ragor.

"Ngomong-ngomong... benda ini apa ya?" Tanya Rogagor sambil menunjuk 'monster logam' yang barusan dikalahkannya.

Sementara itu, bangkai 'monster logam' dengan bentuk yang sama tergeletak di samping seorang bocah berusia 15 tahun. Bocah itu berambut pendek, bertubuh kurus, dan mengenakan pakaian seragam berwarna merah-putih, yang pada lengannya bertuliskan FPS. Di pinggangnya tersarungkan sebilah pedang yang gagangnya tampak sedikit hangus dan mengeluarkan asap.

"RENARIO!!" Teriak seorang lelaki yang kira-kira berusia sekitar 40 tahunan sambil berlari mendekati bocah itu. "Ada berapa semuanya?" Tanyanya.

"Kalau yang ini dihitung, semuanya ada 13, Yah!" Jawab bocah itu.

"13? Pesat sekali perkembangan Lexor setelah kita kalahkan lima tahun silam!"

"Tapi yang tak kumengerti, Ayah... mengapa mereka melepaskan robot-robot ini? Robot-robot ini berkeliaran di seluruh Sentoria dan menyerang rumah-rumah penduduk tanpa tujuan yang jelas."

"Hmm... aku juga masih belum tahu, anakku..." Tanggap ayah Renario sambil mengelus-elus jenggotnya. "Sejak kepindahan Zeno, Simone, dan Cleiron ke Marelia, pekerjaan kita jadi semakin berat saja..." Keluhnya sambil menatap langit.

"Jangan salahkan mereka, Ayah! Mereka sudah berjuang cukup jauh untuk meruntuhkan Lexor Corporation lima tahun lalu! Jika bukan karena mereka, kita tak akan masih hidup sampai saat ini!" Sahut Renario.

"Ketua Yabelle! Ada berita penting!" Seorang prajurit yang mengenakan seragam yang sama dengan Renario memotong pembicaraan mereka. "Ksatria berkuda yang dijuluki malaikat maut semalam baru saja menyerang sebuah desa di kaki gunung ini!"

"Huh... baiklah, ayo kita ke sana!" Ajak Yabelle.

Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di lokasi kejadian. Situasinya sungguh mengenaskan. Rumah-rumah hancur dan gosong. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Asap masih mengepul dari beberapa rumah dan mayat. Mereka berjalan menyusuri reruntuhan desa itu, mencari saksi hidup yang dapat diinterogasi. Akhirnya mereka menemukan seorang lelaki setengah baya di pojok sebuah rumah yang atapnya telah habis terbakar.

"Pak... bapak tidak apa-apa?" Tanya Yabelle pada orang itu.

"Ma... malaikat maut... itu... ha..." Kata-katanya tak jelas dan terpatah-patah karena ia masih shock akibat kejadian semalam.

"Minumlah dulu, pak..." Renario menyodorkan botol minumnya kepada lelaki itu. Segera diraihnya botol itu, dan ia meminumnya sampai habis. Lalu ia mulai bercerita.

"Malaikat maut itu... datang beberapa hari setelah seekor naga bersarang di sebelah Utara desa ini..." Jelasnya.

"Jadi, isu tentang naga pembawa sial itu memang benar?" Yabelle menanggapi.

"Malaikat itu bertanya pada kami... di mana naga itu, padahal naga itu sudah meninggalkan sarangnya kemarin. Walaupun kami mengatakan yang sebenarnya, bahwa naga itu telah pergi, ia tetap membantai desa ini!"

"Hmm... jadi begitu... apakah Anda sempat melihat bagaimana ciri-ciri malaikat maut itu?" Tanya Yabelle

"Ia memakai armor tebal, mengendarai kuda api yang berkaki delapan, serta membawa pedang raksasa," jelasnya.

"Benar-benar seperti isu yang beredar akhir-akhir ini..." komentar Yabelle sambil mencatat hal-hal penting dari percakapan mereka. "Baiklah. Beberapa saat lagi, kami akan mengirimkan pasukan penyelamat untuk mengobati para warga, dan menguburkan mayat-mayat penduduk desa ini. Terimakasih atas informasinya!"

Yabelle pun bersiap beranjak dari tempat itu. Namun Renario tampak sedang memikirkan sesuatu. Akhirnya ia membuka mulutnya untuk bertanya pada orang itu.

"Pak, apakah ada kejadian-kejadian lain saat naga itu masih berada di desa ini?" Tanyanya.

"Nggg... sepertinya tidak. Hanya saja... ada satu makhluk logam yang lewat di sekitar desa ini, tapi tidak sampai masuk dan merusak desa ini," jawabnya.

"AHA!! Ternyata dugaanku benar! Terimakasih, Pak!" Renario tersenyum penuh kemenangan. "Ayah, aku sudah tahu hubungan antara robot-robot raksasa Lexor, naga, dan malaikat maut itu!"

"Benarkah?" Yabelle seakan tak percaya.

"Ayo kita kembali! Aku akan menjelaskannya di markas!" Ajak Renario bersemangat.

Mereka pun pulang melewati jalan yang tadi mereka tempuh untuk mencapai desa itu, termasuk bangkai robot ciptaan Lexor yang telah dikalahkan Renario. Setelah Renario dan Yabelle melewati beberapa langkah dari robot itu, tiba-tiba mata robot itu menyala kembali.

NGGGIIIEEEKKKK... JEGREK!! Robot itu berdiri tegak lagi. Saat Renario dan Yabelle menyadarinya, robot itu tengah mengayunkan tangannya yang berbentuk gergaji mesin yang berputar dengan cepat...

"AAAAAAA....!!!!!" Teriakan seorang gadis yang disertai gelombang ultrasonik mendadak menghentikan gerakan robot itu. Dari balik pepohonan muncul cahaya-cahaya merah berbentuk cakar terbang menebas tubuh robot itu menjadi berkeping-keping. BRUUGGHHH... Tubuh besar robot itu pun jatuh ke tanah setelah bagian-bagian tubuhnya jatuh terlebih dahulu.

"SIAPA DI SANA?!" Bentak Yabelle pada penyerang misterius yang berada di balik pepohonan.

"Batty? Kaukah itu?" Renario tampak mengenalinya, entah dari suara atau serangan yang digunakannya.

SREK... SREK... Seorang gadis berambut pendek yang bersayap dan bertelinga kelelawar pun terbang keluar dari balik pepohonan, lalu mendarat di hadapan Renario. Menyusul juga seorang pria setengah baya yang bertubuh kekar, dengan tangan kiri yang bersisik dan berukuran lebih besar daripada tangan kanannya.

"Renario! Kau masih ingat padaku?" Sapa Batty pada Renario.

"Tentu saja masih! Kita kan pernah bertarung bersama!" Kenangnya.

"Pak Yabelle, lama kita tidak bertemu!" Orang yang muncul bersama Batty itu mengulurkan tangan kanannya yang normal untuk berjabat tangan dengan Yabelle.

"Ya, sejak lima tahun lalu, Ragor..." Yabelle bersalaman dengan Ragor. "Kami dalam perjalanan pulang ke markas FPS. Maukah kau ikut bersama kami?" Ajak Yabelle.

"Tentu saja. Itu tujuan kami ke sini!" Jawab Ragor. "Akhir-akhir ini banyak robot-robot Lexor berkeliaran di mana-mana dan adanya ancaman malaikat maut. Kami berniat membicarakannya dengan FPS."

Mereka berempat kemudian berjalan ke markas FPS sambil berbincang-bincang.

Hari sudah mulai petang. Matahari tampak mulai bergerak ke ufuk Barat. Seekor naga sedang terbang rendah di dekat kaki gunung yang dipenuhi pepohonan, mencari tempat untuk beristirahat malam itu. Ia pun akhirnya menemukan tanah kosong yang dapat dijadikan sarangnya. Naga itu mendarat, lalu mulai menggali tanah kosong itu dengan kedua kaki depannya.

Yabelle, Renario, Ragor, Batty, dan beberapa prajurit FPS tengah berkumpul di sebuah tenda khusus untuk rapat. Renario tampak sedang berdiri dan menjelaskan sesuatu.

"Jadi saudara-saudara... kita dapat menyimpulkan bahwa malaikat maut selalu datang setelah robot Lexor mengetahui keberadaan naga itu, namun karena isu yang beredar akhir-akhir ini, naga itu diusir di mana-mana. Sehingga, waktu malaikat maut itu datang, naga itu selalu sudah pergi meninggalkan sarangnya," jelas Renario dengan tampang serius.

"Hmm... sepertinya benar juga penjelasanmu, Renario..." Yabelle bangga.

"Terus, bisakah kita memperkirakan kira-kira di mana malaikat maut itu menyerang selanjutnya?" Tanya Ragor.

Renario menggelengkan kepalanya. "Malaikat maut itu mencari naga, dan naga itu selalu berpindah-pindah karena diusir di mana-mana. Selama kita tak tahu di mana naga itu tinggal, kita tak akan dapat mengetahui ke mana malaikat maut itu akan datang. Tapi yang jelas, Lexor dan Eastoner ada di belakang semua ini!"

Seluruh peserta rapat mulai ricuh berbicara satu sama lain setelah mencengar nama Lexor dan Eastoner. Melihat hal itu, Yabelle segera bangkit.

"Hadirin sekalian, saya rasa semuanya sudah jelas. Jika tak ada pertanyaan lagi, rapat akan ditutup," Yabelle menegaskan. Mendengar itu, seluruh peserta rapat kembali tenang. Beberapa detik kemudian, setelah Yabelle merasa tidak ada pertanyaan, ia pun menutup rapat malam itu.

"Baiklah, rapat hari ini dibubarkan. Kalian boleh kembali ke tenda masing-masing!" Perintah Yabelle. Para peserta rapat satu per satu mulai meninggalkan tenda itu. Setelah sebagian besar peserta rapat meninggalkan tenda, Yabelle menepuk punggung Renario.

"Kau hebat, anakku!" Pujinya dengan bangga.

"Ah tidak juga yah... itu hanya kebetulan saja," Renario merendah.

"Baiklah, malam ini istirahatlah dengan cukup! Besok kita akan mulai mencari naga itu!" Nasehat Yabelle sambil mengelus-elus kepala Renario. Renario pun mengangguk, lalu meninggalkan tenda itu.

Saat Renario sedang berjalan menuju tendanya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.

"Hey, tak kusangka, ternyata kau pintar juga!" Batty memuji Renario.

"Ah... itu biasa saja..." Wajah Renario memerah. Tangannya menggaruk-garuk kepalanya.

"Terimakasih..." Kata Batty.

"Apa?"

"Kubilang terimakasih," Batty mengulangnya.

"Hah? Apa?"

"TERIMAKASIH!! DASAR TULI!!" Batty setengah emosi.

"Kenapa? Apa aku pernah menolongmu?" Renario kebingungan.

"5 tahun yang lalu, kau menyelamatkanku dari Anthromonster yang akan membawaku."

"Hah? Yang mana?"

"Dasar pelupa... sudahlah, pokoknya aku sudah berterimakasih padamu!" Bentak Batty dengan halus sambil duduk di atas rumput.

"Lagipula itu sudah 5 tahun yang lalu, untuk apa kau berterimakasih sekarang?" Renario pun ikut duduk, lalu merebahkan tubuhnya di samping Batty.

"Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?"

"Tapi terlambatnya keterlaluan... sampai aku sendiri sudah lupa..." Renario mencabut bunga rumput untuk digigitnya.

"Tapi... itu sangat berkesan bagiku... kalau kau tidak menyelamatkanku, entah bagaimana nasibku sekarang..." Batty memandang langit yang penuh bintang, dan bulan yang hampir bulat penuh.

"Yah... yang penting sekarang kau baik-baik saja..." Renario menopangkan kedua tangannya pada tanah untuk bangkit duduk.

"Aneh ya..." Batty menatap Renario.

"Apanya yang aneh?" Renario menatap Batty kembali dengan wajah bingung.

Batty kembali memalingkan pandangannya ke bintang-bintang di langit. "Kita sudah lama tak bertemu, tapi masih bisa seakrab ini..."

"Haha... mungkin cuma kebetulan saja..." Renario kembali merebahkan tubuhnya dengan santai sambil memejamkan matanya.

"Hey Renario..." Batty memanggil.

"Apa...?" Renario membuka sebelah matanya. Tapi yang terlihat bukannya bintang-bintang seperti yang seharusnya, melainkan wajah seorang kakek tua. "HAH!!" Renario bangun dengan tersentak kaget.

"Kau kenapa?" Tanya Batty.

"Ta... tadi barusan... aku melihat wajah seorang kakek..."

"Ah, paling-paling itu cuma khayalanmu saja..." Batty mengentengkan. Ia pun mengedipkan matanya. Seperti Renario, ia melihat wajah kakek itu sekilas, tapi kakek itu lenyap saat ia mengedipkan matanya lagi.

"HAH?!" Batty pun terkejut.

"Kau melihatnya juga?"

Batty mengangguk. Renario pun segera berdiri sambil mencabut pedangnya dari sarungnya. Batty pun ikut berdiri di samping Renario, memandang ke sekitarnya, berusaha mengantisipasi serangan mendadak.

"Kalian tidak perlu takut!" Terdengar suara yang bergema di sekitar mereka.

"SIAPA KAU?! TUNJUKKAN DIRIMU!" Bentak Renario.

SRRRIIINGGG... muncul sosok kakek yang berambut putih dan berjenggot panjang, seperti yang dilihat Renario dan Batty, di hadapan mereka. Kakek itu membawa bola kristal berwarna ungu.

"Maaf, mengganggu waktu kalian berduaan... namaku Matsuthasin, aku adalah seorang peramal keturunan dari Matsuthako, peramal yang meramalkan kebangkitan kembali Eternal Darkness. Aku kemari untuk memberi kalian sedikit informasi..." Kakek itu berkata-kata dengan lamban dan sabar.

"Informasi? Tentang apa?" Tanya Renario penasaran.

"Tentang malaikat maut dan naga itu tentunya," jawab Matsuthasin.

"Kakek tahu di mana naga itu tinggal sekarang?" Tanya Renario antusias.

"Sabar, nak... naga itu sebenarnya adalah penjaga Dark Crystal. Pada perut naga tersebut tersimpan Dark Crystal yang menyegel Eternal Darkness," jelas Matsuthasin. "Itulah mengapa Lexor dan Eastoner memburunya sekarang."

"Hmm... jadi begitu. Lalu malaikat maut itu juga utusan mereka?" Tanya Batty.

"Dengarkan dulu... orang yang kau sebut malaikat maut itu sebenarnya bernama Siegfried. Pernah mendengarnya?"

Renario dan Batty menggelengkan kepala mereka.

"Siegfried dulu adalah seorang ksatria yang menyelamatkan Sentoria dari seekor naga pemakan manusia. Setelah mengalahkan naga itu, ia mandi dan meminum darah naga tersebut, sehingga ia hidup abadi dan mendapatkan kekuatan dewa. Tetapi, sejak saat itu, ia menjadi manusia yang haus darah. Karena takut akan kekuatan dan keabadiannya, ia kemudian dikurung dalam sebuah kristal selama ribuan tahun. Dan kini, Lexor dan Eastoner membebaskannya untuk memburu naga yang melindungi Dark Crystal, Skoudra."

"SKOUDRA?!" Renario dan Batty berkata hampir bersamaan. Mereka berdua tampak terkejut mendengar nama itu.

"Kalian mengenalnya?" Tanya Kakek itu.

"Ya. ia membantu kami dalam penyerangan markas Lexor 5 tahun yang lalu!" Jelas Renario.

"Hmm... aku baru kali ini menemui kelompok yang berani menentang Lexor seperti kalian. Baiklah, akan kuberitahukan di mana naga itu tinggal sekarang. Ia sedang tinggal di kaki gunung di wilayah Utara, dekat dengan pemukiman penduduk. Tapi ingat, berhati-hatilah pada Siegfried. Ia sangat kuat. Pedang raksasanya, Gram, adalah pedang yang dapat menebas tubuh naga dengan sekali sabet. Kudanya, Grani, adalah kuda berkaki delapan dan berbulu api yang larinya paling cepat di seluruh Sentoria." Jelasnya. Kemudian ia menatap pedang yang terselip di pinggang Renario. "Nak, pedangmu itu... takkan sanggup menaklukkan Gram milik Siegfried. Kemarikan pedangmu itu..."

Dengan agak was-was, Renario menyerahkan pedangnya itu. Lalu Matsuthasin membaca mantera komat-kamit yang tak dapat dimengerti oleh Batty maupun Renario, sambil memutarkan bola kristalnya pada pedang Renario.

ZRRIIINGGG!!! Cahaya menyilaukan bersinar dari daerah antara pegangan dengan mata pisau pedang. Setelah cahaya itu memudar, terlihat sebuah kristal berwarna kehijauan bersinar di antara pegangan dengan mata pisau pedang Renario itu.

"Kini, pedangmu telah menjadi lebih kuat. Tapi ingat, pedang ini hanya dapat mengeluarkan kekuatannya dengan penuh apabila penggunanya mempunyai tekad yang kuat."

"Terimakasih, Kek!" Ucap Renario.

"Sama-sama nak, tapi maaf... aku hanya bisa membantu sejauh ini saja. Aku serahkan sisanya pada kalian. Jika ada kesempatan, kita pasti akan bertemu kembali!" Kata kakek itu sambil melambaikan tangannya.

"TUNGGU, KEK!!" Batty memanggil. Tapi dalam satu kedipan mata, kakek itu sudah lenyap dari hadapan mereka.

"Cepat, Batty, kita harus mengabarkan hal ini pada ayah!" Renario meraih tangan Batty, lalu menggandengnya menuju kemah ayahnya.

"AYAH!! AYAH!!" Renario berteriak dari luar tenda. Tak lama kemudian, Yabelle pun keluar dari tendanya, masih dengan pakaian tidur.

"Ada apa, Renario? Bukankah ayah menyuruhmu tidur dengan nyenyak malam ini?"

"Naga itu... ada di kaki gunung di Utara!" Kata Renario.

"Hah?! Darimana kau bisa tahu?" Yabelle terkejut sambil menyeka matanya yang masih lengket.

"Dari seorang peramal... ahh... ceritanya panjang! Pokoknya kita harus segera ke sana!"

"HUAHHHMM..." Yabelle menguap. "Ya... ya... aku akan segera ganti pakaian dan mengumumkannya..." Kata Yabelle sambil masuk kembali ke tendanya.

"Renario, kita juga harus membangunkan ayahku!" Batty menarik tangan Renario yang menggandengnya. "Eh... tapi Ayah tidur di mana ya?"

"Ayah tidak tidur!" Kata Ragor yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka. Ia lalu memandang tangan Renario dan Batty yang saling bergandengan. Melihat itu, Renario dan Batty segera melepaskan tangan mereka.

"Oohh... be...gitu... terus, ayah mengerjakan apa?" Tanya Batty mengalihkan perhatian.

"Ayah berjaga-jaga kalau-kalau perkemahan ini diserang oleh malaikat maut itu!" Jawab Ragor.

"Ayah... bukankah Renario sudah bilang kalau malaikat maut itu hanya menyerang tempat yang didiami naga itu?"

"Ya... siapa tahu lah..." Ragor mengelak. "Oh ya, tadi kau bilang naga itu tinggal di mana?"

"Di sebuah kaki gunung di Utara, Om. Katanya dekat pemukiman penduduk!" Jelas Renario singkat.

"Gunung di Utara? Kita membutuhkan waktu seharian untuk mencapainya! Ayo kita harus segera berangkat!" Ajak Ragor.

Matahari mulai terbit dari Timur. Rogagor pun bangun dari tidurnya, dan keluar dari rumahnya untuk menghirup udara segar. Frex terlihat berlari menghampirinya dengan nafas terengah-engah.

"Ada apa Frex?" Tanya Rogagor.

"Hosh... hosh... di sana... di dalam hutan... naga pembawa sial itu..." Kata Frex sambil menunjuk ke arah hutan.

"Naga pembawa sial?"

"Ya... naga yang memancing kedatangan malaikat maut! Kita harus mengusirnya!"

"Tidak. Aku harus membunuhnya! Kalau tidak, ia akan membawa kesialan di mana-mana!" Kata Rogagor sambil segera berlari ke arah yang ditunjuk Frex.

"He... hey!! Tunggu, Rog!" Frex yang terlalu lelah tak sanggup mengejar Rogagor. Ia pun berhenti di tengah jalan. "Hah... hah... kau... tampaknya mulai mengerti arti hidup, Rogagor... Kau mengkhawatirkan orang lain..." Frex tersenyum, meskipun ia kelelahan.

Sementara itu, rombongan pasukan FPS yang dipimpin Yabelle sedang berada di tengah-tengah perjalanan mereka.

"Ayah... tempat ini..." Renario teringat sesuatu.

Yabelle pun mengangguk. Ia kemudian berjalan mendahului Renario. "Ini adalah bekas markas Lexor 5 tahun yang lalu..."

"Oh..." Ragor baru menyadarinya. "Tempat ini dulu diselimuti salju, waktu peperangan terjadi. Dan sekarang berubah menjadi padang rumput yang subur..." Kenang Ragor.

"Kakak..." Renario berjalan mendekat ke puing-puing bangunan yang berdiri di hadapannya. Begitu pula dengan Yabelle.

"Rosalie... putriku... kau berjuang sampai akhir hayatmu demi Sentoria..." Yabelle berlutut di hadapan puing-puing itu. Tanpa terasa, air mata mengalir dari matanya. "Ayah bangga padamu, nak..."

"Kakak, aku tak akan melupakanmu..." Renario pun ikut berlutut di hadapan puing-puing itu.

Kembali ke Rogagor yang telah berhasil menemukan lubang tempat persembunyian Skoudra. Ia pun berteriak dari permukaan lubang itu.

"HEY!!! NAGA PEMBAWA SIAL!! AYO KELUAR DAN HADAPI AKU!!" Bentak Rogagor. Skoudra yang baru saja bangun dari tidurnya merasa terganggu dengan tantangan itu.

WUSSSSHH!!!! Skoudra terbang ke permukaan, dan menatap Ragor. Jarak kedua wajah mereka hanya beberapa inci saja.

"SIAPA KAU?!" Tanya Skoudra pada Rogagor.

"AKU ADALAH ORANG YANG AKAN MENGHABISIMU!" WUSSHH!!! Rogagor segera menampakkan sayap naganya.

"HMM... TERNYATA KAU ANAK BUAH LEXOR!"

BUUAAAKKKHHH!!! Ekor Rogagor menampar wajah Skoudra. Tubuhnya sudah berubah sepenuhnya, namun ukurannya lebih kecil daripada Skoudra. "AKU SUDAH BUKAN LAGI ANAK BUAHNYA!!"

WUSSHH!! Skoudra pun terbang ke udara, diikuti Rogagor dalam wujud naganya.

"LALU MENGAPA KAU AKAN MEMBUNUHKU?!" BWOSSSHHH!!! Skoudra menyemburkan apinya, tapi Rogagor berhasil menghindarinya.

"KAU MEMBUAT SELURUH PENDUDUK SENTORIA HIDUP DALAM KETAKUTAN!" Bentak Rogagor sambil menubruk Skoudra. Skoudra pun terdorong dan semakin melambung tinggi ke langit. "KAU MEMBAWA MALAIKAT MAUT!!"

"ITU HANYA ALASAN!!" Bentak Skoudra sambil menginjakkan kakinya pada kepala Rogagor. Rogagor pun jatuh ke bawah, tapi dengan sayapnya ia berhasil mengembalikan keseimbangannya. "BUKANKAH KAU MENGINGINKAN DARK CRYSTAL DI PERUTKU INI?!"

"TIDAK!! AKU TAK LAGI MEMBURU DARK CRYSTAL!" DUAAKK!!! Rogagor menyundul perut Skoudra dengan tanduknya. "AKU INGIN KAU LENYAP AGAR MALAIKAT MAUT ITU TAK LAGI MEMBURU KAMI!"

ZRAATT!! Skoudra menerkam Rogagor, dan membawanya terjun ke bawah, dengan posisi Rogagor di bawah. "TUNGGU! SIAPA YANG KAU SEBUT-SEBUT MALAIKAT MAUT ITU?!"

BRRRUUUUAAAAAGGGGHHH!!!! Tubuh naga Rogagor menghujam tanah, membentuk kawah kecil di hutan itu. Mengakibatkan gempa kecil terjadi di sekitar wilayah itu.

GRUDUK... Terdengar suara gemuruh di tempat puing-puing markas Lexor.

"Suara apa ini?" Tanya Renario.

"Tampaknya berasal dari kaki gunung itu! Kita harus segera ke sana!" Yabelle segera mengusap air matanya dan berdiri, membawa serta tombaknya.

GRUDUK... Gemuruh kembali terdengar. Kali ini lebih keras daripada sebelumnya.

"Bukan, gemuruh ini... berasal dari tempat ini!" Kata Ragor.

GRUDUK!! GRUDUK!!! Mendadak tanah di tempat itu terbelah. Ragor, Yabelle, Batty, dan Renario sempat menghindar bersama beberapa prajurit FPS, namun sisanya tertelan bumi.

"KYUUUURURURURU..." Terdengar gema suara yang menakutkan dari dalam tanah yang terbelah.

"I... itu jangan-jangan..." keringat mengucur deras dari pipi Batty.

"OCTOBER?!" Seru Renario, bertepatan dengan tangan-tangan gurita raksasa yang keluar dari lubang itu, menyusul kepalanya. Salah satu mata gurita itu buta.

ZRATT!! ZRAT!! ZRAT!!! Para pasukan FPS melemparkan tombak-tombak mereka pada gurita itu. Beberapa meleset, beberapa menancap, tapi tak memberikan dampak apa pun pada gurita raksasa itu selain luka kecil. Dan satu tombak berhasil ditangkap oleh tentakel October. October pun mengayun-ayunkan tombak itu secara membabi buta, dan melukai banyak pasukan FPS.

"Sial... kita harus berhadapan dengan monster ini untuk yang kedua kalinya..." Keluh Renario.

"Tapi kali ini, tanpa Skoudra..." Tambah Batty.

Kembali ke Rogagor dan Skoudra. Rogagor kini terbaring lemah dalam wujud manusianya di atas tanah, sementara Skoudra menatap wajah Rogagor dengan mata mengancam.

"SIAPA MALAIKAT MAUT ITU?!" Tanya Skoudra dengan nada mengancam, seraya mendekatkan wajahnya ke Rogagor. Rogagor yang sudah tak berdaya tak punya pilihan lain selain menjawab pertanyaannya.

"Kata orang... ia memakai armor, mengendarai kuda berbulu api yang berkaki delapan, dan membawa sebilah pedang raksasa..." Jelas Rogagor.

"SIEGFRIED!" Kata Skoudra. "BAGAIMANA IA BISA BEBAS?!"

"Kau... mengetahuinya?" Tanya Rogagor.

"IA ADALAH DRAGON SLAYER YANG TERKUAT DI SENTORIA! MUSTAHIL ADA NAGA SETUA DIRIKU YANG TAK MENGENALNYA!" Jelas Skoudra. "TENANG, ANAK BUAH LEXOR, KALI INI AKU ADA DI PIHAKMU!"

"Aku bukan anak buah Lexor lagi!" Bentak Rogagor. "Namaku Rogagor!"

"SKOUDRA!" Skoudra pun memperkenalkan dirinya.

Tiba-tiba dari kejauhan, sebuah batu melayang dan mengenai hidung Skoudra. TAK!! Skoudra menoleh ke arah batu itu. Ternyata Frex yang melemparnya.

"PERGI DARI SINI KAU, NAGA PEMBAWA SIAL!" Bentak Frex. "LEPASKAN ROGAGOR!!" Frex melemparkan satu batu lagi. Kali ini menuju mata Skoudra. Skoudra hanya perlu memejamkan matanya untuk menangkis batu itu.

"GRRR..." Skoudra menggeram. Namun ia berusaha menenangkan dirinya. "DASAR MANUSIA BODOH! NYAWAMU DAN NYAWAKU SAMA-SAMA TERANCAM!" Bentaknya pada Frex. "MALAIKAT MAUT ITU MENGINCAR KAU DAN AKU! IA ITU GILA DARAH! TAK PEDULI SIAPA PUN AKAN DIBUNUHNYA!" Lanjutnya. "BAHKAN BILA KAU MENGUSIRKU, IA AKAN TETAP KEMARI DAN MENGHABISI KALIAN SEMUA!"

"Benarkah?!" Frex setengah tidak percaya.

Di balik pepohonan hutan yang lebat, diam-diam tersembunyi salah satu robot Lexor yang merekam dan mengkonfirmasi keberadaan Skoudra melalui mata merahnya, serta mengirimkan pesan radio ke tempat persembunyian Lexor.

BLAAMM!!! Tentakel-tentakel October menghujam bumi. Para pasukan FPS tampak semakin kewalahan menghadapinya.

"Kita tak punya banyak waktu lagi! Kita harus segera ke desa di kaki gunung itu sebelum petang!" Seru Yabelle.

"Ayah, bagaimana kalau kali ini kita mundur saja? Kita menghadapi urusan yang lebih penting daripada sekedar menghadapi seekor gurita liar yang mengamuk di tempat tak berpenduduk seperti ini!" Usul Renario.

"Kau benar, Renario. Ayah juga tengah memikirkan hal itu. Baiklah... SEMUA PASUKAN, SEGERA MUNDUR! KITA TAK PERLU MENGHADAPI MAKHLUK INI!" Teriak Yabelle lantang. Para pasukan FPS pun mulai mundur, mengikuti perintah Yabelle. Monster itu pun sama sekali tidak mengejar. Ia hanya menyerang membabi buta di tempat itu saja.

"Huff... tampaknya tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Ayo jalan!" Perintah Yabelle.

Hari pun mulai petang. Matahari sudah terbenam setengahnya di ufuk Barat, sebagaimana terlihat dari gerbang desa oleh Rogagor dan Frex.

"Frex, jika malaikat maut itu menyerang, akankah kau melawannya?" Tanya Rogagor.

"Tentu saja! Kita harus melindungi desa kita!"

"Tapi, bukankah kau takut akan kematian, Frex?"

"Ya... rasa takut memang ada dalam diriku. Sebagai manusia, adalah wajar memiliki rasa takut. Bahkan aku yakin, kau pun punya!"

Rogagor terkejut saat Frex mengucapkan itu. Ia teringat saat-saat dirinya melawan Ragor.

--------------------

"Ultimate... Dragon... Form..." Kata Rogagor pelan dengan tatapan mata yang terbelalak saat memperhatikan perubahan tubuh Ragor.

--------------------

"Tapi..." Frex memotong flashback Rogagor. "Kita harus tetap berjuang untuk hidup! Karena kita tidak hidup sendirian di dunia ini!"

"Tidak... sendiri?" Tanya Rogagor dengan suara pelan sambil menundukkan kepalanya, hingga Frex pun tidak mendengarnya.

"Ro... Rog... lihat itu!" Frex menunjuk ke luar pintu desa.

DRAP...DRAP...DRAP... Terlihat bayangan seseorang yang menunggangi kuda yang disinari cahaya senja. Begitu matahari terbenam sepenuhnya dari permukaan bumi, barulah terlihat kalau bulu tengkuk kuda yang ditungganginya menyala seperti lidah-lidah api.

"Aku tak menyangka ia tiba secepat ini!" Rogagor terkejut.

"Frex, ungsikan semua penduduk desa, SEKARANG!" Perintah Rogagor.

"BAIK!" Frex segera berlari dan memberitahukan pada setiap rumah kalau malaikat maut sudah datang. Sementara Rogagor berdiri dengan gagah berani di depan pintu desa, untuk menghadang Siegfried.

TRAP...TRAP... Siegfried menghentikan kudanya. Ia melihat Rogagor yang merentangkan kedua tangannya, sebagai isyarat 'dilarang masuk' di depan pintu desa itu.

"SIEGFRIED!" Teriak Rogagor lantang. Siegfried pun tersentak kaget, baru kali ini ada orang desa yang mengenal namanya. "TINGGALKAN DESA INI, TINGGALKAN SENTORIA, UNTUK SELAMANYA!"

"Huh... seperti aku mau mendengarnya saja... Sentoria, adalah istanaku. Dan kau, hanyalah pelayanku! Pelayan untuk pelampiasan kekuatanku yang luar biasa ini!" Siegfried menarik pedangnya dari sarungnya yang terpasang di belakang punggungnya. Meskipun sarung pedang itu hanya seukuran setengah badan saja, sarung itu mampu menyimpan pedang yang ukurannya dua kali tubuh Siegfried sendiri.

BWETTT!!! Siegfried pun mengayunkan pedangnya, tapi tidak pada Rogagor, melainkan pada gerbang desa. ZRRINNGG!!! BLEDHAAARRRR!!! Gerbang itu hancur seketika. Namun Rogagor tetap tidak bergeming dari tempatnya.

"Tidakkah kau takut kuhancurkan seperti gerbang desa itu?" Tanya Siegfried.

Rogagor tidak berkata apa-apa. Ia melangkah dengan mantap, menyongsong Siegfried. TAP! Rogagor mengubah kaki kanannya bersamaan dengan langkah kakinya. TAP! Begitu pula dengan kaki kirinya, lalu berlanjut ke ekor, tubuh, sayap, tangan, leher, dan akhirnya kepala. Saat berada tepat di hadapan Siegfried, tubuh naganya telah sempurna, dan berjalan merangkak.

"Ah... seekor naga... sungguh sajian yang tepat bagiku, seorang Dragon Slayer! Karena semua naga... akan mati di tanganku!" SRRIINGGG!!! Siegfried mengangkat pedangnya, tapi Rogagor sudah keburu menerjangnya jatuh dari atas kudanya. BRAAKK!!!

Kini Rogagor menimpa Siegfried. Ia pun bersiap menyemburkan apinya, namun tangan kiri Siegfried mencekik lehernya, dan mengarahkan kepala Rogagor ke udara. BWWOOOSSSHH!!! Semburan Rogagor pun tak berhasil mengenai Siegfried. Rogagor berusaha melepaskan cengkraman Siegfried dari lehernya dengan menapak-napakkan kaki depannya ke dada Siegfried. Tapi semua itu tak berarti. Siegfried sama sekali tak bergeming. Bahkan ia mulai bangkit berdiri dan mempersiapkan pedang di tangan kanannya untuk memenggal leher Rogagor. Rogagor meronta-ronta sekuat tenaga, tapi cengkraman Siegfried begitu kuat.

Siegfried pun mengayunkan pedangnya... SWIIINGGGG... Tiba-tiba Frex melompat ke arah Rogagor, menahan pedang itu dengan tubuhnya. CRAAASSSSSSHHH!!! Siegfried menghentikan serangannya. Darah menetes dari pedangnya yang sudah memotong setengah pinggang Frex.

"F..Frex..." Rogagor seakan tak percaya apa yang dilihatnya. Ia lalu memalingkan kepalanya pada Siegfried. "GRROOOAAAAARRR!!!!" BWOOSSSHHH!!! Semprotan api Rogagor berhasil melepaskan cengkraman Siegfried. BRUK!! BRUK!! Rogagor dan Frex sama-sama jatuh ke tanah.

"Rog... kau tahu... kau harus hidup..." Kata Frex pelan, dibarengi dengan darah yang mengalir dari mulutnya. Meskipun begitu, Frex tersenyum.

"Frex... kau... juga harus hidup!! FREX!!!"

"Aku mau hidup... tapi aku tak sanggup lagi... Jadi, kau... yang... harus... hidup... untukku..." Frex pun mulai memejamkan matanya. Nafasnya terengah-engah. "Hah... hah... hah......" Kepala Frex terkulai lemah. Frex telah meninggal dalam senyumannya.

TIK... Air mata Rogagor membasahi tangan Frex. "Frex... kini aku tahu... untuk apa aku harus hidup..." Ia pun teringat waktu ia bertarung dengan Ragor.

----------------

"Aku... harus... hidup..." Gumam Ragor. "...demi istriku yang sudah mengorbankan nyawanya... demi teman-temanku yang menungguku... dan demi Batty, anakku..." TAP! Ragor menapakkan kaki depan kanannya di atas tanah. "AKU HARUS HIDUP!!!"

----------------

"Aku... harus hidup... demi kau, Frex, demi seluruh penduduk desa, naga itu, dan juga Sentoria... AKU... HARUS HIDUP!!!" Teriakan Rogagor menggelegar. "GRRR.... GRRROOOOAAAAARRRR!!!!" Rogagor mengaum semakin lantang, seiring dengan perubahan tubuhnya. Muncul 4 tulang-tulang tajam pada ekornya, 1 pada masing-masing siku dan lututnya, dan melingkari pergelangan tangan dan kakinya. Muncul pula dua tanduk lagi di kepala Ragor, di belakang tanduk yang sudah ada.

Siegfried mulai bangkit berdiri, merentangkan tangan kanannya yang membawa pedang raksasa. "Hehehe... pertarungan ini pasti akan jadi menarik!" KLIK! Siegfried menyentikkan tangan kirinya, memberi tanda pada kudanya, Grani, yang berada di belakang Rogagor, untuk ikut menyerang. "Grani, ayo kita habisi naga ini!"

Siegfried menjejakkan kakinya pada tanah, dan melompat pada Rogagor, bersamaan dengan Grani. SRETT... BWETTT!!! Rogagor menghindar dengan gesit, melewati Siegfried dari bawah lompatannya. Dengan ekornya yang berduri, disabetnya kepala Siegfried. BUAAAKKK!!! KLONTANG!! Terlepaslah helm yang dipakai Siegfried. SRAAKKK!!! Rogagor menggesekkan kakinya pada tanah saat mendarat, untuk membalikkan tubuhnya.

Melihat tuannya jatuh terkapar, Grani segera mengambil inisiatif menyerang Rogagor. "HIEEEHEHEHE..." Ringkiknya sambil melompat ke arah Rogagor dengan gesitnya. Rogagor menyabetnya dengan tangan kanannya. JRRRAAAATTT!!! Grani terluka oleh duri-duri pada tangan Rogagor. BRRUKK!!! Grani jatuh pula ke tanah, sementara Siegfried mulai berdiri. Tanpa helm, terlihatlah rambutnya yang pirang dan panjang terurai. Wajahnya juga tampan, dan memiliki jenggot tipis di dagunya, dan juga luka baru di pipinya.

Kini matahari sudah terbenam sepenuhnya, Satu-satunya cahaya yang menerangi malam itu hanyalah cahaya bulan purnama. Rogagor dan Siegfried saling menatap. Tampak senyuman di wajah Siegfried. SRIINGGG... Siegfried memeprsiapkan pedangnya. Kali ini, ia memegangnya dengan kedua tangannya. TAP... TAP... Siegfried mulai melangkah. TAP! TAP! Langkahnya semakin cepat, hingga akhirnya ia berlari ke arah Rogagor. TAPTAPTAPTAPTAP!! BWEETT!!! Siegfried melompat...

WUSSHH!! Rogagor mengembangkan sayapnya, lalu terbang untuk menghindari serangan Siegfried. ZRRAAATTT!!! Kaki Rogagor terluka oleh pedang Siegfried.

"GRANI!!" Seru Siegfried. Grani pun segera bangkit dan menghampiri tuannya. Siegfried segera menungganginya, dan Grani pun berlari lalu melompat. BWEETT!!!

Di udara, Grani hampir mencapai Rogagor. Siegfried sudah merentangkan pedangnya, bersiap membelah tubuh Rogagor. Tapi tiba-tiba seekor naga lain menanduknya. BRRAKKK!!!

Siegfried dan Grani pun jatuh. Sementara Rogagor melihat ke arah penolongnya itu.

"SKOUDRA?"

"KUDENGAR KAU MENYEBUTKAN AKAN HIDUP DEMI AKU!" Skoudra tersenyum.

"DUA EKOR!!" Teriak Siegfried yang wajahnya terlihat makin senang. "GRANI, AYO BANGKIT!" Perintahnya. Namun Grani yang sudah terluka parah tak mampu bangkit lagi. "CEPAT GRANI!!" Bentaknya. Grani berusaha berdiri, tapi kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri. "DASAR BODOH!!" ZRRRAAAASSSSHHHH!!!

Siegfried membelah kudanya sendiri. Api di tengkuk Grani padam. Kini Siegfried sudah kehilangan akal manusianya. Matanya yang biru kini bersinar merah. Begitu pula dengan pedang yang digenggamnya. Wajahnya tersenyum dengan bengis.

"AKULAH... SANG DRAGON SLAYER!! HUAHAHAHAHAAA!!!" Tawanya sambil menyabetkan pedangnya. ZRAAAASSSHHHH!!!! Muncul sinar-sinar merah yang terbang ke arah Rogagor dan Skoudra.

"AAAAA.....!!!!" Terdengar teriakan Batty yang disertai gelombang ultrasonik, yang melenyapkan sinar-sinar merah ciptan Siegfried. Tampaknya para anggota FPS sudah tiba di tempat itu. Mereka berdiri di antara Siegfried dan kedua naga itu.

"SKOUDRA, KAU TAK APA-APA?" Teriak Renario pada Skoudra yang melayang tinggi di langit. "KAU MASIH INGAT PADAKU? INI AKU, RENARIO!"

"BOCAH... KAU MASIH HIDUP RUPANYA?" Gurau Skoudra sambil mendarat di belakang para anggota FPS.

"HAH?! Apa maksudmu 'masih hidup'?" Bentak Renario.

"Skoudra, sudah lima tahun kita tidak bertemu!" Batty menyapa.

"OH... GADIS KELELAWAR?"

"Namaku BATTY!! Jangan lupakan itu!" Bentak Batty juga.

Rogagor melihat Ragor ada bersama mereka. Ia pun mendarat di hadapan Ragor.

"Ro... Rogagor?!" Ragor terkejut melihat saingannya ternyata masih hidup.

Rogagor mengangguk. "Terimakasih, Ragor... karena kau, kini aku dapat mencapai Ultimate Dragon Form! Dan aku... kini tidak membela Lexor lagi."

"Jadi, kali ini kita di pihak yang sama?" Tanya Ragor.

"Ya," Jawab Rogagor.

"Ka... kalian, lihatlah!" Yabelle memotong acara 'reuni' tersebut. Serentak, semua orang kini menfokuskan pandangan pada Siegfried. Tubuhnya kini dikelilingi aura hitam kemerahan yang menjilat-jilat seperti api. Pedangnya diangkat tinggi ke atas dengan kedua tangannya. Matanya yang bersinar kemerahan menyorot ke depan. Mulutnya dihiasi senyum bengis.

Aura tersebut lama-kelamaan berkumpul di pedang Gram miliknya, dan berputar-putar membelitnya. "Terimalah ini..." Seru Siegfried. Serentak semuanya bersiap menghadapi serangan Siegfried. "FAFNIR WRATH!! HIAAAA!!!!!" DHUUAAAAARRRRR!!!!! Siegfried menjatuhkan pedangnya ke bumi. Tanah di depannya terbelah. Aura hitam itu berputar-putar menerjang bumi, dan meluncur ke arah Renario dan kawan-kawannya, bagaikan seekor naga yang mengamuk.

"MENGHINDAAAAARRR!!!" Teriak Yabelle. Semuanya berpencar ke samping kiri dan kanan area itu, kecuali para prajurit FPS yang kurang sigap. Mereka semua binasa menjadi debu seiring dengan tanah yang mereka pijaki. BWUSSHHH... Angin yang ditimbulkan serangan barusan menyibakkan jubah merah Siegfried yang sudah terobek-robek.

ZRRRREEEETTTT... Tiba-tiba sebuah tombak melayang menuju Siegfried. Namun dengan tangan kirinya, tombak itu tidak hanya ditangkapnya, namun diremasnya hingga hancur.

"A... APA?!" Yabelle terkejut melihatnya.

ZRAAATT!! Siegfried kini melayangkan sinar merah ke arah Yabelle. Mendadak Renario melompat ke depannya, lalu mengibaskan pedangnya yang sudah diberi kekuatan tambahan oleh Matsuthasin. ZRRREEETTT!!! Sinar hijau muncul dari kibasan pedangnya, menabrak sinar merah, sehingga kedua sinar itu sama-sama lenyap.

"HAHAHA... Boleh juga kau, bocah... tapi cobalah ini!!" ZRATT!! ZRATT!! ZRAT!! Siegfried mengibaskan pedangnya secara cepat dan beruntun. Melihat hal itu, Renario tak punya pilihan lain selain menangkisnya. TANG!! TANG!! TANG!!! Setiap satu tangkisan, tubuhnya terdorong beberapa inci dari tempatnya berdiri. TRAAANGG!!! Serangan terakhir membuat tubuhnya terpental ke belakang, sehingga menimpa Yabelle.

"Kau tak apa-apa nak?" Tanya Yabelle.

"Hanya... segini saja... ayah..." Renario segera berusaha berdiri. Pipi kanan dan kirinya mendapat luka goresan.

BWETTT!! Ragor yang sudah berada dalam wujud Ultimate Dragon Formnya melompat menyongsong Siegfried. Namun Siegfried mengacungkan tangan kirinya, dan menembakkan aura hitam ke arahnya. JDAAAARRR!!! Ragor terpental dan tubuhnya menggesek tanah. Batty segera terbang untuk membalas kekalahan ayahnya, namun sebuah tendangan melayang tepat di perutnya, mementalkan tubuhnya ke arah yang berlawanan dengan ayahnya. Giliran Rogagor yang terbang ke arah Siegfried dan menyemburkan apinya. BWOOOOSSSSSHHHHH!!!

Rogagor menyemburkan apinya terus menerus, tanpa henti, selama sekitar 10 detik. Saat ia menghentikan apinya, Siegfried masih berdiri di tempatnya, dengan wajah sedikit gosong, dengan tangan kiri teracung ke mulut Rogagor. JDAAAARRRR!!! Rogagor terpental dan jatuh, terpencar dari Ragor maupun Batty.

Melihat lawan-lawannya sudah berjatuhan, Siegfried pun akan mengakhiri pertempuran ini. Ia mengangkat pedangnya dengan kedua tangannya tinggi ke atas, dan mengumpulkan aura hitam kemerahan seperti tadi. "Sekarang... semuanya akan berakhir... HEHEHEHE..." Semuanya segera mencoba untuk bangkit dan menghentikan serangan itu. Namun sebelum mereka mendekat, Siegfried telah mengumpulkan energinya di pedangnya. "FAFNIR SLAYER!!!" Teriaknya sambil mengibaskan pedangnya berputar searah jarum jam. Energi hitam itu kini tidak lagi menghujam tanah, melainkan menyebar ke sekitar area pertempuran, dan menghancurkan sekelilingnya. Meskipun serangannya kali ini lebih lemah daripada yang tadi, sudah cukup untuk menjatuhkan Ragor, Rogagor, Batty, Yabelle, dan Renario yang mengelilinginya tepat sebelum pedang itu dikibaskan. ZRRRAAAAAAAAAASSSSSHHHHHH!!!!!!

Semuanya terpental ke segala penjuru. Ragor dan Rogagor kembali ke wujud manusianya. Renario jatuh tengkurap, dengan pedangnya terlepas dari tangannya, terlempar beberapa meter di depannya. Batty terkulai lemah di atas tanah. Yabelle pingsan dan tak sadarkan diri. Hanya Skoudra yang berada di luar area itu yang masih baik-baik saja.

"HAHAHAHAHA!!! INILAH AKHIR NASIB KALIAN JIKA KALIAN MENANTANGKU, SIEGFRIED, SANG DRAGON SLAYER!!" Tawanya bangga. "SEKARANG... KELUARLAH KAU, HAI NAGA PEMBAWA DARK CRYSTAL... KALAU KAU TIDAK SEGERA MENYERAHKAN DARK CRYSTAL, MAKA SEMUANYA AKAN KUBINASAKAN!" Ancamnya.

WUSSHH... Angin menderu di sekitar Siegfried, menggerak-gerakkan rambutnya yang pirang. WUSSHHH... Sekelebat terlihat Skoudra terbang di sekitar Siegfried, tapi begitu ia menoleh, tak tampak apa-apa. WUSSHHH!!! Siegfried membalikkan tubuhnya sambil bersiap menebaskan pedangnya, namun Skoudra tak tampak di manapun. WUSSHHHH!!!

"SIALAN!! DI MANA KAU?!" Siegfried mulai tak sabar.

Mendadak angin itu berhenti. Malam kembali tenang. Siegfried mengawasi sekitarnya, mewaspadai adanya serangan mendadak. Namun tak tampak apa-apa. Hingga akhirnya ia menatap ke atas...

"GRROOOOOAAAAAA!!!!!" Mulut Skoudra sudah terngaga, sambil menukik ke bawah. Siegfried yang terkejut tak sempat mengelak atau menangkis. Siegfried pun ditelan oleh Skoudra hidup-hidup, beserta pedang dan armornya. Skoudra perlahan mendarat di atas tanah. Semua mata menatap kepadanya.

ZRET!! Tiba-tiba Skoudra merasakan sesuatu di perutnya. Matanya melotot, dan mulutnya terbuka. "GRROOOAAARRR!!!!" Ia mengaum dengan kencang. ZRAAASSSHHH!!!! Perut Skoudra pun tersobek oleh Gram milik Siegfried. BLAAAMMM!! Leher panjang Skoudra jatuh menghantam tanah. Matanya tetap terbelalak. Perlahan-lahan, Siegfried keluar dari perut Skoudra, dengan membawa benda yang bersinar ungu kehitaman di tangan kirinya. Dark Crystal.

"A... APA?!" Semuanya terkejut.

"Kau memberiku kesempatan untuk mengambilnya dengan mudah, naga... Hahaha... HAHAHAHA!!! HAHAHAHAHA!!! Kini, keinginanku untuk menjadi penguasa dunia akan dikabulkan oleh Lexor!! HUAHAHAHAHA!!!!!" Tawa jahat terdengar dari mulut Siegfried.

"Siegfried..." Renario mulai bangkit dan mengangkat pedangnya dengan ujung masih menghadap ke bawah. Meskipun tubuhnya masih penuh dengan luka, ia berusaha berdiri. "Ini belum berakhir... serahkan... Dark Crystal itu!" Bentaknya.

Siegfried menatapnya dengan sombong, merendahkan Renario. "Kau sudah cukup mengganggu bocah... apa sebaiknya kau kuhabisi juga?"

"DIAM KAAAAUUUU!!!!!" Teriak Renario sambil berlari menyongsong Siegfried. Air matanya tercecer di setiap jejak langkahnya.

ZZRRRRIIINGGG!!! Pedang Renario menggesek tanah, lalu dikibaskannya dengan arah vertikal. ZRRRREESSSHHH!!! Cahaya hijau melayang ke arah Siegfried. Siegfried pun menangkis serangannya. TRAANGGG!! Saat pertahanan Siegfried hilang karena pedangnya digunakan untuk menangkis, Renario menyerang dari sisi samping Siegfried.

"HIAAAAA!!!!" SRRRIINGG!!! Siegfried yang menyadarinya pun segera menangkis pedang Renario. Terjadi adu pedang di tengah-tengah medan pertempuran itu. Cahaya hijau terang dan merah kehitaman terpercik ke sekitar Renario dan Siegfried.

"KAU TAK AKAN KUMAAFKAN!!" Bentak Renario, sambil memperkuat serangannya. Namun Siegfried hanya tersenyum. Ia pun memperkuat serangannya. Pedang Siegfried mulai mendorong pedang Renario meskipun ia hanya memakai satu tangan. Terus... terus... dan...

TAPP!!! Tiba-tiba Batty sudah berada di samping Renario, ikut memegang gagang pedang itu. "Demi Skoudra!!" Serunya. Namun masih saja pedang Renario terdorong oleh Siegfried.

TAPP!!! Menyusul Ragor ikut membantu Renario. "KAU TAK PANTAS HIDUP, SIEGFRIED!!" Seru Ragor. Tapi Siegfried masih lebih kuat.

"Kau pasti bisa, anakku!!" Seru Yabelle yang tiba-tiba juga bergabung, ikut memegang pedang Renario.

"Aku tahu tujuan hidupku sekarang..." Kata Rogagor yang juga ikut membantu.

"KITA TAK BOLEH KALAH!" Sahut Yabelle.

"AKU HARUS HIDUP!!!" Seru Rogagor.

"DEMI SENTORIA!!" Seru Ragor.

"DEMI SKOUDRA!!" Seru Batty dan Renario bersamaan.

"HIAAAAAAAA!!!!!" Bersama-sama mereka mulai mendorong pedang Siegfried. Siegfried tampak semakin kewalahan.

"Tidak... tidak mungkin aku kalah!! Akulah Dragon Slayer terkuat!! Akulah manusia terkuat di Sentoria!!" Siegfried tampak terkejut dalam kewalahannya. "TIDAK MUNGKIN!!! TIDAAAAAAAKKKKKKK!!!!!!!!"

"HIIIIIIAAAAAAA!!!!!" Semuanya berseru serentak. Bersamaan dengan itu, cahaya-cahaya hitam kemerahan memudar, dan cahaya hijau terang menguasai medan pertempuran.

CRAAAASSSHHH!!! Cahaya menyilaukan menyinari arena pertempuran itu. Siegfried pun terpental ke belakang. Tubuhnya menggesek tanah yang kasar. Pedangnya, Gram, terlihat retak dan tertancap di belakangnya. Meskipun begitu, Dark Crystal tetap tergenggam pada tangan kirinya. Saat Siegfried berusaha meraih pedang itu dengan tangan kanannya, tiba-tiba sebuah tombak memotong pedang itu menjadi dua bagian. Telah hadir seorang lagi ke arena pertempuran itu. Orang itu bermata merah menyala, mempunyai dua tanduk yang menembus kerudung yang dikenakannya.

"E... Eastoner?!" Seru Ragor terkejut.

"Kau telah berhasil menjalankan tugasmu, Siegfried..." Katanya. "Sekarang, katakan permintaanmu!"

"He... HEHEHE... Aku ingin menguasai Sentoria!!" Kata Siegfried.

"Oh, begitu... tapi sayangnya, Sentoria akan dikuasai oleh Eternal Darkness... sementara kau akan diberi wilayah yang cukup luas..." Jawab Eastoner. "DI NERAKA!!!" ZRAAAASSSSHHHH!!!! Eastoner menebas tubuh Siegfried yang sudah tak berdaya. Ia lalu mengambil Dark Crystal dari tangannya.

"Kalian..." Eastoner kali ini menatap pada Renario dan teman-temannya. "... tak akan sanggup menghentikan kebangkitan Eternal Darkness!" Serunya sambil memalingkan tubuhnya. Ia lalu menyimpan Dark Crystal itu di bajunya, lalu mengeluarkan sebongkah kristal lain. "Sampai jumpa!"

ZRIIINGG!!! Eastoner menghilang dari medan pertempuran.

"SIAL!! PADAHAL KITA SUDAH SUSAH-SUSAH MENGHENTIKANNYA!" Yabelle kesal.

"Tampaknya, kita harus menghadapi mereka sekali lagi..." Gumam Ragor. "Lexor Corporation..." Ragor memandang ke arah Timur, di mana matahari mulai terbit.

"SKOUDRA!!" Renario berlari menghampiri mayat Skoudra. "Maafkan kami, Skoudra... Dark Crystal itu tak sanggup kami pertahankan..." Keluh Renario sambil menitikkan air mata pada hidung Skoudra. Sementara Batty terbang ke kedua mata Skoudra, dan menutupnya satu per satu dengan perlahan-lahan.

"Istirahatlah dengan tenang, Skoudra... kau telah berhasil menjaga Dark Crystal selama ribuan tahun..." Kata Batty yang juga ikut menangis.

"Ragor..." Rogagor memanggil. "Sekali lagi, terimakasih... selanjutnya, aku tidak akan membantu Lexor Corporation lagi. Aku kini punya tujuan hidup!"

Ragor tersenyum kepada Rogagor. "Baguslah kalau begitu. Pertahankanlah tujuan hidupmu!"

"Rogagor... apakah kau tidak keberatan bergabung dengan Freedom Party of Sentoria? Kami pasti memerlukan orang hebat sepertimu!" Ajak Yabelle.

Rogagor menggeleng. "Maaf, tapi untuk saat ini, kurasa lebih baik aku menjaga desa ini terlebih dahulu. Tapi kalau kau butuh bantuan, panggil saja aku!"

"Ayah!" Batty memanggil Ragor sambil menyeka air matanya. "Ayo kita kuburkan Skoudra dan Siegfried. Mereka butuh tempat istirahat yang nyaman."

"Frex juga..." Tambah Rogagor.

"Anak-anak buahku juga.." Yabelle menambahkan. Mereka pun mulai mempersiapkan kuburan untuk mengubur jasad-jasad para korban Siegfried, dan Siegfried sendiri.

Sementara itu, di reruntuhan markas Lexor, October sudah diam tak bergerak. Ia tidak tidur, melainkan mati terbunuh dengan lubang di dahinya. Dari dahi October, perlahan-lahan muncul cairan berwarna perak yang mengucur ke bawah, lalu bergerak ke dekat sungai yang mengalir di tempat itu. Di dekat sungai, tengah berdiri seseorang yang tangan kanannya berbentuk senapan shotgun. Cairan-cairan perak itu pun masuk ke lubang peluru shotgun yang dimiliki orang itu, lalu tangan shotgunnya berubah menjadi tangan normal. Ia menoleh sehingga wajahnya terlihat dengan jelas, dan tertawa dengan keras.

"HAHAHA... HAHAHAHA... HAHAHAHAHAHAHAA!!!!"

[centre]END[/centre]




* Hosted for free by InvisionFree