|
Free Forums with no limits on posts or members. | Welcome to Gcdc. We hope you enjoy your visit.
You're currently viewing our forum as a guest. This means you are limited to certain areas of the board and there are some features you can't use. If you join our community, you'll be able to access member-only sections, and use many member-only features such as customizing your profile, sending personal messages, and voting in polls. Registration is simple, fast, and completely free.
Join our community!
If you're already a member please log in to your account to access all of our features:
|
The Last Dragon, My Latest Novel...
| V33D12AG0N |
|
The Last Dragon
    
Group: Admin
Posts: 523
Member No.: 28
Joined: 21-May 07

|
gw bikin story baru nih, judulnya The Last Dragon  Gw bikinnya niat banget nih, sampe dikasih OP, ED, BGM, gambar (nyomot dari web), dll...  selamat menikmati!! Oh iya, sebelum mulai, silakan putar ini dulu: http://www.filecrunch.com/file/~ytoe14Udah? First Shard: Contract Hujan deras membasahi daratan. Kilat dan petir yang saling bersusulan memecah kegelapan malam dan menjadikannya kian mencekam. Aku berdiri diam tak bergeming, tak bergerak, dan tak berbicara. Di hadapanku tengah berdiri seorang wanita. Ia mengenakan armor baja yang terlihat sangat berat untuk ditopang tubuh kecilnya. Namun posisi tubuhnya yang tegak, dengan menggenggam pedang raksasa pada tangan kanannya dan perisai di tangan kirinya, seolah-olah mengatakan bahwa dirinya cukup kuat untuk menopang semua itu. Helm yang dipakainya di kepalanya berbentuk moncong naga, menutupi sebagian wajahnya dari cahaya kilat yang menyambar-nyambar. Hanya seperempat bagian dari wajahnya yang terlihat olehku, dari mata kiri hingga pipi kirinya. Rambutnya yang pendek seleher, basah terkena air hujan. Sorot matanya tajam, penuh dendam, penuh kebencian, dan penuh keinginan untuk membunuh. Namun itu saja sudah cukup bagiku untuk mengenalinya. SRRIINGGG... Ayunan pedang yang bergesekan dengan tanah, meskipun tertutup suara hujan deras yang mengguyur jalan raya ini, sudah cukup untuk membuat telingaku terasa seperti diiris-iris. Tubuhku seakan lemas tak berdaya meskipun aku masih memiliki tenaga untuk menggerakkannya. Saat pedangnya terangkat ke atas, aku hanya bisa menatapnya dengan mata terbelalak. Matanya menatap mataku. Mata kami sama-sama tak berkedip walaupun air hujan berkali-kali membasahi mata kami. Namun yang ada di mataku tak hanya air hujan. Air mataku yang membaur dengan air hujan ikut turun ke pipi, ke dagu, lalu menetes ke atas aspal jalan. Sebelum deraian air mataku tepat bertumbukan dengan aspal, pedang wanita itu pun bergerak secepat kilat yang menyorot wajah kami. Nyaris tak masuk akal untuk seorang gadis seperti dia mampu menggerakkan pedang seberat ini dengan kecepatan luar biasa seperti ini. Tepat saat air mataku menitik di atas aspal, pedang itu pun terayun ke wajahku diiringi suara petir yang menyambar dengan dahsyatnya... CTAAAARRRR!!!! ------------------------------ 1 tahun yang lalu... Malam yang kelam, bulan enggan bersinar. Meskipun begitu, sorot-sorot lentera dari gedung-gedung tinggi yang berdiri tegak sudah cukup untuk memeriahkan malam. Suara burung malam berkumandang, bersahutan dengan deru kendaraan yang menyapu jalan beraspal. Semakin mendekati tengah malam, makin sedikit lentera-lentera kendaraan manusia yang bersimpang-siur kesana-kemari pada hari ini. Hari di mana manusia masih bekerja dengan giatnya. Mereka tak mau menyia-nyiakan tenaga mereka dengan mengendarai kendaraan mereka malam-malam. Mereka hanya menggunakan kekuatan mereka sepenuhnya untuk mengerjakan pekerjaan sehari-harinya, yang dapat mendatangkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Egois, lemah, dan tamak. Itulah manusia. Makhluk yang kini menjadi penguasa tunggal di muka bumi. Belum cukup dengan itu, mereka saling berebut wilayah satu sama lain dengan senjata-senjata yang mematikan. Saling mengancam, saling melukai, saling menyakiti, bahkan saling membunuh. Benar-benar makhluk paling hina dan kejam yang pernah kulihat. Aku merasa muak harus menjadi salah satu dari mereka hanya untuk berada di sini. Aku kini sedang duduk di atap sebuah gedung yang tertinggi di daerah ini. Melihat ke bawah, memandang ke arah para makhluk hina itu dari atas. Mereka lemah, namun mereka sangat berbahaya. Para leluhurku binasa oleh karena ketamakan mereka. Kedua orangtuaku binasa karena mereka. Semua sanak saudaraku binasa juga karena mereka. Kini, hanya tinggal aku sendiri di bumi ini. Akulah Grevaedon Silvings... [center] THE LAST DRAGON[/center] Suara bising memekakkan telingaku. Suara yang mirip terompet itu terus berkejaran ke sana kemari dengan nada yang berbeda-beda, diiringi suara geraman yang entah mirip geraman makhluk apa. Di balik semua suara itu, suara gaduh manusia yang berbicara satu sama lain juga membuat telingaku geli. Aku sekarang berada di tengah-tengah hiruk-pikuk manusia yang berlalu-lalang kesana kemari. Kusandarkan punggungku ke dinding sebuah bangunan yang sangat tinggi Dunia manusia telah berubah pesat, berbeda sekali dengan yang diceritakan ayah dan ibuku, yang pernah berkunjung ke dunia manusia kira-kira seribu tahun yang lalu. Mulai dari cara mereka berpakaian, cara mereka mengikat rambut, cara mereka berjalan, bahkan hingga cara mereka berinteraksi satu sama lain. Beberapa di antara mereka berbicara sendiri dengan benda berbentuk kotak sebesar kepalan tangan yang ditempelkan ke telinga mereka. Benar-benar makhluk yang aneh. Aku menggerakkan kepalaku ke kanan, melihat ke balik dinding transparan suatu gedung. Di dalamnya ada beberapa manusia saling berbicara satu sama lain. Aku juga melihat kendaraan 'baru' manusia di dalam sana. Kendaraan yang bukan berupa kereta berkuda ataupun hewan lain. Kendaraan ini terbuat dari logam, dengan dinding-dinding transparan dan benda-benda yang dapat bersinar seperti lentera, tapi bukan lentera. Mereka terlihat berbicara satu sama lain. Aku pun berusaha mendengarkan apa yang mereka katakan. "Mobil ini harganya berapa?" Tanya seorang lelaki. Oohh... jadi kendaraan itu disebut mobil? Belum selesai kudengarkan percakapan mereka, aku mendengar suara yang mengagetkanku dari depan. "HEY!" Teriak orang itu. "Lampu yang berada di atasmu rusak, kami harus menggantinya!" Aku pun menyingkir sambil bertanya-tanya dalam hati, apa itu lampu? Aku pun memperhatikan orang itu. Ia mengambil tangga dan memanjat ke atas dinding tempatku bersandar tadi. Ia mengambil sebuah benda dari langit-langit, lalu menggantinya dengan benda yang mirip. Lalu ia masuk ke dalam gedung, dan tak lama kemudian benda itu berpendar seperti lentera. Oohh... aku sekarang mengerti yang ia maksud dengan 'lampu'. Aku kemudian berjalan menjauhi tempat itu, menuju ke sebuah tempat yang sepi, di mana aku bisa membuka peta rahasia yang ditinggalkan pembunuh ibuku empat puluh tahun yang lalu. Balas dendam. Itulah motivasiku mengunjungi kota yang disebut-sebut Jakarta ini. Belum sepuluh langkah aku berjalan, tiba-tiba seseorang memegang bahu kiriku. Kulihat tangan itu mengenakan sarung tangan berwarna hitam. Aku pun melihat ke arah wajah orang itu. Ia mengenakan penutup mata hitam dan penutup mulut, serta topi. "Naga, ikutlah denganku!" Ajaknya dengan suara parau. Naga?! Ia tahu kalau aku adalah seekor naga? Ia pasti bukan orang sembarangan! Aku harus berhati-hati, kalau-kalau ini jebakan. Saat aku berpikir, tiba-tiba ia sudah berada di depanku, dan berjalan mendahuluiku. Aku pun segera mengikutinya dengan tangan terkepal, siaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi. Ia membawaku ke sebuah lorong sempit yang diapit dua bangunan tinggi. Lorong itu bau, becek dan buntu, serta penuh sampah yang dibuang manusia. Saat aku masuk ke dalamnya, ia sudah berdiri menghadapiku. Ia mengangkat tangannya ke atas, mengakibatkan tanah yang ada di belakangku, yang merupakan batas antara tempat ini dengan luar, naik beberapa kaki. Melihat situasi yang tidak menguntungkan aku segera melompat maju untuk menyerangnya. Tak kusangka, ternyata ia hanya menahan pukulanku dengan tangan kanannya, namun tidak membalasnya. Ia mencengkeram tanganku begitu kuat hingga aku kesulitan menariknya. "APA MAUMU?!" Bentakku. "Kau yang sekarang, sedang dipenuhi kebencian yang mendalam kepada manusia bukan?" Sindirnya sambil tersenyum, sedikit memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Aku diam saja, tak berekspresi. Memang, apa yang dikatakannya benar. Namun aku enggan mengakuinya karena itu akan menurunkan harga diriku. Di sisi lain, aku juga enggan menolaknya karena hal itu memang benar, dan aku tidak suka membohongi diriku sendiri. Jadi, pilihan yang terbaik hanyalah diam. "Hehehe..." Iblis itu terkekeh pelan. Ia pun melanjutkan perkataannya, "Kebetulan sekali, Aku kemari untuk membicarakan sebuah kontrak..." Ia pun melepaskan tangan kananku setelah yakin aku akan diam selama ia tidak macam-macam. "Kontrak apa?" Tanyaku heran. "Yang Mulia Lucifer menginginkan kau menjadi jenderalnya. Dia menawarkan kesempatan untuk membalas dendam pada semua manusia apabila kau mengambilnya!" Jelas iblis itu kepadaku. "Balas dendam..." Gumamku pelan. Ya, ini bisa menjadi kesempatan yang baik bagiku. Aku mendapatkan kekuasaan, kehormatan, sekaligus kesempatan untuk membalas dendam! Tapi tunggu dulu. Benarkah kenyataannya akan semulus itu? Bicara mengenai Lucifer, ia adalah makhluk yang paling licik dan paling jenius di neraka. Apakah ia dapat dipercayai? Tidak sama sekali. Tanpa Lucifer, aku dapat melancarkan aksi balas dendamku sendiri. Jadi, kenapa harus menjadi anak buah Lucifer? Lagipula aku paling tidak suka bila posisiku berada di bawah makhluk lain, apalagi iblis jahanam seperti dia. "TIDAK!" Jawabku lantang. "Mengapa tidak? Ini adalah kesempatan yang tepat bagimu! Bukankah tawaran ini sangat menguntungkanmu? Bila aku berada dalam posisimu, maka akan kuambil tawaran ini!" Iblis ini menguatkan tawarannya. Namun terlambat. Bagiku, sekali tidak, tetap tidak. "Maaf, tapi kurasa Lucifer terlalu licik untuk dipercayai!" Jawabku sinis. Aku tahu betul seperti apa Lucifer itu. Ia sangat ahli dan bahkan jenius dalam menerapkan strategi-strateginya. Ia menawarkan kesempatan yang sepertinya sangat menguntungkan, namun di balik semua itu, pasti pada akhirnya juga hanya menguntungkan dirinya sendiri saja, tanpa satu pun keuntungan bagiku. "Kalau begitu, terpaksa kujalankan rencana B..." katanya sambil berjalan menjauh dariku. Setelah beberapa langkah, ia pun berhenti, lalu berpaling ke arahku. "MEMBINASAKANMU!" Tangan kanan iblis itu memanjang dan melesat ke arahku, tepat mencekik leherku. Ia pun melemparkanku ke udara. Namun sebelum gravitasi sempat menjatuhkan tubuhku kembali ke tanah, iblis itu sudah terbang ke sambingku, menendang tubuhku keras-keras hingga jatuh di atas gedung yang tinggi itu. Saat aku mencoba bangkit, tiba-tiba pukulan tangan panjang iblis itu meluncur ke arah kepalaku. Secara refleks, aku pun menekuk punggungku dalam posisi setengah kayang untuk menyelamatkan kepalaku. Sedetik kemudian, ia sudah berada tepat di sampingku. Kakinya menjegal pijakanku. Dan sebelum tubuhku jatuh menghantam atap gedung itu, ia menambahkan pukulan di dadaku yang menghempaskanku kembali ke lantai gedung bertingkat ini. Aku terkapar, meninggalkan retakan cekung di atap gedung itu. Tangan kanan iblis itu masih menancap di dadaku. Aku pun tersenyum puas. Sudah lama aku menantikan pertarungan seru seperti ini! Kuraih tangannya yang masih menempel di dadaku dengan kedua tanganku. Saat kualirkan energi yang dahsyat melebihi energi manusia ke tanganku, tanganku pun mulai berubah bentuk. Tangan manusiaku yang kurus otot-ototnya mulai membesar, serta muncul sisik-sisik naga menghiasi kedua tanganku dari bahu hingga ujung jari. Sementara tangan kiriku masih memegang erat pergelangan tangannya, tangan kananku menggenggam lengannya. Lalu kulemparkan iblis itu ke belakang sekuat tenagaku. BLEDHAAARRR!!! Tubuhnya menghantam atap gedung. Aku pun berdiri, lalu berjalan dengan lamban menghampirinya, berusaha memperpanjang pertarungan. Kenapa? Ya, karena aku menyukai pertarungan. Aku tak ingin pertarungan ini cepat-cepat berakhir dengan mudah. Tanpa kusadari, tiba-tiba tangan kanannya yang memanjang sudah meraih kaki kananku. Otomatis aku pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Pada saat itulah ia mulai bangkit, lalu membanting tubuhku ke sebelah kiri tubuhnya. BLAAAMMM!!! Wajahku menghantam lantai gedung. Belum sempat aku menyelesaikan nafasku, ia sudah membanting tubuhku lagi ke arah kanannya. BLAMM!!! Kemudian dipendekkannya tangan kanannya sekaligus menyeret wajahku menyerempet lantai puncak gedung yang kasar. Kini tangan kirinya ikut menggenggam kaki kananku. Tak lama kemudian, ia memutar-mutar tubuhku beberapa kali di udara, lalu melemparkanku dengan bebas ke arah langit. Ia pun terbang menyusulku ke angkasa. Saat tubuhku sudah menembus beberapa awan, ia pun terlihat. Tangannya kembali memanjang untuk melayangkan pukulan ke wajahku... GRAB!! Aku berhasil meraih tangannya dengan kedua tangan nagaku. Inilah kesempatanku! Di balik awan-awan ini, tentu tak ada manusia yang dapat melihatku. Di sinilah aku dapat berubah sepenuhnya. Mendadak seluruh otot tubuhku membesar, sisik-sisik bermunculan di sekujur tubuhku. Mulut dan hidungku memanjang menjadi moncong. Gigi-gigi manusiaku berubah menjadi gigi-gigi tajam. Sayap dan ekor pun tumbuh pada tubuhku. Kulit sisikku berubah warna menjadi hitam dengan sedikit motif merah. Kini aku telah berubah menjadi seekor naga sepenuhnya. Tangan kiri iblis itu pun memanjang untuk menyerangku. Sayangnya aku sudah menyadarinya terlebih dahulu. Kucambuk tangan kirinya dengan ekorku. Dengan memanfaatkan tangan kanannya, aku pun terbang mendekati iblis itu. Kucekik lehernya dengan tangan kanan, kubelit kakinya dengan ekorku, lalu aku pun menengadah, mempersiapkan 'finishing touch'... "GRRAAAA..." BLAAAAAARRRRR!!!! Semburan apiku membakar wajahnya. "AARRRGGGHH!!! ARRRGGGHHH!!!" Erangnya kesakitan. Aku pun melepaskan belitan dan cekikanku. Api yang membakar kepalanya pun meluas hingga ke seluruh tubuhnya, hingga akhirnya... DHUAAARRRR!!! Tubuhnya hancur berkeping-keping. Setiap kepingan tubuhnya yang akan jatuh terbakar hingga lenyap tak bersisa. Di balik kepingan-kepingan yang terbakar itu. aku pun mengembalikan wujudku menjadi manusia, masih dengan sayap tentunya, agar aku masih dapat melayang di udara. "Lucifer, kau juga kejam seperti manusia... namun kau lebih licik dan jenius. Apa yang sebenarnya kau harapkan dariku?" Gumamku pelan sambil menatap puing-puing iblis itu. Aku mengepakkan sayapku, lalu mendarat kembali di puncak gedung itu dan melenyapkan sayapku. "Sekarang, di mana aku?" Tanyaku pada diriku sendiri sambil merogoh kantongku, berharap menemukan sebuah peta di dalamnya. Setelah kutemukan, kubuka peta itu lebar-lebar, dan kubandingkan dengan daerah sekitarku. "Gedung ini... terletak di sebelah sana," gumamku setelah mengamati peta itu. "Ibu, pasti akan kubalaskan dendammu!" Kataku sambil meremas peta yang baru saja kulihat. To Be Continued... Nah... setelah selesai baca, putar yang ini: http://www.filecrunch.com/file/~5yum89
|
|
|
| V33D12AG0N |
|
The Last Dragon
    
Group: Admin
Posts: 523
Member No.: 28
Joined: 21-May 07

|
Second Shard: Flute
Benar-benar membuang waktu. Sebenarnya dari puncak gedung itu, kalau aku dapat mengeluarkan sayapku dan terbang, tentu lebih menghemat waktu daripada harus turun dari gedung dan berjalan menuju gedung apartemen yang sebenarnya berjarak dekat itu.
Begitu aku tiba di depan pintu apartemen yang kutuju, kubuka lagi petaku, kupastikan kalau apartemen ini yang kumaksud. Kemudian, barulah aku mengetuk pintu.
"Ya, sebentar..." Suara seorang gadis terdengar dari dalam apartemen itu.
Tunggu dulu... seorang gadis? Ah, pasti aku salah alamat. Tak mungkin ibuku yang telah tewas hampir 40 tahun lalu dibunuh oleh seorang gadis yang belum lahir saat itu. Kucek lagi petaku untuk memastikannya. Tak ada yang salah...
Pintu itu dibuka. Terlihat seorang gadis manis berambut hitam panjang, berkulit mulus, dan bertubuh kurus berdiri di hadapanku. Ia memakai baju kaos dan celana pendek.
"Nona, apakah Bapak Clamory tinggal di sini?" Tanyaku dengan ramah.
"Bapak Clamory?" Gumamnya sambil mengarahkan pandangannya ke atas untuk berpikir, kukira ia sedang mengingat-ingat sesuatu. "Bapak Clamory itu... pemilik apartemen ini sebelumnya ya?" Tanyanya kembali.
"Mungkin begitu..." Jawabku. Sial! Apa dia sudah pindah?
"Kalau pemilik apartemen ini sebelumnya baru saja meninggal tahun lalu..." Jelasnya.
Apa?! Meninggal tahun lalu? Sialan! Kalau saja aku datang ke sini lebih awal...
"Karena ia tak memiliki sanak saudara, ia kemudian mewariskan apartemen ini kepadaku dengan cuma-cuma karena aku kuliah di dekat sini, dan kehabisan tempat kos," jelas gadis itu.
Aneh juga. Kenapa gadis ini tidak mengenal orang yang memberinya apartemen?
"Kalau begitu, kenapa kau terlihat tidak begitu mengenal Pak Clamory?" Tanyaku kepadanya.
"Entahlah... aku juga bingung, kenapa bapak itu tiba-tiba mewariskan apartemen ini kepadaku. Padahal semasa dia hidup, kami belum pernah bertemu, apalagi saling mengenal. Begitu ia mendengar dari tetangganya bahwa aku sedang mencari tempat kos, ia segera membuat surat wasiat, lalu meninggal beberapa hari sesudahnya..." Jelas gadis itu.
Huh... tampaknya sudah tidak ada penjelasan yang berarti lagi. Sebaiknya aku segera pergi dari sini dan mengurusi urusan lain. "Jadi begitu... Terimakasih, nona. Permisi..." Aku segera berbalik dan melangkah pergi.
Ah... benar-benar perjalanan yang tidak berguna. Aku sudah susah payah bertahun-tahun kemari hanya untuk menyelesaikan masalah kedua orangtuaku yang telah tiada. Mereka berdua dibunuh oleh para manusia yang kejam dan penuh hawa nafsu.
Seperti biasa, untuk melampiaskan kekesalanku, aku berjalan menaiki tangga darurat menuju puncak gedung ini untuk duduk menyendiri, menikmati semilirnya angin dan menonton kegiatan para manusia bodoh di bawah sana.
DUK. Kakiku menyandung sesuatu yang tergeletak di atap gedung apartemen itu. Aku pun menundukkan kepalaku untuk melihat benda apakah itu. Sebuah seruling bambu. Seruling itu sudah retak sedikit, namun sepertinya masih dapat dimainkan. Memainkan seruling? Ya, itu akan menjadi hal yang sedikit menghibur daripada hanya diam saja di atas gedung seperti ini.
Dan aku pun mulai memainkan seruling itu. Alunan seruling yang kumainkan memadu dengan semilir angin yang berhembus di puncak gedung ini. Nada-nada yang kupilih menggugah semangat untuk terus bertahan hidup. Aku tak ingin mati, aku tak boleh mati, dan aku tak akan mati. Aku harus meneruskan hidupku sebagai bangsa naga yang kuat dan berani. Lagu inilah yang memberiku kekuatan untuk bertahan hidup sampai saat ini.
PLOK! PLOK! PLOK! Suara tepukan tangan kecil terdengar dari belakang setelah permainanku usai. Suara tepukan sekecil ini tak mungkin terdengar dari seorang pria. Pastilah dari seorang wanita. Aku pun memalingkan kepalaku untuk memastikan siapa yang bertepuk tangan itu.
"Hai... permainan serulingmu bagus juga..." Komentarnya sambil tersenyum manis. Ternyata ia gadis yang tadi baru saja kutemui.
"Ya begitulah..." Jawabku. "Tapi, bagaimana kau dapat mendengar suara serulingku? Seharusnya suara serulingku tak terdengar bahkan dari lantai teratas apartemen ini!" Tanyaku penasaran.
Gadis itu menggeleng. "Bukan, bukan dari suara serulingmu. Aku kadang-kadang juga suka berada di puncak gedung sendirian seperti ini, menikmati angin semilir yang berhembus di sore hari," jawabnya. "Oh iya, siapa namamu?" Tanyanya sambil mengulurkan tangan kanannya. Aku mengenal adat manusia seperti ini. Mereka saling bertukar nama dengan mengulurkan tangan seperti ini. Aku pun mengulurkan tangan kananku agar bersentuhan dengan tangan kanannya.
"Grevaedon," jawabku.
"Rosseta Drugis, panggil saja Rose," balasnya sambil meremas tanganku dengan lemah. Aku memang sering melihat manusia saling berjabat tangan, tapi aku baru tahu kalau mereka saling meremas tangan saat berkenalan. Tidak meremas dengan tenaga, tapi hanya dengan lemah lembut... ya mungkin seperti ini...
"Aww..." Gumamnya pelan sambil cepat-cepat menarik tangan kanannya. Mungkin aku terlalu keras meremasnya?
"Maaf..."
"Tidak apa-apa," katanya sambil tersenyum lagi. "Oh iya, boleh kulihat serulingmu?" Tanyanya sambil mengulurkan tangan kanannya lagi.
Aku pun memberikannya seruling itu. Ia membolak-balik seruling itu dan mengamatinya, sementara jari kanannya menelusuri jejak retakan yang ada di seruling itu.
"Ini... jangan-jangan seruling pemberian kakekku yang hilang saat aku datang ke sini pertama kali dulu?" Tanyanya pada dirinya sendiri sambil membolak-balik posisi seruling itu.
"Kakekmu pandai memainkan seruling?" Tanyaku.
"Tidak... aku tidak tahu. Aku tak pernah mendengarnya bermain seruling sewaktu beliau masih hidup dulu. Tapi katanya ini barang berharga yang harus dijaga," jelasnya sambil terus menatap seruling itu. "Sepertinya ini memang seruling pemberian kakekku. Di mana kau menemukannya?" Tanyanya sambil memalingkan wajahnya ke arahku.
"Di sekitar tempat ini," jawabku.
"Aneh... padahal kemarin aku ke sini tidak menemukan apa-apa..." Ia memandangi seruling itu sekali lagi. "Oh iya, ngomong-ngomong, sejak kapan kau belajar bermain seruling?"
"Kira-kira sera... err... sepuluh tahun yang lalu..." Aku hampir kelepasan bicara. Bisa gawat nantinya kalau ia mengetahui jati diriku yang sebenarnya. "Ayahku yang mengajariku memainkan lagu ini, 'Angin Keberanian'". Kataku sambil menatap ke arah barat, matahari sudah mulai terbenam.
"Nih, serulingmu!" Katanya sambil menyerahkan seruling itu kembali padaku.
"Lho? Bukannya seruling ini warisan kakekmu?" Tanyaku heran. Ia lebih berhak memilikinya daripada aku, kan?
"Tidak apa-apa, kau lebih bisa memainkan seruling ini daripada aku. Seruling itu lebih berguna jika kau yang memilikinya," jawabnya lembut. "Oh iya, sudah mulai malam nih, aku harus menyelesaikan PR-ku! Sampai jumpa!" Katanya sambil berdiri, membersihkan celananya, lalu mengayunkan tangan kanannya beberapa kali bolak-balik ke kiri-kanan. Ini pasti gestur perpisahan, pikirku. Aku masih ragu untuk mengikuti tradisi manusia yang satu ini dibandingkan berjabat tangan. Entah kenapa, rasanya aneh saja menggerakkan tangan ke kiri-kanan seperti itu.
Aku pun kembali duduk mengamati seruling itu. Aku pun teringat kembali pada masa aku masih kecil, tinggal bersama ayah dan ibuku di sebuah gua yang terpencil di tengah hutan. Ayahku suka berdiri di puncak gunung dengan wujud manusianya hanya untuk memainkan seruling yang dirakitnya sendiri dari pohon bambu yang banyak tumbuh di pegunungan tempat kami tinggal.
Namun saat aku masih berusia sekitar 25 tahun, ada seorang manusia bersama kawan-kawannya yang memasuki gua tempat tinggal kami, hanya untuk memburu tanduk ayah. Ayah pun memerintahkan aku dan ibu agar segera lari ke hutan di sekitar gua itu, sementara ayah bertahan di dalam gua tempat tinggal kami. Beberapa saat kemudian, kami mendengar suara lolongan ayah menggelegar dari dalam gua. Kami pun segera kembali.
Pada saat kami kembali, kami mendapati ayah telah tergeletak tak bernyawa di mulut gua dalam wujud naganya...
Ah, sial! Kenapa aku mengingat ingatan yang buruk seperti ini? Sebaiknya aku memainkan serulingku lagi untuk menenangkan diri. Namun tepat saat aku meniup serulingku, sebuah suara memotong permainanku...
"Kikikikikik..." Kali ini suara cekikikan terdengar dari belakang. Bukan suara manusia tentunya. Aku segera menghentikan permainan serulingku dan menatap ke belakang...
Seekor Imp! Iblis kecil tingkat rendah yang diciptakan Lucifer berdiri tepat di belakangku, namun tak tampak seperti sedang memperhatikanku.
Ukuran tubuhnya kira-kira hanya satu sampai satu setengah meter. Di kepalanya terdapat sebilah tanduk berwarna perak, sementara kulitnya merah dengan bercak-bercak menjijikkan berwarna pucat.
"Kikikikik..." Ia terkikik lagi. Lalu ia pun melompat-lompat kecil menuju sudut puncak gedung, akhirnya menjatuhkan dirinya dari gedung ini...
Tidak! Ia tidak jatuh, tapi terbang ke suatu tempat. Ternyata tidak hanya satu, tapi beberapa... puluhan... ratusan... bahkan ribuan imp berkumpul di satu tempat, dan saling tumpuk-menumpuk satu sama lain hingga setinggi gedung-gedung bertingkat. Lama-kelamaan dari tubuh mereka terpancar cahaya hitam keunguan... oh sial... mereka akan bergabung dan membentuk seekor iblis baru...
"LEGION!"
TO Be Continued...
|
|
|
| V33D12AG0N |
|
The Last Dragon
    
Group: Admin
Posts: 523
Member No.: 28
Joined: 21-May 07

|
Di seri ini gw menerapkan apa yang disebut dengan "NYAMPAH" n "GANGBANG"  Third Shard: Michael "LEGION!" Seberkas suara pria yang anggun terdengar dari samping kananku sempat membuatku sedikit terkejut. Aku pun segera menoleh untuk melihat siapa yang mengejutkanku. Pria yang berdiri di sampingku berambut pirang gondrong dan bermata biru. Pada punggungnya terdapat 3 pasang sayap yang berwarna putih dan berbulu putih bersih seperti bulu angsa. Kulitnya putih dan mulus. Ia mengenakan pakaian bergaya Hebrew kuno yang berwarna putih, dengan selendang merah yang membalut diagonal dari bahu kanan hingga pinggang kirinya. Sedikit di bawah selendang itu, terdapat sebilah pedang yang terselip di antara sabuk dengan selendangnya. Tubuhnya tinggi, bahkan lebih tinggi dariku. Di tengah-tengah sabuknya terdapat lempengan emas yang berukir gambar salib yang dibelit ular berkepala singa. "Mi... Michael?!" Kataku setelah beberapa saat terdiam karena terkejut akan kedatangannya yang tiba-tiba. "Grevaedon, bukan?" Tanyanya dengan lembut. Aku mengangguk. Tapi kemudian aku tersadar, pastilah dia kemari karena merasakan hawa jahat yang ditimbulkan oleh 'Legion' itu. Dan sebentar lagi, pasti ia menganjurkanku untuk segera menyingkir karena ini bukan urusanku. "Berlindunglah, Grevaedon. Aku telah diutus Demiurge untuk membasmi iblis-iblis ini!" Heh... benar saja tebakanku. Sebenarnya aku sebal kalau disuruh-suruh seperti itu. Tapi memang sebenarnya sudah keinginanku untuk tidak turut campur dalam pertarungan ini. Ini urusan para malaikat dan iblis, bukan naga. Aku pun segera mundur dan duduk kembali di atas bagian menonjol dari puncak gedung itu untuk menyaksikan pertarungan mereka. Michael sebenarnya sudah pernah bertemu beberapa kali denganku, itulah mengapa aku mengenali wajahnya. Ia adalah salah satu Archangel bawahan Demiurge yang setia. Dalam pertarungan-pertarungan melawan iblis, ia selalu diturunkan untuk memimpin pasukan. Para manusia pasti menganggap ia adalah makhluk yang baik, pengasih, dan pelindung. Tapi menurut pandanganku, ia hanyalah 'boneka' yang dikendalikan sepenuhnya oleh Demiurge Deus, makhluk yang mengaku sebagai pencipta alam semesta ini. Ia menurut semua perintah Demiurge tanpa disaring terlebih dahulu. Ia selalu berpikiran apa pun yang diperintahkan Demiurge adalah baik. "Wahai iblis... aku telah mendapat perintah dari Lord Demiurge untuk membinasakanmu!" Teriaknya lantang sambil mengacungkan pedangnya ke depan. Michael pun segera mengepakkan keenam sayapnya, dan terbang secepat kilat ke arah Legion. Sesaat kemudian, awan-awan hitam di kala malam yang menutupi langit pun terbuka. Dari langit terlihat cahaya yang bersinar terang. Dari dalam cahaya itu muncullah ratusan malaikat-malaikat lain yang bersayap dua, dengan senjata mereka masing-masing. Ada yang membawa busur dan panah, tongkat, golok, pedang, tombak, perisai, bahkan ketapel. Tak lama kemudian, cahaya menyilaukan pun memancar dari tubuh iblis raksasa yang berwarna hitam menjijikkan dengan lendir di sekujur tubuhnya itu saat pedang Michael menebas perutnya. CRAASSSSHHH!!! Serentak, para malaikat-malaikat lain segera menyerang makhluk raksasa itu dengan senjata mereka masing-masing. "KHEEEKHEKHEKHEKHEKHE...." Iblis itu malah tertawa geli saat serangan-serangan malaikat menerpa tubuhnya. Suaranya terdengar seperti ribuan makhluk berbicara pada waktu bersamaan. Iblis itu lalu mengambil kuda-kuda, lalu di sekujur tubuhnya muncul sulur-sulur hitam pekat dan berlendir yang menghajar semua malaikat yang terbang mengitarinya. Malaikat-malaikat itu pun jatuh berdebam di atas tanah, kecuali Michael yang gerakannya jauh lebih lincah ketimbang malaikat-malaikat lain. Meskipun sulur-sulur hitam itu mengejarnya ke sana kemari, ia tetap dapat menghindarinya dengan lincah dan gemulai. Pedangnya berkilau memantulkan cahaya-cahaya lampu kota Jakarta saat ia mengambil posisi untuk menyerang monster itu. Saat sulur-sulur itu mereda, Michael terbang dengan tenang, menggenggam pedangnya dengan kedua tangannya, lalu menariknya di dekat bahu kanannya bersamaan dengan diangkatnya kaki kirinya. Sesaat kemudian, iblis itu pun melancarkan semua sulurnya serentak untuk menghabisi Michael. Namun Michael jauh lebih cepat. Ia sudah melesat jauh ke depan saat sulur-sulur itu berbenturan satu sama lain. Tubuhnya diselimuti cahaya keemasan, dan pedangnya pun berubah menjadi pedang api yang berkobar dengan indahnya karena hembusan angin saat ia bergerak dengan cepat ke depan. "HEEEEAAAAA!!!!!" ZRAAASSSSHHHH!!! Michael berhasil menembus tubuh iblis itu. Ia berhenti sejenak mempertahankan kuda-kudanya di belakang iblis itu. Cahaya yang menyelimuti tubuh dan pedangnya membekas secara horizontal di udara sebelum menghilang beberapa detik kemudian. Perut iblis itu terlihat berlubang, dan dari lubang itu terpancar cahaya keemasan seperti cahaya pada tubuh Michael. "KRRAAAAAHHH!!! KHHHUUUU..." Iblis itu mengerang kesakitan sambil meraih perutnya. Namun, pada saat yang bersamaan, sulur-sulur mulai muncul dari lengannya. Sulur-sulur itu pun segera melesat ke arah gedung-gedung bangunan di sekitarnya, memecahkan kaca-kaca bangunan. PYAARRR!! PYARRR!! PYARRR!!! Setelah ditarik kembali, sulur-sulur itu membawa tubuh manusia, dan makin kencang mengikat mereka. Jeritan dan pekikan kesakitan pun terdengar. Sesaat kemudian, dari mulut manusia-manusia itu muncul iblis-iblis kecil, Imp, yang merangkak dari sulur masuk ke lubang yang dibuat Michael. Dalam waktu singkat, lubang itu pun tertutup kembali. Manusia-manusia yang terikat sulur itu sebenarnya masih hidup, karena Imp tidak merusak tubuh fisik mereka. Namun Legion menjatuhkannya begitu saja, hingga tubuh mereka hancur lebur membentur aspal jalanan. Aku sama sekali tak merasa kasihan pada mereka. Mereka adalah manusia yang rakus, gila harta, dan kejam. Mereka pantas mendapatkan itu semua. Namun ada sesuatu di hatiku yang mengganjal. Entah apa itu. "KRRAAAAA!!!" Iblis itu pun puas menghisap energi jahat Imp untuk memperbaiki lukanya. "SLURPP!!!" Ia membasahi bibirnya dengan lidahnya. Kemudian ia pun berbalik dengan berdebam-debam karena tubuhnya yang besar, menatap Michael yang telah bersiap-siap menyerang lagi. Beberapa malaikat lain juga terlihat mulai bangkit dan memasang kuda-kuda. "SERAAANGG!!" Perintah Michael pada malaikat-malaikatnya. Mereka pun segera melesat ke arah iblis itu. Namun iblis itu menggerakkan tangan kanannya untuk menghalau malaikat-malaikat yang menyerangnya. Namun Michael telah terbang melesat terlebih dahulu untuk memotong tangan kanan iblis itu. BLAAAMMM!!! Potongan tangan itu jatuh ke bumi, dan langsung berubah menjadi Imp-Imp yang berlarian ke segala penjuru. Ada beberapa dari mereka yang menabrak satu sama lain, dan sama-sama terjatuh. Namun mereka seakan tak peduli, kembali bangkit, dan meneruskan ke arah mana ia berlari. Aku langsung menyadarinya. Imp ini mewakili sifat manusia yang egois, yang tak mau mengalah satu sama lain. Mereka hanya mementingkan diri sendiri saja. Buktinya, mereka tidak kembali bersatu menjadi tubuh Legion dengan kesadarannya sendiri, meskipun jika mereka mau, mereka dapat memulihkan tangan Legion yang putus. Namun, Legion tak terlihat terkejut ataupun takut akan serangan Michael. Karena di sini, ia akan mendapatkan cukup banyak Imp dari tubuh penduduk kota untuk memulihkan tubuhnya. Lagi-lagi ia mengeluarkan sulur-sulurnya untuk membelit para malaikat. Para malaikat kecuali Michael terbelit oleh sulur itu. Michael pun terbang untuk menolong anak buahnya, namun tak disangka-sangka, ternyata Legion melayangkan pukulan tangan kirinya untuk menghempaskan tubuh Michael sehingga menabrak gedung yang terletak jauh di belakangnya. Malaikat-malaikat yang terbelit sulur lalu dibanting oleh iblis itu ke jalanan. Legion lalu berbalik, dan berjalan menuju ke arahku. Tampaknya ia mengincar manusia-manusia yang tinggal di apartemen tempatku berpijak. Aku... entah kenapa menjadi sedikit khawatir. Aku tidak mengkhawatirkan diriku, yang jelas-jelas dapat menghindar dengan mudah bila iblis ini menyerangku. Aku mengkhawatirkan makhluk lain. Aneh... padahal aku belum pernah sekhawatir ini sebelumnya. Apalagi mengkhawatirkan manusia yang sudah jelas-jelas mempunyai sifat yang buruk. Aku merasa ada sesuatu dalam diriku yang melawan pikiranku mengenai stereotipeku terhadap manusia. Kenapa aku memiliki perasaan seperti ini? Tidak! Aku harus memendamnya. Aku harus membuangnya! Tapi aku tak bisa. Saat iblis itu mendekat, secara tak sadar, aku sudah berdiri dan melangkah ke tepi atap gedung. Saat sulur-sulur iblis itu muncul, entah kenapa otot-otot tubuhku mengencang, terutama otot kaki, yang bersiap menolakkan tubuhku ke bawah jika sulur itu menyerang. Sial! Hentikan! Aku tak ingin terlibat dalam pertarungan ini! Mereka manusia! Mereka tak layak mendapat pertolonganku! Merekalah yang membinasakan kaumku! Tidak! Tidak semua manusia jahat. Ada juga manusia yang mau menghargai eksistensi makhluk lain. Tidak semua dari mereka egois! Tapi aku bukan manusia. Bagaimana aku dapat mengetahui dalam pikiran mereka masih tersisa hal-hal semacam itu? Tetapi Aku bukan manusia. Bagaimana aku dapat menyimpulkan bahwa semua manusia jahat? Sementara perdebatan dalam diriku ini bergolak, pada saat yang bersamaan, sulur-sulur itu melesat ke gedung apartemen yang kupijaki. Tanpa terasa, kakiku menolak pada lantai atap gedung, dan menghempaskanku ke bawah... Aku harus menyelamatkannya! BRAAAKKK!!! Aku menahan salah satu sulur yang ditujukan pada sebuah ruangan di belakangku. Ruangan yang lampunya sudah padam itu ditempati oleh seorang gadis berambut panjang, Rosetta, yang sedang tertidur. Sementara sulur-sulur lain menembus ruangan-ruangan lain yang berlapiskan kaca di gedung ini, membawa serta seorang manusia pada masing-masing sulur. Aku pun mengeluarkan sayap nagaku untuk terbang, dan tangan nagaku untuk menahan sulur itu, tapi... GRAB!! Tubuhku terbelit oleh sulur itu, dan tercengkeram erat. Makin erat dan erat, hingga aku sulit bernafas. Beberapa saat kemudian, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di jantungku, naik ke tenggorokanku, lalu memaksaku membuka mulut untuk memuntahkannya. "HOOAAAKKKHH..." Seekor Imp yang kira-kira hanya sebesar kepalan tangan keluar dari mulutku, lalu berjalan meniti sulur, menuju tangan kanan Legion yang telah putus. Begitu pula dengan manusia-manusia lain yang terbelit. "Hehehehe... menggelikan..." Legion menertawakanku. "Bukankah kau menyimpan dendam terhadap manusia, naga? Seharusnya Imp di tubuhmu lebih besar daripada Imp yang muncul dari tubuh manusia!" Aku merasa dipermalukan, namun aku tak peduli. "Itu bukan urusanmu!" Kataku sambil membelitkan ekorku pada sulur yang mencengkeram tubuhku, lalu memelintirnya sekuat tenaga hingga sulur itu putus, dan aku pun terbebas. Bersamaan dengan itu, manusia-manusia yang sudah diserap Impnya dijatuhkan ke atas tanah. Sulur-sulur yang menjerat mereka sekarang mulai berfokus ke arah lain, yaitu aku. ZRAT!! ZRATT!!! ZRAATTT!!!! Sulur-sulur itu bergerak untuk menangkapku, namun aku dapat bermanuver ke sana kemari, memutar-mutar tubuhku untuk lolos dari sulur-sulur itu. Namun, ternyata manuverku yang tak sehebat Michael malah membuatku terjerat sulur-sulur Legion. Tapi ini tak masalah. Segera kuubah seluruh tubuhku menjadi tubuh naga yang ukurannya jauh lebih besar daripada wujud manusiaku. CRAASSHH!!! Sulur-sulur yang membelitku pun hancur berkeping-keping karena perubahan mendadak ukuran tubuhku. Tanpa ragu lagi, segera kuluncurkan tubuhku ke arahnya secepat mungkin untuk mengakhiri nyawanya, namun... ZRESSSHHH!!! Tiba-tiba sinar keemasan membelah tubuh iblis itu menjadi 2 bagian dari atas ke bawah sebelum aku sempat melancarkan seranganku. Mendadak kepala, leher, badan, dan akhirnya seluruh tubuhnya berubah menjadi sekumpulan Imp-Imp kecil yang berpencar ke segala penjuru, menghilang dari medan pertempuran. Michael berjongkok dengan satu lutut menyentuh jalan, dengan pedang api yang digenggam oleh kedua tangannya. Jilatan-jilatan api pedang itu lama-kelamaan memudar lalu menghilang, dan Michael pun memasukkan pedangnya kembali ke sebelah kiri ikat pinggangnya. Aku pun menggunakan sayapku untuk mendarat tepat di hadapan Michael. Dalam wujud nagaku, jelas aku lebih besar dan tinggi dari dia. "Michael, kenapa kau biarkan iblis itu membunuh manusia? Bukankah sudah tugasmu untuk melindungi mereka?" Tanyaku dengan nada 'setengah' menghakimi. "Itu salah mereka sendiri. Mereka tidak menyembah dan memohon perlindungan Lord Demiurge. Aku pun tidak berkewajiban menolong mereka tanpa perintah Lord Demiurge," jawabnya dingin. "Lagipula," lanjutnya sambil menatap beberapa ruangan yang kacanya hancur karena serangan Legion, "mereka harusnya mengagungkan dan meninggikan pencipta mereka, bukannya bertindak semaunya sendiri." Heh... Ternyata Demiurge hanyalah makhluk yang gila hormat. Ia tidak memberikan pertolongan pada mereka yang membutuhkannya, tapi hanya pada mereka yang mau menyembah dan mengagungkan Demiurge saja. Langit mulai tampak kemerahan. Tampaknya matahari akan segera terbit, dan manusia akan melakukan aktifitasnya. Aku harus menyembunyikan wujudku agar identitasku terjaga. Michael pun tampak melakukan hal yang sama. Ia melipat sayapnya ke dalam punggungnya, dan menyembunyikan pedangnya. "Benar, Grevaedon!" Seberkas suara pria anggun yang lain menyebut namaku dari belakang. Sekilas, suara itu tampak mirip dengan suara Michael, tapi suara ini terdengar lebih berwibawa dan nadanya lebih rendah daripada suara Michael. Aku pun membalikkan tubuhku untuk melihatnya. "Demiurge hanya seorang diktaktor yang gila hormat!" Lanjutnya. Pria itu terlihat mirip dengan Michael, hanya saja rambut gondrongnya berwarna hitam, dan matanya berwarna merah menyala. Kulitnya sama putihnya dengan kulit Michael. Ia mengenakan pakaian jas panjang yang berkerah tinggi dan sisi jasnya hampir menyentuh kakinya. Jas itu dibiarkannya terbuka sehingga dapat terlihat dadanya yang bertatokan suatu lambang yang unik dan simetris. Sabuk-sabuknya tumpang tindih melilit dari pinggang hingga perutnya. Ia memakai celana jeans hitam yang senada dengan jasnya. "Oh..." Ia sepertinya baru saja menyadari kalau ada Michael di belakangku, yang juga menatapnya. "Hai, saudaraku, Michael. Bagaimana kabar surga? Masih membosankan seperti dulu?" Tanyanya enteng. Aku pun memperhatikan wajah Michael untuk melihat bagaimana reaksinya. Matanya memancarkan kebencian yang amat sangat kepada makhluk di hadapanku ini. Dan sepertinya bukan seseorang yang dapat dianggap remeh, karena Michael terlihat bersiap-siap mengembalikan sayap dan pedangnya kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Laki-laki itu pun kembali mengalihkan pandangannya padaku. "Grevaedon, aku telah mencarimu sekian lama. Aku tahu, kau membutuhkan kebebasan. Kebebasan dari rasa takutmu terhadap manusia, kebebasan dari hambatan membalas dendam, dan kebebasan dari hambatan kebencian. Dan yang terpenting, bebas dari kekuasaan apa pun, termasuk Demiurge dan kekuasaanku!" Mendengar kalimatnya, aku langsung menyimpulkan sesuatu. Ia adalah Lucifer! "Jadi, apakah kau menginginkan kebebasan?" Tanyanya sambil mengulurkan tangan kanannya padaku. SRING!! SRINGG!! SRING!!! Mendadak seluruh pasukan Michael sudah berdiri mengepungku dan Lucifer, mengacungkan senjata mereka masing-masing. Namun Lucifer tetap tenang. Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil tergelak pelan. "Hehehe... Michael, Michael... sebegitu takutnyakah engkau kepadaku? Itu karena kau telah berdosa padaku, bukan, saudaraku? Kau telah memotong kelima sayapku, hingga kini aku hanya mempunyai satu sayap saja." "Dengar Lucifer..." Kataku dengan telunjuk kanan teracung ke Lucifer. "Selamanya aku tak akan bergabung denganmu!" "Oh, begitu? Tapi tenang saja, aku tak akan memaksamu lagi. Maafkan anak-anakku yang kurang sopan mengajakmu. Tapi aku akan tetap menunggu kalau-kalau kau berubah pikiran," katanya sambil tersenyum ramah. Namun senyuman itu entah kenapa lebih terasa 'bengis' meskipun tampak ramah. "Lucifer, Grevaedon, tampaknya perintah dari Demiurge telah turun," Michael membuka suara dengan wajah serius. "Kalian berdua... HARUS MATI!" Para malaikat serentak menyerang aku dan Lucifer. Sebelum aku mendapat kesempatan untuk melawan, tiba-tiba sebuah anak panah melesat menembus punggungku... ZREEBBB!! To Be Continued...
|
|
|
| V33D12AG0N |
|
The Last Dragon
    
Group: Admin
Posts: 523
Member No.: 28
Joined: 21-May 07

|
Lho? Yang di sini kok baru segini? Gw update ah... awas, siap2 nglembur baca, 3 seri sekaligus nih daripada lupa  Fourth Shard/1: Curiosity "Grev..." Suara seorang wanita memanggilku. Mataku terasa sangat berat untuk dibuka. Kepalaku terasa terlalu pusing. "GREV!!" Ia memanggil lebih keras lagi dengan mengguncang-guncangkan tubuhku. Kini mataku sedikit bisa dibuka. Mula-mula pandanganku kabur, namun makin lama makin jelas. Wajah Rosetta terpampang di hadapanku. Ia tampak begitu khawatir dengan keadaanku. Aku pun baru menyadari kalau diriku sedang terbaring di ranjang, di sebuah kamar. Di hadapanku terlihat lemari pakaian yang setengah terbuka. Sementara di samping pintu ada meja belajar dengan sebuah tas bersandar di sampingnya. Di atas meja itu bertumpukan buku-buku tebal. "Ka... kau..." Aku tak tahu harus berkata apa. Apa yang terjadi padaku barusan? Kenapa kepalaku terasa begini pusing? Aku mencoba mengingat-ingat kembali... Oh iya. Aku bertemu dengan Lucifer, ia menawarkan posisi padaku, tapi Michael dan para malaikatnya membantai aku dan Lucifer hingga aku tak sadarkan diri. Lalu, kenapa aku bisa ada di sini? "Kenapa... aku berada di sini?" Tanyaku. "Kau pingsan di tengah jalan tadi pagi, dan seorang pria membawamu ke sini," jelas Rosetta. "Seorang pria?" Tanyaku heran. "Ya. Badannya tinggi, rambutnya gondrong, dan kulitnya putih." Lucifer?! Apa yang terjadi dengan pertarungan tadi? Aku jadi semakin penasaran. Aku pun segera beranjak turun dari ranjang dan menatap keluar jendela. Tampak pemandangan yang biasa-biasa saja. Mobil-mobil bersimpang siur, orang-orang menyeberang, dan lain sebagainya. Tak tampak satu pun jejak Lucifer maupun Michael! Tangan Rose tiba-tiba menyentuh bahuku, mengagetkanku yang sedang penasaran dan kebingungan setengah mati. "Sudahlah, kau pasti masih lelah. Istirahatlah dulu. Kubuatkan teh hangat ya?" Tawarnya sambil menuntunku kembali duduk di atas kasur, lalu beranjak keluar dari kamar. Apa yang terjadi padaku? Apa aku pingsan kemudian Lucifer menyelamatkanku? Tapi untuk apa? Pikiran-pikiran ini terus berkejaran dalam otakku, hingga membuatku pusing sendiri memikirkannya. Rasanya lebih baik aku melupakan hal ini untuk sementara waktu, hingga keadaanku benar-benar pulih. Oh iya, tadi seingatku aku sempat terkena anak panah pada bagian punggungku. Kubuka bagian belakang pakaian kaosku, kemudian berdiri membelakangi kaca yang ada di kamar itu sambil menoleh ke belakang. Ya, aku melihat bekas luka. Tapi luka ini tidak separah yang kukira. Luka ini terlihat seperti luka lama yang sudah mulai sembuh. Apa artinya ini? Apakah Lucifer juga menyembuhkanku? Ah, sebaiknya kusingkirkan dulu segala pikiranku tentang pertarungan malam kemarin hingga pagi tadi. Aku kembali duduk di atas ranjang, menatap keluar, di mana sinar matahari bersinar dengan teriknya. Dari sebelah kanan, kudengar suara derik pintu bergeser. Aku pun menoleh ke sumber suara, kudapati Rosetta sedang membawa secangkir teh hangat untukku. "Terima kasih..." Kataku sambil menerima cangkir itu. "Tidak apa-apa. Lagipula, kita kan berteman," jawab Rose. Teman? Ah ya... sudah lama aku tidak mendengar kata itu. Puluhan tahun sudah aku berkelana tanpa seorang teman pun. Teman-teman sebangsaku sudah punah oleh manusia. Tapi kini, aku berteman dengan manusia? Tidak. Aku tidak bisa berteman dengan manusia... Tapi bagaimanapun juga, ia yang telah menolongku dan merawatku, bahkan dengan tulus sudah membuatkan teh untukku. Masa aku tidak mau berteman dengannya? Apa sebaiknya yang kuputuskan? Berteman dengannya atau tidak? Atau niat makhluk ini malah memberikan racun di tehku agar bisa membunuhku? Ah itu tidak mungkin... Lagipula ia belum mengetahui wujud asliku. Kalaupun ia manusia yang kejam dan suka membunuh sesamanya, ia takkan mendapatkan keuntungan apa pun kalau membunuhku. Apa sebaiknya aku berteman dengannya? Seandainya ia mau pun, pasti ia sudah mencoba membunuhku sedari tadi saat aku masih pingsan. Kuminum teh itu sedikit dari sisi cangkir, agar tidak terasa terlalu panas. Tampaknya tak ada yang aneh dengan teh ini. Rasanya nikmat dan alami, daun-daun tehnya masih terlihat di dasar gelas. "Enak..." Komentarku. "Benarkah? Biasanya orang-orang tidak menyukai teh buatanku karena terlalu banyak daunnya dan tidak kuberi gula," sahutnya. "Tapi menurutku teh ini benar-benar enak. Benar-benar terasa seperti 'teh'!" Kataku sambil meminum sedikit lagi teh itu dari sisi cangkir. Rasanya tak ada salahnya berteman dengannya. Ia cukup memperhatikanku, baik, dan ramah. Rosetta kemudian menatap jam yang tergantung di dinding, dan sepertinya menyadari sesuatu. "Ah, celaka... aku terlambat!" Gumamnya sambil tergesa-gesa mengambil tasnya yang tergeletak di samping meja belajarnya. Sebelum keluar kamar, ia pun menoleh kepadaku. "Sebaiknya kau istirahat dulu di sini. Aku harus segera ke kampus," pamitnya lembut, berusaha menyembunyikan ketergesa-gesaannya. Apa dia tidak curiga menempatkan orang asing di apartemennya? Kalau aku berniat jahat, bisa saja aku mencuri barang-barangnya dan kabur dari sini! "Kau yakin kau bisa mempercayaiku?" Tanyaku untuk memastikan kepercayaannya. "Tentu saja. Kita kan sudah saling mengenal, buat apa aku curiga?" Jawabnya enteng sambil menggendong tas yang tampak berat bagi wanita yang berperawakan sepertinya. Namun ia tak terlihat kesulitan mengangkat tas itu. Ia pun berjalan beberapa langkah keluar, namun ia segera berbalik dan berkata, "Oh iya, kalau kau ingin makan atau minum, ambil saja di kulkas, ya!" Pesannya sebelum melanjutkan perjalanannya keluar apartemen. Aku pun mengangguk. Ia membalikkan badannya dan melangkah pergi. Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu ditutup. Ia sudah pergi dari apartemen ini. Tunggu... apa yang dia bilang tadi? Kulkas? Apa itu kulkas? Ah... istilah-istilah manusia memang membingungkan. Aku mencoba menggerak-gerakkan tangan dan kakiku, berikut leher dan tubuhku. Tampaknya aku sudah pulih sepenuhnya sekarang. Aku pun berjalan keluar kamar, memasuki ruang tengah. Aku pun disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Di hadapanku terlihat sebuah lembar tipis yang mempunyai permukaan seperti kaca, dengan balok-balok hitam berisi lingkaran di sisi kanan-kirinya. Di bawah benda itu adalah sebuah lemari yang tak berdaun pintu, berisi kotak perak dengan banyak tombol di permukaannya. Pada kursi yang terletak persis berhadapan dengan benda-benda itu, ada sebuah lempeng plastik yang ukurannya segenggaman tangan dengan banyak tombol juga. Di belakang kursi, di sebelah pintu masuk kamar, terdapat lemari yang mengeluarkan suara aneh, dan memancarkan energi panas dari belakangnya. Benda-benda apa ini? Aku tak berminat menyentuhnya agar tidak merusaknya. Saat aku akan berjalan ke sisi kanan, kakiku tersandung sebuah bola. Bola ini kira-kira diameternya hampir satu setengah jengkal tanganku, berwarna merah dengan tonjolan-tonjolan kecil di sekujur kulitnya, dan ada garis-garis hitam yang saling melintang menghiasinya. Kalau cuma bola sih kurasa tidak apa-apa kalau kuperiksa sebentar. Kuraih bola itu, dan kucoba menjatuhkannya ke atas lantai. DUAAKKK!!! Bola itu memantul hampir setinggi aku menjatuhkannya. Beberapa detik kemudian, pantulan bola itu pun hilang sepenuhnya, dan bergulir ke sudut ruangan. Di sudut itu, kulihat ada sesuatu tergantung di dinding. Bentuknya mirip dengan sebilah pedang, tapi ujung pedangnya tidak ada. Maksudku, ujungnya tidak berbentuk seperti pedang pada umumnya, melainkan membentuk lingkaran yang diisi jaring-jaring yang saling melintang. Benda apa pula ini? Akhirnya setelah seluruh ruangan yang penuh dengan benda-benda aneh ini selesai kujelajahi, aku pun duduk di kursi yang berhadapan dengan lembaran kaca itu. Aku lupa kalau di tempat itu tergeletak lempeng plastik aneh, yang berakibat lembaran kaca di hadapanku tiba-tiba menampakkan suatu gambar, dan kotak-kotak hitam di kanan-kirinya bersuara. Tertarik dengan benda itu, aku pun mendekatinya, dan mengusap-usap permukaan kaca itu. Aneh... kaca setipis ini dapat memantulkan gambar manusia yang entah berada di mana? Tapi tiba-tiba gambar itu berubah ke tempat lain. Aku tak mengerti, bagaimana cara kerja kaca ini hingga ia bisa menampilkan suasana di daerah satu ke daerah lainnya yang berjauhan? Belum lagi kotak-kotak yang mengapitnya dapat mengeluarkan suara yang sesuai dengan gambar yang ditampilkan kaca ini. Ini juga terasa aneh. Mestinya cepat rambat cahaya dan suara lebih cepat cahaya bukan? Begitulah yang kupelajari dari perbedaan waktu antara kilat dan petir. Kalau suasana di layar kaca ini ditampilan dari tempat yang sangat jauh, mustahil suaranya dapat selaras dengan suasana layar kaca ini. Selain itu terdengar juga bunyi-bunyian seperti musik yang mengalun pelan bersamaan dengan suara orang-orang berbicara. Benar-benar aneh... Aku pun menoleh ke kursi. Kulihat lempeng plastik yang mengakibatkan lembaran kaca itu menyala. Aku pun jadi tertarik mencobanya. Kutekan salah satu tombol di lempeng itu. Gambar yang ditampilkan kaca itu pun berubah-ubah seiring aku menekan tombol itu. Hebat juga manusia, bisa membuat benda unik seperti ini. Namun saat kupencet sebuah tombol yang berada di pojok lempeng itu, tiba-tiba lembaran kaca di hadapanku berhenti menampilkan gambar. Aku pun tertegun. Bagaimana caranya alat ini berhenti bekerja? Kupencet-pencet tombol lainnya, tapi lembaran itu tidak menampilkan gambar lagi. Ah sudahlah. cukup aku mencoba alat aneh ini. Kini pandanganku tertuju ke sebuah ruangan lain yang tersambung dengan ruang tengah ini. Ruangan itu mempunyai motif dinding dan lantai yang berbeda dengan ruangan ini. Aku jadi tertarik masuk ke dalamnya. Kulihat lantai ruangan ini agak becek. Aneh, semalam tidak turun hujan. Lagipula apartemen ini dilindungi atap dan berada sekian lantai dari puncaknya, dan tidak mempunyai jendela. Jadi, kemungkinannya kalau air ini bukan air liur, pasti air kencing. TESS... Aku mendengar suara tetesan air jatuh. Saat aku menoleh ke sumber suara, kudapati benda seperti sulur panjang yang terbuat dari logam, dengan pangkal yang menembus tembok, dan ujungnya berbentuk lingkaran ceper dengan banyak lubang kecil, terpancang di atasku. Tampaknya lubang-lubang itulah yang meneteskan air. Setelah kuperhatikan dengan seksama, ada bagian dari sulur itu yang menonjol dan berbentuk pipih, dihiasi titik merah dan biru. Apa ini? Kucoba meraba benda itu. Eh, ternyata benda itu dapat bergeser dalam porosnya, seakan-akan itu adalah bagian dari sebuah poros lingkaran. Tapi putaran benda itu tidak bisa sempurna, hanya dapat memutar setengah lingkaran saja, seperempat lingkaran ke arah titik merah, dan seperempat lingkaran ke arah titik biru. Benda ini kurang menarik, jadi kulepaskan tanganku dari benda itu, namun tanpa sengaja malah mendorong benda pipih itu ke atas saat berada di arah titik merah... SRRRSSSSSSS.... "AAAAKKKHHH!!!!" Aku menjerit spontan saat kepalaku dihujani air panas yang tiba-tiba saja memancar dari benda itu. Segera kuhindarkan tubuhku dari semprotan air panas benda itu. Gila... manusia memang tidak bisa kira-kira. Bahkan mereka sendiri pasti kepanasan kalau dihujani air seperti ini, tapi mengapa mereka memakai alat seperti ini di rumahnya? Kurapikan rambut dan pakaianku yang basah karena air sialan itu sambil berjalan kembali ke ruang tengah. Aku menghela nafas. Apa sebaiknya aku tidur saja dan tidak macam-macam dengan benda-benda di sini? Ya, mungkin itu lebih baik ketimbang merusak barang-barang milik temanku. Tunggu! Apa barusan aku menyebutnya 'teman'? To Be Continued...
|
|
|
| V33D12AG0N |
|
The Last Dragon
    
Group: Admin
Posts: 523
Member No.: 28
Joined: 21-May 07

|
Fourth Shard/2: Being a Human
"GREV!!" Kudengar Rosetta berteriak padaku dengan nada agak marah. Aku pun segera bangun dari tidurku dan keluar dari kamar untuk menemuinya. "Tadi kau menyalakan air panas di kamar mandi ya?" Tanyanya dengan emosi.
Setelah menangkap apa yang dimaksud dengan kamar mandi, yaitu ruangan yang motif lantai dan dindingnya berbeda dengan ruang tengah, aku baru tahu masalah yang ia bicarakan. "Iya..." jawabku penuh rasa bersalah. Wajahnya Rose terlihat menakutkan kalau sedang marah. Jantungku berdegup kencang saat saling bertatapan mata dengannya.
"Lain kali, kalau kau menyalakan air, segera matikan setelah selesai memakainya, ya!" Nasehatnya dengan nada judes.
"Ya..." jawabku agak lirih.
Rose pun berjalan menuju sebuah lemari di sebelah pintu kamar yang mengeluarkan hawa panas dari belakangnya. Ia membuka lemari itu, dan memperhatikan isinya. Ternyata bagian dalam lemari itu sangat dingin! Ah, itu pasti sebabnya mengapa bagian belakang lemari ini panas, karena ia menyerap semua hawa panas benda-benda yang ada di dalamnya.
"Kau tadi tidak makan apa-apa?" Tanyanya sambil mengambil sesuatu dari dalam lemari itu. Kali ini nada judesnya sudah sedikit berkurang.
"Tidak..." Jawabku.
"Bukannya sudah kubilang, kalau kau lapar, ambil saja makanan di kulkas?"
Oohh... Jadi itu yang dimaksud kulkas! Ya ya... aku mengerti... kulkas itu lemari tempat untuk menyimpan makanan-makanan agar didinginkan, sehingga tidak cepat busuk. Seperti balok es yang dapat mengawetkan makhluk di dalamnya selama ribuan tahun, hanya saja, kulkas tidak sedingin balok es.
Rose mengeluarkan beberapa makanan dari kulkas, lalu membawanya ke ruangan lain di dekat pintu masuk, yang temboknya agak menghitam. Ia memutar sesuatu yang mengakibatkan api muncul di atas meja. Aneh... api itu tidak mati, namun terus hidup, seperti sedang membakar kayu atau semacamnya. Tapi tidak ada kayu atau apa pun yang ada untuk dibakar di atas meja itu. Di atas api itu, ia meletakkan semacam wadah logam yang telah terisi makanan.
Oh... ternyata kebiasaan manusia belum berubah sejak ratusan tahun yang lalu, mereka masih suka memasak dengan api seperti dulu, namun sepertinya teknologinya lebih canggih daripada kayu bakar. Selang beberapa menit, Rose mengambil wadah logam itu dengan pelindung tangan, lalu meletakkannya di atas meja di hadapanku.
"Duduklah, kau pasti lapar karena belum makan dari tadi pagi," ajaknya sambil menarik salah satu kursi di hadapan sebuah meja bundar.
Aku pun duduk di kursi itu, sementara ia duduk di hadapanku. Ia mengambilkanku sepiring nasi, namun ia berhenti sebentar, lalu menengok ke arahku.
"Kau biasa makan seberapa?" Tanyanya.
Aku? Makan nasi? Hahaha... aku terbiasa memangsa hewan-hewan laut dan udara, lalu memakannya mentah-mentah. Biasa sehari aku makan beberapa puluh ekor burung dan ikan. Kalau dibandingkan dengan nasi? Mungkin beberapa wadah logam itu baru cukup?
"Nggg... beberapa kali wadah itu mungkin..." Jawabku santai.
"BEBERAPA KALI?!" Tanyanya dengan nada terkejut. Apa mungkin takaranku terlalu banyak untuk manusia ya? Ah, ini bisa mengundang kecurigaan...
"Aku hanya bercanda..." kataku membatalkan pernyataanku tadi. "Hanya satu wadah ini saja," ralatku.
"satu wadah?" Ia masih agak keheranan, namun tampaknya sudah jauh berkurang daripada tadi. Sepertinya takaranku masih memungkinkan bagi manusia.
"Iya," jawabku mantab. Ia pun mengeruk habis nasi di wadahnya itu, hanya menyisakan sedikit untuk dirinya sendiri.
"Ternyata makanmu banyak juga ya? Merangkap makan pagi dan siang ya?" Tanyanya dengan senyum.
Makan pagi dan siang? Manusia punya kebiasaan makan yang tergantung waktu? Hmmm... mungkin sebaiknya kujawab 'ya' untuk mengurangi kecurigaan.
"Ya, begitulah..." jawabku singkat, sambil mulai melahap nasi. Rasanya benar-benar hambar! Tidak ada rasa sama sekali, tidak seperti ikan atau burung yang kumakan sehari-hari.
"Hei hei, jangan gunakan tangan!" Bentaknya. "Itu di sana ada sendok dan garpu," katanya sambil menunjuk sebuah wadah yang dipenuhi pisau-pisau logam kecil. Tapi bila kuperhatikan tampaknya itu bukan pisau, namun sesuatu yang ujungnya berbentuk cekung, dengan sesuatu yang seperti tombak trisula. Mereka makan dengan senjata?
Ia pun mengambil senjata-senjata itu. Trisula kecil di tangan kirinya, dan pisau cekung di tangan kanannya, lalu mulai menaruh nasi dan makanan lain di senjata cekungnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Selang beberapa detik, ia pun menatap wajahku dan bertanya.
"Kenapa kau tidak makan?"
"Aku... tidak terbiasa makan dengan senjata," jawabku polos.
Ia terlihat menahan tawanya yang semakin membludak, hingga beberapa butir nasi menyembur dari mulutnya. Ia pun segera mengambil benda yang terbuat dari beling yang terletak di sampingnya, lalu berlari ke sebuah alat yang mengeluarkan air, memasukkan air itu ke dalam benda belingnya, lalu meminumnya sampai habis.
"Hah... hahaha... haha... kau lucu juga, Grev..." Komentarnya.
"Aku lucu?" Tanyaku heran. Apa yang salah dengan pertanyaanku tadi?
"Iya, kau lucu sekali!" Ulangnya dengan menambahkan kata 'sekali' "dari mana kau mendapatkan lelucon seperti itu?" Tanyanya.
Lelucon? Apa pertanyaanku tadi lucu? Aneh...
"Tidak dari mana-mana sih..." Jawabku sekenanya. Namun ia malah tertawa lebih keras lagi.
"Hahaha... kau cukup kreatif, Grev!" Pujinya. Namun aku merasa aneh dengan pujian ini. Di mana lucunya pertanyaanku tadi? "Sudah... sudah... ayo kita makan..." Ajaknya sambil memulai makan dengan senjata-senjatanya.
Begitu pula aku mulai makan dengan tanganku lagi. Namun ia berhenti lagi, dan menatapku. Kali ini pandangannya serius.
"Kau ini... benar-benar tidak tahu cara menggunakan sendok dan garpu?" Tanyanya lagi.
"Maksudmu... senjata-senjata itu?" Tanyaku sambil menunjuk tangannya untuk memastikan yang dimaksudnya memang yang dia pegang sekarang.
"Haahhh..." Ia menghela nafas dengan menggetarkan pita suaranya. "Bilang dari tadi dong kalau kau tidak bisa memakainya... Aku heran, kenapa di zaman semaju ini masih ada orang yang tidak bisa menggunakan sendok dan garpu?"
"..." Aku terdiam mendengarkan perkataannya. Ia pun menggeser kursinya, mulai berdiri, mengambilkan -- apa yang disebutnya -- sendok dan garpu, lalu menghampiriku.
"Ini, pegang dengan tangan kananmu. Ini yang disebut sendok!" Perintahnya sambil memberikan pisau berujung bundar cekung kepadaku. Aku pun tak punya pilihan lain selain mengikuti kata-katanya. Memang, aku paling tidak suka diperintah. Namun kalau aku menolak, mungkin akan berujung pertengkaran. Dan aku tak ingin membunuh manusia yang satu ini hanya karena pertengkaran yang tidak penting.
"Yang ini namanya garpu. Pegang dengan tangan kirimu," perintahnya lagi. Aku pun menggenggam benda mirip tombak trisula itu.
"Bukan begitu menggenggamnya!" Protesnya sambil mengambil kembali garpu dari tangan kiriku. "Ayo, buka tanganmu!"
Ia menempatkan garpu dengan pangkal di dekat jempol, dan ujung di sisi kelingking.
"Sekarang, genggam garpu itu dengan hanya menggunakan jempol, telunjuk, dan jari tengah saja!" Perintahnya. Aku pun mengikutinya. Namun aku masih merasa canggung.
"Bukan begitu! Begini!" Katanya lagi sambil memberi contoh dengan tangan kirinya sendiri yang menggenggam garpunya. Aku pun berusaha menirukan caranya memegang garpu itu. Unik sekali, tidak seperti cara manusia memegang pedang atau tombak.
"Nah, sekarang yang tangan kanan juga..." Perintahnya. Aku pun membenarkan posisi sendok di tangan kananku. Namun posisinya masih salah.
"Jari ini di sini..." Katanya sambil memindahkan telunjukku dengan tangannya yang lembut. "jari ini di sini," ia memindahkan jari tengahku. "Ngomong-ngomong, tanganmu cukup kasar juga ya?"
Tanganku kasar? Mestinya kulitku yang sekarang jauh lebih halus ketimbang kulit nagaku yang benar-benar kasar dan kaku.
"Nah, sekarang coba masukkan nasi itu ke sendok dengan bantuan garpu!" Perintahnya. Aku pun memasukkan nasi itu dengan bantuan garpu. Namun ternyata sulit sekali! Tanganku dengan kaku menggaruk nasi yang ada di piringku, sehingga tak sebutir nasi pun tersangkut di cekungan sendokku.
"Sini! Kuajari caranya..." Katanya sambil memegang tangan kiriku dengan tangan kirinya, dan tangan kananku dengan tangan kanannya.
Setengah jam kemudian...
Rose telah menghabiskan makanannya. Ia sekarang duduk di hadapanku untuk menontonku makan.
"Ayo Grev! Kau pasti bisa!" Teriaknya memberi semangat. Aku pun berusaha menggerakkan sendok-garpuku untuk kesekian kalinya, meraih segumpal kecil nasi, dan memasukkannya ke mulutku.
"Nah, tinggal sedikit lagi!" Semangatnya. Kulihat nasi di piringku cukup sedikit, hingga kupikir aku bisa melahap semuanya sekaligus. Aku pun menaruh sendok-garpuku, lalu kupegang piring itu dengan kedua tanganku, lalu aku mendongak dan menelungkupkannya di atas mulutku, agar semuanya masuk sekaligus...
"HEYY!!!! HEYY!!!! JANGAAAAAANNN!!!" Teriak Rose histeris.
Jangan? Apa ia masih lapar dengan sedikit nasi dan meminta sedikit bagianku? Karena sudah terlanjur masuk ke mulut, aku pun memuntahkannya kembali ke atas piring, lalu menyodorkan ke arahnya.
"Kau mau?" Tanyaku polos.
"YUCK!! Kau menjijikkan Grev! Maksudku bukan begitu!" Ia menolak pemberianku dengan tangannya menahan piringku. "Maksudku, kau harus makan dengan sendok dan garpu, hingga nasi itu habis! Bukan langsung ditelungkupkan ke mulutmu!"
"Ooh... begitu..." Aku pun mengerti. Aku mulai menyendok makanan yang baru saja kumuntahkan itu dan memasukkannya ke mulutku.
"Aduuuhhhh... kau ini tidak pernah hidup dengan manusia normal apa?" Tanyanya dengan nada menyindir.
"Tidak..." Jawabku santai sambil meneruskan makanku.
"Lalu orangtuamu? Apa mereka makan dengan tangan?"
Aduh, sepertinya akan aneh kalau aku menjawab mereka makan dengan tangan. Tapi kalau kujawab dengan sendok dan garpu juga aneh, sebab aku tidak bisa menggunakannya. Apa yang sebaiknya kujawab? Oh iya, aku tahu jawaban yang tepat!
"Tidak, mereka makan dengan sendok dan garpu, tapi tak pernah mengajariku," jawabku.
"Ya ampuuun... kau tidak belajar sendiri? Kau benar-benar belum dewasa! Berapa sih usiamu?" Tanyanya.
"Seratu... eh..." Sialan, aku hampir kelepasan lagi! Tak ada manusia yang berusia setinggi itu, namun terlihat masih muda sepertiku. Aku pun mengira-ngira usia yang tepat untuk manusia yang setua diriku. Sebentar... usiaku sekarang 163 tahun. Mungkin aku bisa menambahkan dua angka terakhir itu menjadi usia wujud manusiaku. "Sembilan belas tahun," jawabku.
"Hah? Berarti semestinya kau juga sudah kuliah sepertiku, dong? Kenapa orangtuamu tidak menyekolahkanmu?" Tanyanya lagi.
Hahaha... tampaknya kali ini aku beruntung, dapat dengan tepat memprediksikan usia manusia hingga sebaya dengannya.
"Orangtuaku sudah mati..." jawabku santai sambil meraih sesuap nasi terakhir di sendokku, lalu memasukkannya ke mulutku.
"Hah?!" Ia terkejut. Seketika raut wajahnya berubah. "Ma... maafkan aku..."
"Tidak apa-apa... mereka sudah mati lama sekali," lanjutku setelah menelan nasi di mulutku.
Setelah makan, aku merasa tidak enak dengan tenggorokkanku. Jadi aku harus minum. Di mana aku bisa mendapatkan air? Oh iya, tadi pagi ada air menetes di ruangan yang mempunyai dinding bermotif aneh itu. Mungkin aku bisa minum dari sana. Tanpa pikir panjang, aku pun beranjak dari tempat dudukku.
"Grev, kau mau ke mana?" Tanya Rose.
"Minum," jawabku singkat sambil melangkah ke ruangan itu. Aku pun mengutak-atik benda pipih di pangkal sulur yang berujung bundar itu, hingga akhirnya dapat memunculkan air. Aku langsung menengadahkan mulutku ke atas dan menangkap air yang mengucur dari ujung sulur itu.
"HEY!! Kalau kau mau minum jangan di sana!" Bentaknya padaku. Tiba-tiba ia sudah berada di depan pintu ruangan ini. Aku pun menoleh padanya. "Matikan air itu, dan ikuti aku!" Perintahnya. Aku pun berusaha mengutak-atik benda pipih itu agar airnya mati, namun airnya tidak mati-mati, malah menjadi semakin panas!
"ARRGGHHH!!" Teriakku sambil menghindar dari air panas itu.
"Dasar bodoh!" Bentaknya seraya menyerempet tubuhku, dan bergegas ke benda pipih itu, dan menekannya hingga air itu berhenti mengucur.
"Bo...doh?!" Aku merasa tersinggung dengan kata-kata itu. Raut wajahku mendadak berubah.
"Eh, ma... maaf maaf... bukan maksudku mengatakannya... aku tidak bermaksud begitu..." Rose tersenyum, namun senyumannya entah kenapa terasa seperti 'dipaksa'. "Eh, kau mau minum, kan? Ayo ikut!" Ajaknya sambil menggandeng tangan kiriku dengan tangan kanannya. Genggamannya lumayan kuat juga untuk seorang manusia, apalagi wanita.
"Di sini!" Katanya sambil menunjuk benda di mana tadi ia mengeluarkan air untuk minum. "Apa perlu kuterangkan cara menggunakan gelas?" Tanyanya.
Gelas? Oh, pasti benda beling yang tadi digunakannya untuk minum. "Tidak perlu," jawabku penuh percaya diri, karena aku sudah memperhatikan bagaimana ia memakai alat ini.
Aku segera meraih satu gelas yang masih telungkup di meja, menaruhnya di bawah alat itu, lalu menekan tombolnya. Dan voila! Gelasku sudah terisi dengan air. Aku pun meminumnya. Namun rasanya minuman sesedikit itu masih kurang, jadi aku minum, dan minum terus...
"Grev..." Aku terus minum. "GREV!!" Bentaknya. Aku pun menghentikan acara minumku. "Kau mau menghabiskan satu galon ini apa? Banyak sekali kau minum!"
Oh, tampaknya manusia tidak minum sebanyak ini ya? Aku segera menaruh gelasku di atas meja.
"Kau ini benar-benar aneh... kau terlihat sangat gaptek, tidak tahu ini-itu, tapi kau makan dan minum banyak sekali!" Komentarnya.
Aku masih terlihat aneh? Tampaknya aku masih perlu 'belajar' menjadi seorang manusia untuk memperbaiki penyamaranku. Kalau tidak, mereka tentu akan membongkar penyamaranku.
"Jangan-jangan... kau juga tidak tahu apa itu TV, apa itu komputer, VCD player, AC, dan sebagainya?"
Hah? Benda-benda apa pula itu? Tapi tentu aneh kalau semua manusia mengetahuinya tapi aku tidak. "Aku tahu!" Jawabku sok tahu, agar tidak lagi dianggap 'aneh' lagi olehnya.
Tapi sepertinya perkataanku ini malah menyulitkanku di kemudian hari...
To Be Continued...
|
|
|
| V33D12AG0N |
|
The Last Dragon
    
Group: Admin
Posts: 523
Member No.: 28
Joined: 21-May 07

|
Fifth Shard: The Hell and the Heaven Lucifer, yang dijuluki sang Raja Iblis, Bintang Fajar, dan Pembawa Cahaya, sedang duduk di atas takhtanya dengan kaki kiri menyilang pada paha kanannya. Pada pundak kirinya, bersandar seorang gadis cantik jelita yang kulitnya berwarna merah darah. Di kepala gadis itu terdapat sepasang tanduk merah, turut menghiasi rambut hitamnya yang berkilauan. Pakaiannya yang berwarna hitam ketat memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Sedangkan tangan kanan Lucifer sedang digenggam erat-erat oleh seorang gadis yang berkulit putih pucat yang menatapnya dengan manja. Rambut putihnya sangat panjang hingga menyentuh lantai. Gadis ini mengenakan pakaian serba hitam dan berjubah hitam dengan warna merah pada sisi yang menghadap punggungnya. Kerahnya dibiarkan terbuka hingga menutupi lehernya. Tiba-tiba sepasang tangan berkulit keunguan menyentuh dagu Lucifer dari balik singgasananya dengan lembut. Lucifer terlihat begitu menikmati belaian lembut dari seorang gadis lain yang berdiri di belakang singgasananya. Gadis itu pun memperlihatkan wajahnya dengan menaikkan kepalanya di atas takhta sambil menghadapkan wajah Lucifer ke arahnya dengan kedua tangannya yang masih menyentuh dagu Lucifer. Rambut berwarna ungu-tuanya yang ikal agak tersibak, hingga memperlihatkan bentuk telinganya yang lancip. Samar-samar di balik punggungnya, terlihat sepasang sayap yang mirip sayap kelelawar. Tak lama setelah Lucifer menikmati belaian-belaian dan kemanjaan lembut dari ketiga makhluk itu, salah satu dari mereka pun membuka percakapan. "Tuan Lucifer yang tampan, apa rencanamu kali ini?" Tanya gadis berkulit pucat dengan nada menggoda dan manja. Saat ia membuka mulutnya, tampak gigi-gigi taringnya yang lebih menonjol daripada manusia biasa. "Hahaha..." Lucifer tertawa kecil menikmati kelembutan ketiga wanita itu. "Kau tak perlu tahu, Satania..." Tangan kanan Lucifer membelai Satania yang sedang merangkul tangan kirinya, membuat gadis berkulit merah yang bersandar pada pundaknya merasa tidak nyaman. "Ayo beritahu kami, Tuan Lucifer... kami sudah lama tidak mendengar ide-ide jenius Tuan Lucifer..." Rayu gadis berkulit merah itu sambil merangkul leher Lucifer. "Kau ini benar-benar pandai merayu ya, Daemonis," puji Lucifer, tanpa memberikan jawaban yang mereka harapkan. "Tuan Lucifer..." Panggil gadis berkulit ungu yang menarik dagu Lucifer, hingga terpaksa mendongak untuk menatapnya. "Kalau Tuan menceritakan pada kami, akan kuberi sebuah ciuman spesial!" Katanya seraya mendekatkan wajah lucifer dengan wajahnya, sehingga mereka saling berhadapan dengan posisi wajah saling berkebalikan. "Baiklah... baiklah Devyl. Aku akan menceritakannya sedikit pada kalian," Lucifer meletakkan tangan kanannya pada bibir Devyl, sebagai tanda ia tak memerlukan 'hadiah' itu. "Daemonis, kau tahu mengapa aku mengutus anakmu untuk menghadapi Grevaedon pada hari pertama rencana ini?" "Tuan, kami sangat bodoh... kami tak dapat mengerti rencana Tuan. Maka itu kami bertanya kepada Tuan," kata Daemonis merendah sambil mempererat rangkulannya pada tengkuk Lucifer. "Aku ingin menguji kemampuan dan kepribadiannya. Apakah ia pantas menjadi jenderalku atau tidak. Dan ternyata..." "Ia tidak seperti harapan Tuan?" Satania memotong penjelasan Lucifer. "Hahahaha... kau salah, Satania. Ia justru melebihi perkiraanku sebelumnya. Harga dirinya sangat tinggi, dan kemampuannya pun cukup memuaskan! Jika ia menjadi jenderalku, jangankan seluruh umat manusia... bahkan Demiurge dan para malaikatnya akan dihancurkannya menjadi debu!" Jelas Lucifer sambil menerawang ke depan, membayangkan kehebatan Grevaedon jika menjadi jenderalnya. "Tapi Tuan... bukankah ia menolak untuk menjadi jenderal kita?" Tanya Devyl. "Ia memang menolak, dan hingga ke dalam hatinya pun ia tak akan mau melayaniku selamanya. Kita memang tak mampu mengendalikan hatinya, tapi..." "Tapi?" Daemonis penasaran. "Kita dapat mengendalikan tingkah lakunya selama itu tidak bertentangan dengan hatinya. Dan kita justru harus memperkuat keyakinan hatinya hingga ia mau melakukan apa pun yang ia percayai. Sampai suatu saat nanti, hatinya akan berada di titik puncak, di mana aku dapat meledakkan amarahnya untuk menghabisi semua makhluk di muka bumi ini!" Ketiga makhluk yang mengelilingi Lucifer itu terdiam sejenak. Mereka nyaris tak mengerti makna satu kata pun dari penjelasan Lucifer. "Hahaha... tenang saja, kalian tak perlu memikirkannya. Semua skenario sudah tertulis di pikiranku. Kalian hanya perlu menjalankan perintahku. Itu saja," kata-kata Lucifer menenangkan mereka. "Lalu, apa tindakan kami selanjutnya?" Tanya Devyl. "Bangkitkan Fangyerd dari liang kuburnya. Ia mempunyai ikatan yang erat dengan Grevaedon semasa hidupnya. Dengan ini, Grevaedon akan terngiang akan masa lalunya, dan aku ingin melihat apa jadinya kalau masa lalunya harus berhadapan dengan masa kini!" "Fangyerd? Maksud Tuan... naga yang terbunuh sepuluh tahun yang lalu itu?!" Tanya Satania tak percaya. "Ya, Satania. Hidupkan dia dengan kekuatanmu. Buatlah ia hidup dengan kekuatan bangsa Satanic!" "Baik, Tuan! Aku tak akan mengecewakanmu!" Satania mengelus dagu Lucifer, lalu beranjak dari singgasana dan keluar melalui gerbang raksasa yang dihiasi ukiran-ukiran berbentuk iblis-iblis yang mengerikan. Jubah Satania yang berkibar-kibar mengiringi langkahnya hingga keluar dari pintu gerbang. "Tuan..." Daemonis menatap wajah Lucifer, memaksanya menatap balik pada wajahnya yang cantik. "Ada yang mengganggumu, Daemonis?" Tanya Lucifer sambil membelai lembut rambut Daemonis. "Ada yang ingin kutanyakan..." Daemonis menunduk, agak ragu meneruskan kata-katanya. "Katakan saja..." Lucifer mengangkat lembut dagu Daemonis. "Mengapa Tuan menolong Grevaedon hari itu? Aku tidak mengerti..." "Hanya itu Daemonis? Hahaha... Aku hanya ingin menciptakan 'masa kini' Grevaedon. Agar suatu saat dapat kutentangkan dengan 'masa lalu' dan 'masa depan'nya. Dengan begitu, ia akan menjadi semakin kuat dan tak terkalahkan, tapi di sisi lain, menjadi semakin mudah kuledakkan!" Jelas Lucifer. Daemonis menatapnya dengan kerut di keningnya, berusaha keras memikirkan apa arti perkataan Lucifer itu. Namun, ia tak sanggup mengkonsumsinya. "Tuan, aku... masih tak mengerti..." Katanya lagi. "Aku juga..." Devyl tiba-tiba sudah duduk di sebelah kiri Lucifer, menggantikan posisi Satania. "Suatu saat nanti, bila waktunya telah tiba, kalian pasti akan mengerti. Kujanjikan itu!" Lucifer merangkul kedua iblis itu, memaksa mereka menumpangkan kepalanya pada bahu Lucifer. "Hahahaha... hahaha... HUAHAHAHAHAHAHAHA!!!" Tawa Lucifer menggema di seluruh penjuru neraka. Semua iblis yang mendengarnya segera menghentikan pekerjaan mereka, dan segera bersembah sujud ke arah ruang singgasana tempat Lucifer duduk bersama kedua istrinya. --------------------- Jauh di atas langit, di balik awan-awan, di atas batas kemampuan terbang burung-burung, berdirilah sebuah istana megah yang melayang di atas awan. Di puncak istana itu terlihat patung salib yang dibelit seekor ular berkepala singa. Cahaya matahari yang nyaris menyilaukan menyinari tempat itu. Di depan bangunan yang sangat megah itu, Michael sedang berdiri diam dan termenung. Pikirannya membawanya ke pertarungan yang dialaminya beberapa waktu yang lalu, saat ia dan pasukan malaikatnya mengepung Lucifer dan Grevaedon. Saat itu salah satu malaikatnya berhasil menancapkan anak panahnya pada punggung Grevaedon, hingga naga itu roboh. Namun Lucifer masih berdiri dengan senyuman tenang di wajahnya... <<<<<<<<<<<<<<<< Michael menggenggam erat pedangnya dan menatap Lucifer dengan pandangan yang tajam. Mata birunya bertatapan dengan mata merah Lucifer. Perlahan-lahan, diayunkanlah kakinya selangkah demi selangkah mendekati Lucifer yang berdiri di depan tubuh Grevaedon yang sudah terkapar tak berdaya di atas tanah. "Majulah saudaraku. Bunuhlah saudaramu yang murtad ini. Hukumlah aku karena aku telah menentang Lord Demiurge seratus ribu tahun yang lalu!" Lucifer semakin memanas-manasi Michael sambil terus mengumbar senyumnya. Sementara Michael kini telah berada tepat selangkah di hadapan LUcifer. Michael tak berkata apa-apa. Tanpa basa-basi, diayunkannya pedang apinya dengan tangan kanannya dari atas untuk menebas tubuh Lucifer. Namun, tangan kiri Lucifer berhasil menggenggam pergelangan tangan kanan Michael tepat sebelum pedang itu menebasnya. Lucifer masih menampilkan senyuman manisnya dengan tenang, seolah-olah ia tak menggunakan seluruh kekuatannya untuk menahan serangan Michael. Sebaliknya, Michael justru terlihat begitu kewalahan saat tangannya digenggam oleh Lucifer. "Hehehehe... kau lihat, saudaraku. Dirimu lemah. Kau lemah karena kau terkekang. Terkekang oleh kesetiaanmu yang buta kepada Demiurge. Lihatlah diriku! Aku bahkan dapat menahan seranganmu dengan mudah! Ini karena aku bebas. Aku telah terbebas dari kekangan Demiurge!" Lucifer terus-menerus memanasi Michael. "Semuanya, BUNUH LUCIFER!!" Perintah Michael kepada para anak buahnya. Serentak, berbagai macam senjata yang digenggam masing-masing bawahan Michael menyerang Lucifer... DHUAAARR!!! Sebuah bola api tiba-tiba meledak di tengah-tengah kepungan para malaikat. Setelah itu, asap dari ledakan itu semakin tebal dan tebal, menutupi pandangan para malaikat dari pertarungan Lucifer dan Michael. "UAAAKKKHHH!!!" "UGHH!!" "TIDAAAAAKK!!!" Teriakan-teriakan para malaikat pun terdengar dari balik asap tebal itu. Michael yang mendengar suara anak-anak buahnya mulai khawatir dan mengalihkan pandangannya ke sekelilingnya yang masih ditutupi asap tebal. Sementara Lucifer memperlebar senyuman di wajahnya. Sesaat kemudian, asap tebal itu pun pudar. Terlihat tiga sosok wanita iblis berdiri di belakang Michael, dengan tubuh para malaikat berserakan di sekelilingnya. "Ka... kau..." Michael kehilangan kata-kata. Tangan kanan Michael yang mengendur membuat Lucifer mampu membanting tangannya ke belakang tubuh Michael, membuatnya agak kehilangan keseimbangan dan mundur beberapa langkah. "Ayo... apa yang akan kau katakan saudaraku? Katakan saja! Jangan malu-malu seperti itu!" Canda Lucifer dengan sinis, sambil membungkukkan badannya untuk mengangkat tubuh Grevaedon yang terbaring di atas aspal. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan memunculkan sayap hitamnya yang hanya selembar. "Camkan ini baik-baik Michael... suatu hari, bumi, surga, bahkan neraka akan dibersihkan hanya oleh seekor makhluk. Kekuasaan Demiurge akan berakhir, dan era baru ras kita akan dimulai!" Seringai Lucifer dari balik punggungnya. Tak lama kemudian, sayapnya pun mulai mengepak, membawa Lucifer dan Grevaedon terbang tinggi ke angkasa. Begitu pula dengan Daemonis, Devyl, dan Satania... >>>>>>>>>>>>>>> "HAI, MICHAEL..." Suara yang besar dan agung tiba-tiba terdengar dari balik awan yang bersinar terang benderang, memecahkan lamunan Michael. Michael pun berbalik, lalu menatap awan yang bersinar terang benderang tersebut. Saking terangnya sinar yang menembus awan itu, hingga awan itu terlihat seperti tembus pandang, memperlihatkan siluet makhluk yang tubuhnya memanjang seperti ular, namun kepalanya bersurai seperti singa. "Ya, Tuanku Demiurge..." Michael menunduk dan menancapkan pedangnya pada awan, dan berlutut dengan lutut kanan menyentuh awan. "Maafkan hamba yang gagal melaksanakan tugas untuk membunuh Grevaedon dan Lucifer." "Engkau tak perlu risau, anakku. Saat itu kau dan malaikat-malaikatku pasti sudah kelelahan setelah menghadapi Legion. Aku mengampunimu," Kata suara itu. "Syukur kepada Tuan!" Michael berteriak lantang, sebagai tanda terima kasih dirinya telah diampuni. "Sekarang Michael, apa kau tahu tujuan saudaramu itu membawa Grevaedon?" Tanya Demiurge. "Hamba begitu bodoh, Tuan... hingga tak sanggup mengerti tujuan Lucifer membawa Grevaedon," jawab Michael merendah. "Tapi kurasa ia masih ingin mempegaruhi Grevaedon agar menjadi anak buahnya, Tuanku!" Tambahnya. "Hmm... begitu... kalau begitu, segera susun rencana untuk menangkap Grevaedon! Menangkap Lucifer akan terlalu sulit, tapi menangkap Grevaedon, kurasa itu tak masalah bagimu!" Perintah Demiurge. "Hamba siap melaksanakan perintah, Tuan!" Jawab Michael tegas. "Grevaedon... kau akan kutangkap hidup-hidup!" Gumamnya. To Be Continued... Demiurge's true form (taken from Wikipedia): http://upload.wikimedia.org/wikipedia/comm...faced_deity.jpg
|
|
|
| serpentwitch |
|
King of Special effects
     
Group: Admin
Posts: 915
Member No.: 2
Joined: 1-May 07

|
|
|
|
| V33D12AG0N |
|
The Last Dragon
    
Group: Admin
Posts: 523
Member No.: 28
Joined: 21-May 07

|
Lho? Baru sampe seri segini toh di sini?? Padahal dimana2 udah update 2 seri  sori telat.... Sixth Shard/1: Chaos on the Sea Jauh di bawah sana, di balik beberapa lapis awan, di sebuah perempatan jalan, seorang laki-laki yang bertubuh tinggi dan tegap sedang berjalan menyeberang jalan raya... ------------------------- Tanpa memperhatikan sekelilingku, aku berjalan begitu saja menyeberangi jalan raya ini. Tapi aku tak menyangka tiba-tiba di sisi kananku terdengar suara-suara bising yang memekakkan telinga. TTIIIINNNN!!! TTIIIINNNN!!! TEEETTT!!! TEEETTT!!! Apa yang mereka lakukan? Aku memandang wajah-wajah manusia yang berada dalam alat-alat transportasi itu. Semuanya sepertinya sedang menatapku dengan pandangan benci. Beberapa di antaranya memberi isyarat agar aku cepat minggir. Apa salahku pada mereka? Ataukah mereka sudah mengetahui jati diriku yang sebenarnya? "GREV!!! KAU MAU MATI YA?! CEPAT KE SINI!!" Teriakan Rose membuyarkan lamunanku. Aku pun segera berjalan ke seberang jalan. Setelah aku tiba di seberang, mendadak suara-suara terompet itu tergantikan oleh suara geraman mobil-mobil yang melaju sekuat tenaga mereka. "Apa maksudmu 'mau mati'?" Aku menanyakan perkataan Rose tadi. "Kau menyeberang benar-benar seperti orang bodoh! Tiba-tiba saja kau berhenti di tengah jalan dan menghalangi jalan mobil-mobil itu. Itu sama saja dengan cari mati! Bagaimana kalau mobil-mobil itu menabrakmu?!" Rose mengomel panjang di telingaku. Kalau mobil-mobil itu menabrakku? Tentu aku tidak akan apa-apa. Masa mobil-mobil yang daya lajunya tidak seberapa itu mampu menggulingkan tubuhku? Oh, tampaknya Rose sudah mulai melanjutkan perjalanannya. Ia sudah berjarak beberapa langkah di depanku. Aku pun segera berjalan mengikutinya. Ini adalah yang ketiga kalinya aku diajak Rose berjalan-jalan keliling kota Jakarta. Ia tahu banyak hal tentang kota ini. Ia suka membeli barang sehari-hari di tempat yang disebut 'supermarket', atau, kalau ia sedang punya banyak waktu, ia mengajakku belanja ke pasar, di mana harga barang sehari-hari lebih murah daripada di mall. Sejak hari aku pingsan dan ditolong oleh seseorang dan dibawa ke rumah Rose, aku memutuskan untuk tidak merepotkannya lagi. Aku berbohong kalau aku punya rumah di dekat apartemennya, hingga setiap saat aku dapat mengunjunginya dan mempelajari hal-hal tentang manusia darinya. Jika aku membutuhkan makanan, aku pasti keluar dan memburu sendiri mangsaku seperti dulu. Kini, setelah satu bulan, aku telah mengerti sebagian besar pola hidup manusia. Oh iya, masalah berbohong itu... sebenarnya Rose benar-benar penasaran di mana aku tinggal. Ia selalu menanyakan hal itu, tapi aku menolak memberitahunya. Suatu hari, ia bersikeras mengikutiku ke mana pun aku pergi hingga tiba di rumahku. Akhirnya, kuputuskan untuk naik ke atap gedung, dan duduk termenung di sana sampai Rose lelah dan tidur dengan sendirinya. Aku hanya tinggal mengangkatnya dan mengembalikannya ke kamarnya. Sejak saat itu, ia kapok melakukannya lagi. Tak seperti manusia betina... maksudku, wanita pada umumnya, Rose suka memakai celana pendek, tiga perempat, atau celana -- yang ia sebut -- jeans, bukan rok. Bahkan selama ini aku tak pernah melihatnya memakai rok sekali pun. Padahal, saat kulihat ia menemui teman-temannya di bawah apartemen, banyak di antara mereka yang memakai rok. Setelah sekian lama berjalan, akhirnya kami tiba di apartemen Rose. Setelah membuka pintu dengan kuncinya, Rose mendorong pintu itu agar terbuka. Kemudian ia memasukkan sebagian besar barang yang ia beli ke dalam kulkas. Jadi, bisa disimpulkan kalau sebagian besar yang ia beli itu adalah bahan makanan, karena kulkas adalah tempat menyimpan makanan. "Grev, tolong nyalakan ACnya..." Perintahnya. Aku sebenarnya tak suka diperintah-diperintah seperti ini. Tapi ya... sudahlah, terpaksa aku harus mengalah untuk manusia sepertinya. Setidaknya perintahnya tidak merugikanku. Tapi masalahnya sekarang hingga kini aku belum bisa menyalakan AC. Ya, aku tahu kalau aku hanya perlu memencet satu tombol di remote AC, tapi aku tak tahu tombol yang mana! Karena aku tak ingin terlihat -- apa yang disebutnya -- 'gaptek', aku pun meraih remote AC dan mencoba memencet tombol-tombol di remote itu, berharap AC itu akan menyala kalau keberuntunganku tepat. TIT... Ya, bagus! ACnya berbunyi! Itu tandanya sudah menyala, kan? Rose pun memandangi AC, lalu menatap ke arahku yang masih memegang remote AC. "Apa yang kau lakukan? ACnya belum menyala tuh..." Katanya. Apa? Belum? Lalu suara tadi itu apa? Aku pun memencet tombol yang tadi kupencet agar menimbulkan suara lagi. Siapa tahu tadi suaranya kurang kuat sehingga ACnya tidak menyala. TIT... Rose kembali menatap AC, dan berbalik lagi menatapku. "Grev, sebenarnya kau bisa tidak sih, menyalakan AC?" Tanyanya. Lho? Memangnya ACnya belum menyala? Kurasa suara itu cukup keras! Aku pun memencet tombol itu berulang-ulang agar ACnya hidup. TIT TIT TIT TIT... "Hentikan, Grev! Kau ini benar-benar..." Katanya sambil meraih remote itu dari tanganku, lalu memencetnya sendiri. TIT... Lubang AC itu pun terbuka dan udara sejuk menyembur keluar dari dalamnya. Nah, sekarang baru ACnya benar-benar hidup. Tapi, kenapa tadi ACnya tidak hidup, padahal aku sudah menimbulkan suara yang sama? "Yang tadi kau pencet itu tombol penurun suhu, yang mengatur panas-dinginnya AC, tapi tidak menyalakannya! Ini lho tombol untuk menyalakannya..." Katanya sambil menunjuk-nunjuk tombol besar berwarna merah pada remote AC itu. "Ya, aku tahu... tadi aku hanya salah pencet saja..." Aku mengelak. "Sudahlah Grev... kalau kau memang tak tahu, bilang saja! Kelihatan sekali kalau kau memang tak tahu cara menyalakan AC ini. Lain kali kalau ada hal yang tidak kau ketahui, tanyakanlah padaku! Seperti kata pepatah, malu bertanya, sesat di jalan!" Nasehatnya. "Iya iya..." Aku mulai sebal dengan penjelasannya. Lagipula apa kalau aku malu bertanya akan tersesat di jalan? Tidak juga... buktinya aku berhasil menemukan alamat ini tanpa bertanya kepada siapa-siapa. Ya... meskipun membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapainya. Tampaknya sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan di sini. Sebaiknya aku pulang saja ke atap gedung, dan bersiap berburu ikan untuk makanan malam ini. "Rose, sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku pulang sekarang, ya!" Pamitku. "Tunggu!" Katanya sambil membuka kulkas dan merogoh-rogoh sesuatu. "Kau suka apel?" Tanyanya sambil menyodorkan buah berwarna merah dengan tangkai pada ujungnya. "Sebenarnya aku lebih suka daging..." Jawabku. "Sudahlah, ambil saja, tak usah malu-malu!" Pintanya. "Baiklah..." Jawabku sambil meraih apel itu dan meninggalkan apartemen Rose. Aku pun menaiki tangga hingga tiba di atap gedung, kemudian segera kukeluarkan sepasang sayap nagaku, dan terbang lurus ke atas menembus awan, baru setelahnya aku berubah ke wujud nagaku sepenuhnya dan terbang ke arah lautan. Kenapa aku tidak langsung saja terbang ke arah lautan? Itu sudah jelas, aku tak ingin terlihat oleh manusia. Kalau aku langsung terbang begitu saja, tentu penduduk kota Jakarta akan melihatku dan memburuku hingga aku mati dengan konyol. Setibanya di lautan luas, yang disebut manusia dengan Laut Jawa, aku pun segera menukik untuk memburu mangsaku. Memang, ikan-ikan di perairan dangkal ini rasanya tidak sekenyal dan seenak ikan-ikan di Samudera Hindia yang dekat dengan tempat tinggalku dulu. Tapi ini sudah cukup kalau hanya untuk memuaskan rasa laparku. Setelah puas makan, biasanya aku akan ke sungai-sungai di pulau Kalimantan untuk minum. Kenapa aku tidak minum dari air laut atau sungai di Jakarta? Air laut mengandung garam, yang justru akan membuatku merasa semakin haus jika diminum, dan air di Jakarta terlalu kotor oleh sampah-sampah manusia dan rasanya benar-benar tidak enak. Setelah beberapa ekor ikan kusantap, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Aku merasa sedang dibuntuti sesuatu... atau bahkan beberapa makhluk. Aku pun menghentikan gerakanku, dan mengawasi sekitarku, dan bersiaga kalau-kalau ada serangan mendadak. Dan benar saja... ZRAAASSSHHH!!! Beberapa berkas panah terbang bersamaan melintasi telinga, ketiak, dan kakiku dari belakang. Begitu aku berbalik untuk melihat siapa pelakunya, tiba-tiba sebuah jaring raksasa menerjang tubuhku, hingga apel yang kugenggam pun terjatuh ke laut. Tampaknya jaring-jaring ini dikaitkan dengan panah-panah yang tadi sengaja dilepaskan untuk tidak mengenai tubuhku. Mereka tak bermaksud menyerangku, tapi menangkapku! Saat tubuhku masih meronta-ronta untuk melepaskan diriku dari jaring yang begitu kuat ini, sesosok makhluk terbang dengan lembut dan berhenti tepat di hadapanku. Michael! "Atas perintah Lord Demiurge, kau kutangkap, Grevaedon!" Serunya lantang, seiring dengan deru ombak yang berkecamuk di bawah sana. Sesaat kemudian, aku melihat beberapa malaikat turun dari langit, dan beterbangan di belakang Michael. Salah satu di antara mereka membawa busur dan panah, memandangku dengan sinis. Pasti dia yang menjeratku dengan jaring-jaring ini! "LEPASKAN AKU, MICHAEL!!" Geramku. "Grevaedon, kau harus ikut dengan kami ke Surga. Lord Demiurge ingin membicarakan sesuatu denganmu!" Kata Michael sambil menarik jaring yang menjeratku dengan tangan kanannya, seraya mengepakkan keenam sayapnya untuk membawaku ke atas sana. "TIDAK AKAN!!" Bentakku. Aku pun mulai menghirup udara sebanyak-banyaknya, menghimpun kekuatan pada leherku, untuk menyemburkan api ke arah Michael. BWOSSSHHH!!!! Api itu membakar Michael sekaligus menghanguskan tali-tali jaring yang menjeratku. Otomatis, tubuhku pun jatuh ke bawah karena tak ada yang menahan bobotku. Aku pun segera mempersiapkan diriku untuk mengambil kuda-kuda bila aku menyentuh daratan nanti... ups, sial! aku lupa kalau aku sedang berada di tengah-tengah lautan! Percuma saja aku mempersiapkan kuda-kuda kalau ujung-ujungnya... TAP! Lho? Kaki dan tanganku mendarat pada sesuatu yang padat, licin, dan dingin, bukan tercebur ke lautan! Aku kini berada di atas sebuah balok es! Bagaimana bisa tiba-tiba ada balok es di tempat yang beriklim tropis seperti ini? Samar-samar, terdengar kepak sayap yang tebal dan berat, seperti kepak sayap seekor naga. Tapi itu jelas bukan suara kepakan sayapku yang masih diam dengan tenang ini. Suara itu terdengar berputar-putar di sekitar area pertempuran ini. Semua malaikat, termasuk Michael sendiri, menoleh kesana kemari untuk mencari sumber suara itu. Udara dingin mulai menyelimuti tempat ini. "AKKKHHH!!!" Teriak salah seorang malaikat yang membawa tongkat. "Tanganku... membeku!" "ARRRGGHHH!!" Kini giliran malaikat yang membawa ketapel. "Sa... sayapku!" Raungnya sambil menatap sayapnya yang dihiasi bunga-bunga es. "SIAPA KAU?! TAMPAKKAN DIRIMU!" Tantang Michael sambil menghunus pedang apinya yang mulai berpijar. "Aku... Fangyerd... Sang Naga Es!" Sahut suara misterius yang tak jelas dari mana asalnya. Tunggu! Namanya... Fangyerd? Fangyerd sang Naga Es? Pasti dia... WUSSSHHH!!! Tiba-tiba semburan angin dingin membekukan pedang Michael. Tak lama kemudian sosok misterius itu menampakkan wujudnya di hadapan Michael. Seekor naga yang warna tubuhnya putih kebiruan dan mengkilap, dengan satu tanduk di dahinya terus mengepakkan sayapnya agar dapat terbang seimbang dengan lawan yang dihadapinya. Benar. Sosok itu! Tanduk dan kulit yang khas itu... tak salah lagi. Dia benar-benar Fangyerd, sahabat masa kecilku! "Fangyerd! Syukurlah, kau masih hidup!" Teriakku dari bawah. Ia hanya tersenyum kecil ke arahku, lalu kembali menatap Michael dengan pandangan serius. Ya, aku kenal betul dengannya. Ia paling tidak bisa membagi konsentrasinya. Bila ia sedang terpusat pada satu hal, ia tidak akan terusik dengan hal lainnya. Benar-benar Fangyerd yang kukenal sejak dulu! Michael hanya perlu mengibaskan pedangnya sekali untuk mencairkan es yang membekukan pedangnya, sekaligus mengaktifkan kembali bara apinya. Fangyerd pun segera menerjang Michael. Michael mengayunkan pedangnya untuk melawan, tapi tangan kiri Fangyerd menahan tangan kanan Michael, sementara tangan kanan Fangyerd menerkam leher Michael, dan mendorongnya ke permukaan laut. Namun, sebelum sayap Michael bersentuhan dengan permukaan laut, Michael memperkuat pijar api pada pedangnya, memaksa Fangyerd melepaskan cengkeraman tangan kirinya. Michael pun mengibaskan pedangnya ke tangan kanan Fangyerd yang menerkam lehernya, sehingga Fangyerd pun harus melepasnya. Melihat Fangyerd agak kewalahan menghadapi Michael, aku pun ikut turun tangan. Segera setelah Fangyerd mundur, aku segera menerkam Michael, dan meneruskan usaha Fangyerd tadi untuk mendorongnya ke permukaan laut. Dan usahaku pun berhasil. Tubuh Michael tercebur ke laut, bersama-sama dengan pedang apinya yang padam begitu saja jika terkena air. Tapi tak lama kemudian, aku mendengar suara seperti ribuan batuan dijatuhkan ke air. Ternyata itu malaikat dengan ketapel yang sebelah sayapnya membeku karena serangan Fangyerd. Ia mencoba menyelamatkan Michael dengan cara menghujaniku dengan ribuan batu bercahaya yang dilemparkannya dengan sangat cepat melalui ketapelnya. Mungkin karena sayapnya yang membeku sebelah, ia jadi kesulitan terbang dan menfokuskan serangannya padaku, sehingga semua serangannya meleset. Fangyerd pun tidak tinggal diam. Ia segera berbalik dan menyerang malaikat berketapel itu. Sementara itu, di permukaan laut terlihat gelembung-gelembung yang tidak lazim. Gelembung-gelembung itu kemudian disusul seberkas cahaya yang berkobar seperti api melesat dan nyaris membelah tubuhku kalau aku terlambat menghindar. Rupanya serangan itu tak hanya satu. Serangkaian berkas cahaya lainnya beterbangan dari dalam laut mengincar nyawaku. Aku berusaha menghindar kesana kemari, namun anehnya, berkas-berkas cahaya api itu dapat mengikutiku ke mana pun aku terbang. Saat aku sedang sibuk terbang untuk menghindari cahaya-cahaya itu, sosok Michael pun muncul dari dalam lautan dengan pedang yang makin berpijar, rambut yang seakan-akan tertiup angin ke atas, serta aura panas di sekitarnya yang tak hanya membuat air laut mendidih, tapi juga membuat pusaran air di bawah pijakan kakinya. Ya, kakinya kini berpijak di atas air. Michael kini tidak menggunakan sayapnya untuk terbang, melainkan melipat mereka dengan rapi di balik punggungnya, sehingga terlihat menyerupai selembar jubah putih. Aku pun menggesekkan tubuhku ke permukaan laut sambil terbang dengan kecepatan tinggi, hingga air laut pun terbelah olehku, agar cahaya-cahaya api itu terkubur dalam lautan. Namun tampaknya rencana ini tidak berhasil. Mereka bahkan dapat menembus dan memotong jejak ombak yang kembali menutup jejakku di permukaan laut! Aku pun memikirkan rencana lain, yaitu menabrakkan api-api itu satu sama lain. Aku pun terbang vertikal ke atas, lalu dengan tiba-tiba salto ke belakang untuk membalik tubuhku dan terbang horizontal untuk membuat api-api itu bertabrakan. Ya, api-api itu memang bertabrakan, tapi bukannya lenyap, mereka malah bergabung satu sama lain, menjadi satu cahaya api yang lebih besar dan kuat! Sialan, bagaimana aku dapat menghindari serangan macam ini?! Dari kejauhan, kulihat Fangyerd sedang dikepung oleh beberapa orang malaikat-malaikat Michael. Sementara Michael sendiri hanya berjalan dengan tenang di atas air menuju ke tempatku berada. "Api itu akan terus mengejarmu ke mana pun kau terbang, Grevaedon. Kau takkan bisa lolos kali ini!" Kata Michael dalam senyumnya. "Sialan kau Michael!" Erangku dalam usahaku bermanuver untuk meloloskan diri dari serangan Michael ini. Entah berapa lama lagi aku bisa bertahan? To Be Continued...
|
|
|
| V33D12AG0N |
|
The Last Dragon
    
Group: Admin
Posts: 523
Member No.: 28
Joined: 21-May 07

|
lha? di sini blom lanjut toh?
OK deh gw lanjutin... meskipun tak mengubah fakta di sini udah sepi abis kayak kuburan... @_@
ixth Shard/2: Fangyerd, the Vampire Dragon
Aku mendapat ide! Kutingkatkan kecepatan terbangku menuju ke tempat para malaikat mengepung Fangyerd. Kutabrak malaikat yang membawa tongkat, dan kubelit tubuhnya menggunakan ekorku, menjadikannya sandera agar Michael memadamkan serangannya sendiri. Ia tak akan melukai malaikatnya sendiri, bukan?
Tapi ternyata dugaanku keliru. Api itu terus mengejarku tanpa mengurangi kecepatan walaupun malaikat yang kubawa di ekorku hanya terpaut beberapa jengkal dari jarak api itu! Dengan terpaksa, kulepaskan kembali malaikat itu agar aku dapat terbang lebih cepat. Malaikat itu dapat berkelit dan lolos dari serangan Michael, dan aku pun kembali dikejar-kejar oleh api itu.
WusSSHHH.... tiba-tiba udara dingin menyemprot ke belakangku, melenyapkan api yang mengejarku sedari tadi. Oh iya, benar juga... aku baru menyadari kalau nafas es Fangyerd mungkin bisa memadamkan api Michael ini! Tapi kalaupun aku mengetahui ini sejak awal pun, kurasa aku tidak akan meminta tolong pada Fangyerd karena ia sedang dikepung malaikat-malaikat Michael dan aku tak ingin menambah repot dirinya.
Tapi sudahlah, karena akhirnya aku sudah tertolong, "Terima kasih, Fang..." Ucapku lirih.
"Sama-sama, Vae!" Balasnya. Ya, itulah bagaimana Fangyerd menyebut namaku, 'Vae', sebagaimana orangtuaku memanggil namaku juga.
Aku pun membalikkan tubuhku ke arah Michael yang sedang berjalan dengan tenangnya mendekatiku dan Fangyerd. "Michael... kau bahkan tega mengorbankan temanmu sendiri demi membunuhku?!"
"Mereka hanyalah kroco-kroco yang tidak berguna. Kalaupun salah satu atau bahkan semua dari mereka mati, aku tidak peduli karena aku..." Michael mengangkat tangannya yang menggenggam pedang lurus ke atas. Aku dan Fangyerd pun memasang kuda-kuda, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
"...AKU BISA MENCIPTAKAN MEREKA LAGI!" Serunya dengan lantang sambil mengibaskan pedangnya kuat-kuat ke arahku dan Fangyerd. Kami berdua pun berpencar untuk menghindari garis api yang diciptakan Michael. Tapi garis itu tidak menghilang begitu saja. Garis itu meliuk-liuk, perlahan-lahan melingkupi tubuhku dan Fangyerd.
"A... apa ini?!" Aku kebingungan menghadapi serangannya yang 'aneh' ini.
"Lahirlah anak-anakku!" Seru Michael. Bersamaan dengan itu, cahaya yang melingkupiku dan Fangyerd berubah bentuk menjadi malaikat-malaikat baru, lengkap dengan senjata mereka masing-masing, mengepung kami berdua.
"HENTIKAN!!" Bentak seseorang dari kejauhan. Aku pun menoleh ke sumber suara itu. Ternyata itu adalah salah satu malaikat Michael yang tadi kujadikan sandera. "Michael... aku sudah muak dengan caramu ini..."
Michael menatap malaikat itu dengan pandangan sinis.
"AKU TAK AKAN MAU MENURUTI PERINTAHMU LAGI!!" Serunya sambil berbalik dan terbang entah ke mana.
"Melawan penciptamu... berarti MATI!" Michael tersenyum bengis sambil memijarkan kembali pedangnya, lalu mengayunkannya sekuat tenaga, membentuk cahaya api seperti yang tadi mengejarku.
Api itu melesat menyusul malaikat yang tadi melawan perintahnya. Namun karena jaraknya terlalu jauh, aku tak dapat memastikan cahaya itu mengenainya atau tidak. Namun Michael tampaknya sangat yakin kalau malaikat itu sudah mati.
Dengan tenang, Michael pun mengalihkan pandangannya ke kami berdua.
"Sekarang, kalian akan kubawa ke Surga untuk diadili oleh Lord Demiurge hidup-hidup. Tapi, jika kalian melawan, aku juga tidak dilarang untuk membawa kalian tanpa nyawa!" Serunya.
Melihat gelagat kurang menguntungkan, aku pun menoleh kepada Fangyerd, kalau-kalau ia mempunyai sebuah rencana. Kami, sesama naga, dapat berbicara satu sama lain dengan telepati, yaitu suara hati yang tidak akan terdengar oleh orang lain.
[Fang, apa kau mempunyai rencana untuk menghadapi situasi ini?], tanyaku.
[Tenanglah Vae. Kalau hanya malaikat-malaikat bersayap dua ini, aku bisa membekukan mereka!] Jawabnya.
[Tapi, bagaimana dengan Michael?]
[Setelah kita bereskan para malaikat ini, aku akan menciptakan kabut es dari nafasku, sehingga kita punya waktu untuk kabur dari tempat ini!] Sahut Fangyerd dengan yakin.
[Baik, dalam hitungan ketiga!] Kataku. [Satu, dua...]
"TIGAAA!!!!" Teriak kami berdua serentak, mengejutkan para malaikat yang mengepung kami. Dengan cepat, kami menyeburkan nafas es dan api untuk melawan para malaikat. Sementara mereka berteriak kesakitan, Aku dan Fangyerd segera terbang menjauh dari tempat itu. Dan seperti dugaan kami, Michael pun terbang membuntuti kami. Ia tidak lagi berpijak pada permukaan laut, tapi mengepakkan sayapnya untuk terbang sambil membelah permukaan laut.
"Fang, Sekarang!" Teriakku. Fangyerd pun segera menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu menyemburkannya ke permukaan laut di hadapan Michael.
Seketika kabut dingin menutupi tempat itu, sekaligus membekukan permukaan laut. Kami berdua pun akhirnya berhasil meloloskan diri dan tiba di sebuah pantai di Jakarta pada saat cahaya kemerahan mulai menghiasi ufuk Timur.
Aku pun kembali ke wujud manusiaku, begitu juga Fangyerd. Baru kali ini aku melihat wujud manusia Fangyerd. Wujudnya adalah seorang manusia berkulit putih pucat, dengan rambut berwarna putih salju. Menurutku, wujudnya ini benar-benar tak terlihat seperti manusia normal.
"Kau datang tepat waktu Fang. Dan... terima kasih atas bantuanmu tadi..." Kataku sambil menepuk punggungnya. Tak kuduga, tubuhnya kini sangat lemah, hingga satu tepukan di punggungnya pun membuatnya terdorong hingga hampir jatuh.
"Sama-sama Vae... Aku tak menyangka... kau ternyata masih bertahan hidup sampai sekarang..." Katanya sambil berusaha menegakkan kembali tubuhnya.
"Kau tak apa-apa, Fang?" Tanyaku mengkhawatirkan keadaannya.
"Aku... hanya merasa lapar..." Jawabnya.
"Kalau begitu, akan kucarikan ikan untukmu. Mungkin ikan-ikan di sini tak seenak ikan-ikan di sungai Gangga atau Samudera Hindia di dekat daerahmu tinggal dulu, tapi kurasa itu cukup untuk mengenyangkanmu," hiburku sambil bersiap-siap mengeluarkan sayapku.
"Tidak... tidak perlu, Vae..." Ujarnya lemah. "Aku... akan mencari makananku sendiri!" Katanya sambil memunculkan sayapnya dan terbang ke lautan. Khawatir dengan keadaannya, aku pun terbang menyusulnya.
Aku memperhatikan Fangyerd dari balik awan. Ia tidak kembali ke wujud naganya, namun hanya mengaktifkan sayapnya saja. Apa yang dipikirkannya? Beberapa saat kemudian, ia terbang mendekati sebuah kapal besar yang ditumpangi beberapa orang manusia. Apa yang akan ia lakukan? Apa ia akan memangsa manusia-manusia itu?
DRAP!!
Pijakan kaki Fangyerd di atas kapal itu mengejutkan sebagian manusia yang berada di atasnya. Dengan perlahan, ia melipat sayapnya dan berjalan mendekati manusia-manusia itu.
"Ma... makhluk apa kau?! PERGI!! PERGI!!" Teriak salah seorang dari mereka yang terpojok ketakutan oleh Fangyerd. Fangyerd pun meraih leher manusia itu, lalu menggigitnya. Aneh, kalau ia akan memakannya, mestinya ia tidak menggigit lehernya! Lagipula ini sudah keterlaluan! Ia memangsa manusia-manusia yang tak berdosa!
Beberapa saat kemudian, ia melepaskan manusia itu. Manusia yang baru saja ia gigit lehernya itu terkulai lemas. Kulitnya menjadi pucat seakan-akan ia kehabisan darah. Fangyerd... menghisap darah manusia? Tidak mungkin! Aku pun segera terbang ke bawah untuk menyusulnya. Sementara itu, ia sudah meraih leher korban keduanya.
"HENTIKAN, FANG!!" Teriakku saat aku hampir tiba di kapal itu. "Kau sudah keterlaluan!"
Fangyerd hanya meneruskan acara 'makan'nya, seakan-akan tidak menghiraukanku. Kupanggil dia sekali lagi.
"FANG!!"
Fangyerd pun menoleh ke arahku yang kini sudah berdiri di kapal itu. Mulutnya penuh dengan darah manusia, hingga bibirnya pun berwarna merah. Dan anehnya lagi, gigi-gigi taringnya terlihat lebih besar dari biasanya. Meskipun taring naga memang besar, tapi dalam wujud rahang manusia mestinya ia tidak sanggup mengeluarkan taring sebesar itu!
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?!" Bentakku.
"Kini aku bukan lagi seekor naga, Vae..." Jawabnya lirih sambil membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekati mangsa ketiganya.
"Fang..." Teriakanku tertahan, begitu pula dengan tangan kananku yang sudah terangkat ke depan untuk menghentikannya. Aku melihat caranya makan. Ia menggigit leher manusia itu, menusukkan taring-taringnya, lalu melalui taring-taring itu ia menghisap darah manusia itu hingga habis.
Aku hanya bisa terpaku menatapnya hingga ia menghisap habis darah semua manusia yang berada di atas kapal itu. Setelah memuaskan nafsu 'makan'nya, barulah ia menghampiriku sambil menggesekkan tangannya pada mulutnya untuk membersihkan noda darah. Bukannya bersih, noda darah itu malah semakin meluas hingga membasahi pipinya.
"Aku yang sekarang... adalah seekor naga vampir..." Ujarnya. Deburan ombak menghiasi percakapan kami yang sempat tertahan beberapa detik setelah ia mengakui hal itu.
"Naga... Vampir?" Aku sedikit tidak mengerti mengenai apa yang dibicarakannya.
"Sebenarnya, aku telah mati di tangan para Dragon Slayer sepuluh tahun yang lalu," ia memulai ceritanya.
"Mati?!" Aku tak percaya.
"Ya. Mati. Aku pun dikuburkan di sebuah pulau tak berpenghuni oleh para pembunuhku itu..." lanjutnya. "... tapi sepuluh tahun kemudian, aku dihidupkan kembali oleh bawahan Lucifer sebagai naga vampir."
"Bawahan Lucifer?" Aku mulai curiga. "Apa ia menyuruhmu memaksaku untuk bergabung dengan Lucifer?!"
Fangyerd menggeleng, "Aku punya suatu pesan yang harus kusampaikan padamu..." Nafasku terhenti sesaat. Apa rencana Lucifer kali ini? "Pembunuhku adalah keluarga Dragon Slayer yang berasal dari daratan Eropa. Hanya kekuatan merekalah yang sanggup mengungguli kekuatan kita, para naga. Ingatlah nama keluarga itu. Keluarga Sigurd!"
"Si-gurd?" Aku mencoba mengeja kembali nama keluarga itu.
"Kabar yang kudengar, sebagian besar dari mereka sudah mati, dan tak punya keturunan lagi. Termasuk seorang yang membunuh ibumu empat puluh tahun yang lalu dan dua orang yang tewas di tanganmu lima tahun yang lalu," jelasnya.
"Apa?!" Aku terkejut saat ia mengucapkan frase 'yang tewas di tanganmu'. Aku sama sekali tak merasa membunuh sepasang manusia yang memburuku pada waktu itu! Kurasa aku hanya melukai mereka cukup parah sebelum akhirnya aku mendapatkan informasi bahwa pembunuh ibuku tinggal di Jakarta, negara Indonesia.
"Dan yang tersisa, hanya satu orang... yang bernama Attesor Sigurd, yang kabarnya tinggal di Jakarta," Fangyerd mengakhiri penjelasannya.
"Bu... bukannya namanya adalah Clamory Sigurd?!" Tanyaku, kalau-kalau yang ia maksud adalah pembunuh ibuku.
"Bukan. Clamory Sigurd telah terbunuh oleh racun dari seekor naga lain setelah menderita sakit dan lumpuh selama bertahun-tahun. Sementara naga yang membunuhnya itu pun kurasa sudah mati. Jadi, yang tersisa di bumi ini sekarang, hanya kau Grevaedon, dan Attesor Sigurd," jawabnya.
"Tunggu! Darimana kau tahu semua ini?" Aku mulai curiga bagaimana ia bisa mendapatkan informasi selengkap ini.
"FATE," jawabnya singkat.
"FATE? Siapa itu?"
"Dialah pencipta dan pengatur alam semesta beserta segala isinya. Saat seekor makhluk mati, rohnya akan terbang dan menemui FATE. FATE-lah yang memberitahuku tentang semua ini. Jadi, pasti informasiku ini takkan salah!" Jawabnya dengan yakin.
"Lalu, apa kau tahu di mana Dragon Slayer terakhir itu berada?" Tanyaku lagi.
"Aku tak tahu, tapi aku mungkin bisa mengetahui dari bau darahnya, karena saat aku melukai pembunuhku, aku memperhatikan bau darahnya," katanya. "Bau darahnya khas, karena menurut legenda, orang pertama yang mendapatkan kekuatan Dragon Slayer adalah Sigurd, yang secara tak sengaja berhasil mengalahkan seekor naga bernama Fafnir, meminum darahnya sehingga darah naga itu menyatu dengan darah manusia, dan menimbulkan bau yang sangat khas. Selain itu, kekuatan fisik keluarga Sigurd biasanya berada di atas manusia biasa, jadi kita dapat dengan mudah mengenalinya."
"Begitu..." Aku baru menyadari kalau bau darah bisa mengidentifikasi keluarga Sigurd. Ah, kalau saja waktu itu aku mengingat bau darah dua orang yang memburuku, mungkin aku sudah menemukan si Attesor itu sejak dulu! "Baiklah, kalau begitu, sebaiknya kita segera bergerak menyusuri kota Jakarta untuk mencarinya!" Ajakku dengan semangat.
Kami berdua pun segera beranjak dari kapal itu dan terbang menuju ke pantai. "Tapi Fang..." Aku mulai membuka pembicaraan kembali. "Kurasa kau tak perlu membunuh manusia hanya untuk menghisap darahnya seperti itu. Tak bisakah kau menghisap darah makhluk lain selain manusia?"
"Ada apa denganmu, Vae? Bukannya kau mempunyai dendam yang mendalam pada manusia sejak dulu?" Tanya Fangyerd.
"Itu dulu Fang. Aku sekarang tahu kalau manusia itu ada bermacam-macam. Ada yang baik, ada yang jahat, ada yang serakah, ada pula yang suka berderma. Seperti kita, para naga yang mempunyai berbagai kepribadian dan pikiran," jelasku.
"Hmm... tampaknya kau sudah mengenal dekat dengan manusia ya, Vae?" Tanyanya. Aku hanya menganggukkan kepalaku. "Tapi ketahuilah Vae, semakin kau mengenal manusia, akan semakin sulit kau membunuhnya. Lebih baik kau melupakan segala kebaikan mereka, dan anggap saja mereka semua sama," anjurnya.
"..." Aku terdiam mendengar ucapannya. Aku menyadari kata-kata Fangyerd ada benarnya juga. "Kalau begitu... kita lihat saja nanti..." Balasku sambil bermanuver untuk turun ke daratan. Fangyerd pun mengikutiku.
To Be Continued...
|
|
|
| V33D12AG0N |
|
The Last Dragon
    
Group: Admin
Posts: 523
Member No.: 28
Joined: 21-May 07

|
Sixth Shard/3: The Unforgetable Fight
"Maaf, Pak..." Aku menepuk pundak seseorang yang sedang mendorong gerobaknya. Orang itu segera berhenti dan menoleh padaku. "Bapak tahu orang yang bernama Attesor Sigurd?" Tanyaku.
"Wah... maaf, saya tidak kenal mas..." Jawabnya sambil meneruskan mendorong gerobaknya lagi. Aku pun menoleh ke arah lain, di mana Fangyerd sedang berdiri dan menatapku sambil sedikit mengangkat kepalanya, sebagai isyarat apakah aku sudah menemukannya atau belum. Aku pun membalasnya dengan menggelengkan kepala. Ia segera berbalik dan berjalan ke arah lainnya.
Cara yang digunakan Fangyerd sedikit berbeda dengan caraku. Kalau aku menanyakan apakah orang tersebut kenal dengan Attesor Sigurd atau tidak. Sedangkan Fangyerd langsung menanyai apakah ia Attesor Sigurd atau bukan. Terkadang, kalau ia melihat seseorang dengan fisik yang kekar, ia langsung menusukkan kuku jari kelingkingnya ke tangan orang itu agar darahnya dapat tercium. Kalau ternyata bukan, ia hanya meninggalkannya begitu saja. Tak jarang orang yang terluka itu menantangnya karena Fangyerd sudah melukainya, namun Fangyerd pasti dapat mengalahkannya dengan mudah.
Setelah beberapa hari memburu Attesor Sigurd, pencarian kami sama sekali tak memberikan hasil apa pun. Bahkan tak ada jejak atau petunjuk sedikit pun tentang orang ini. Aku pun menghampiri Fangyerd yang baru saja selesai menanyai seseorang.
"Fang, bagaimana?" Tanyaku singkat.
"Nihil. Tak ada seorang pun di sini yang merupakan Attesor Sigurd..." Jawabnya sambil menatap ke arah lain.
"Aku juga... apa orang itu sudah pindah?"
"Tak mungkin. Ia pasti masih ada di kota ini!" Fangyerd bersikeras.
"Tapi kota ini begitu besar... kita hanya menanyai mereka yang lewat di jalanan saja, tapi tidak menanyai mereka yang berada di dalam rumahnya. Mungkin sebaiknya kita mencari ke rumah-rumah penduduk saja," saranku.
"Baiklah, Vae... ayo kita coba," sahut Fangyerd sambil segera berjalan menuju ke salah satu bangunan di dekat sana.
Aku pun melangkah menuju ke sebuah bangunan besar yang berada tak jauh dari tempat itu. Satu bangunan yang besar pasti berisi lebih banyak manusia daripada bangunan yang lebih kecil kan? Itulah mengapa aku memilih memeriksa tempat itu terlebih dulu.
Sesampainya di pintu utama, ada sepasang manusia yang membukakan pintu untukku. Mereka tersenyum dengan ramah dan menyapaku, "Selamat datang..." Kata mereka bersamaan.
Aku menoleh ke sana kemari, memeriksa setiap sudut ruangan yang ternyata dipenuhi manusia itu. Tampaknya bangunan ini seperti tempat umum yang biasa disebut manusia sebagai mall, tapi anehnya tidak terdapat toko-toko yang menjual berbagai barang di sini. Aku hanya melihat ada beberapa sofa yang tersusun rapi di kanan-kiriku, meja-meja yang didekorasi, dan patung-patung yang menghiasi tempat ini. Sementara di sisi lain ruangan, aku melihat ada sebuah meja panjang di mana orang-orang mengantri seperti akan membeli sesuatu. Tapi meja itu lebih terlihat seperti tempat penitipan barang di mall-mall.
Orang-orang yang baru saja meninggalkan tempat itu pasti membawa sebatang kunci dalam genggaman tangannya. Dari sini aku bisa menyimpulkan kalau meja panjang itu pasti tempat manusia membeli rumahnya. Tapi tunggu dulu! Aku juga melihat ada yang membawa kunci itu kembali ke meja panjang itu sambil membawa tas-tas besar, kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Apa ini tempat untuk manusia yang suka hidup berpindah-pindah? Aku tak mengerti. Penasaran dengan hal itu, aku langsung menghampiri meja panjang itu. Seorang pria pun menyapaku.
"Selamat sore Pak, bisa dibantu?" Tanyanya dengan lembut dan sopan.
"Ehm... apakah Bapak tahu orang yang bernama Attesor Sigurd?" Kataku langsung mengutarakan maksud hatiku.
"Bagaimana mengeja namanya, Pak?" Tanyanya lagi.
Mengeja? Sial... aku tidak bisa mengejanya. Aku sama sekali tak mengerti huruf manusia! Memang, aku diajari berbagai bahasa manusia oleh kedua orangtuaku yang dulu pernah merantau ke segala penjuru dunia agar kelak aku bisa mengerti bahasa manusia, namun mereka sama sekali tak mengajariku huruf-huruf manusia!
"Aku... tidak tahu..." Jawabku malu.
"Kalau begitu, tunggu sebentar ya Pak..." Jawabnya sambil menatap ke balik mejanya. Tangannya terlihat bergerak dengan cepat, dan matanya seperti melihat sebuah televisi di balik meja itu. Aku bisa tahu dari bayangan yang terpantul di matanya.
Kenapa harus melihat benda itu dulu sebelum menjawab pertanyaanku? Padahal kalau ia mengenalnya atau tidak, bisa dijawab secara langsung kan?
"Maaf Pak, kami tidak menemukannya. Mungkin kalau Bapak tahu cara mengejanya, kami bisa menemukannya dengan lebih mudah," jawabnya.
"Hmm... sebenarnya apa yang kau lakukan barusan?" Aku penasaran dengan apa yang dilakukannya tadi.
"Ini? Oohh... aku mencari data tamu-tamu hotel ini menggunakan program komputer," jawabnya.
Program komputer? Hotel? Apa pula itu? Ah, lebih baik aku tidak menanyakan hal ini lebih lanjut sebelum aku bertambah bingung dibuatnya. Yang jelas, tanpa tahu cara mengejanya, aku tak akan bisa menemukannya di tempat ini. Aku pun langsung berbalik dan meninggalkan bangunan itu dan berpikir sejenak.
Kalau begitu, kenapa tidak kutanyakan pada Rosetta saja cara mengejanya? Ya, pasti dia tahu cara mengeja Attesor Sigurd! Sebaiknya aku juga mengajak Fangyerd untuk memudahkan pencariannya. Aku pun kembali ke tempat kami bertemu tadi, dan mencoba memanggil Fangyerd melalui telepati.
[Fang, kembalilah ke tempat kita bertemu. Aku mendapatkan sebuah ide!]
[Baiklah Vae, tunggu aku di sana!]
Beberapa saat kemudian, Fangyerd pun tiba. Aku segera mengutarakan maksudku.
"Fang, sepertinya kita harus mempelajari cara mengejanya agar manusia-manusia itu mengerti siapa sebenarnya yang kita cari. Dan aku tahu pada siapa kita bisa belajar mengeja..."
"Begitukah? Beberapa orang yang kutanyai juga menanyakan bagaimana cara menulisnya. Mungkin memang benar sebaiknya kita tahu cara mengeja 'Attesor Sigurd'," Fangyerd mengiyakan.
"Baiklah, ayo ikut aku!" Ajakku.
Aku merogoh-rogoh kantong celanaku untuk mencari peta yang sudah kumal itu untuk menemukan apartemen Rosetta. Setelah mengamatinya beberapa saat dan memperhatikan arah matahari yang baru saja terbenam serta arah angin, aku mulai melangkah ke apartemen itu, diikuti oleh Fangyerd.
"Kau akan membawa kita ke manusia yang kau kenal dekat itu?" Tanya Fangyerd.
"Ya. Tak ada pilihan lain. Hanya dialah yang sepertinya bisa dipercaya," jawabku.
"Kalau menurutku... tak ada manusia yang bisa dipercaya..." komentar Fangyerd.
"Tidak semua manusia seperti itu. Memang, banyak manusia yang serakah, suka membunuh, menganiaya, dan lain sebagainya. Tapi selain itu, ada beberapa di antara mereka yang tidak sekejam itu," bantahku.
"Apa kau sudah melupakan bagaimana mereka membantai keluargaku dan keluargamu? Mereka tak hanya sekedar membunuh, tapi juga mencuri bagian-bagian tubuh ras kita! Bagaimana kau dapat memaafkan hal seperti itu?!" Fangyerd sedikit membentak.
"Aku tahu, Fang... mereka memang tak termaafkan. Tapi setidaknya ada sebagian kecil dari mereka yang mempunyai hati yang bersih. Kita harus menyadari itu Fang. Kita tak bisa menganggap semua manusia sama. Seperti ras kita juga, bukankah ada naga yang tamak dan jahat, tapi ada juga naga yang baik?"
"Aku... tetap tidak bisa menerima mereka. Merekalah yang menyebabkan ras kita langka dan hampir punah! Sedangkan ras mereka? Lihat! Mereka menguasai seluruh penjuru bumi!"
"Jangan pernah mengambil kesimpulan umum, sebelum mengetahui setiap hal khusus di dalamnya. Itulah yang kudengar dari seorang kakek tua yang kutemukan di pegunungan tempatku tinggal setelah kematian ibuku. Kau belum mengenal setiap sosok manusia, bagaimana kau dapat menyimpulkan semua manusia jahat?"
"Kakek tua? Dan kakek itu manusia, kan? Jelas saja perkataannya membela manusia! Jangan kau percayai perkataannya!" Bentak Fangyerd.
"Tapi kakek itu memang berbeda dengan manusia biasa... saat itu, ia bisa mengenali kalau aku adalah seekor naga. Lagipula tingkah lakunya tidak seburuk manusia-manusia yang kita temui selama ini. Dan setelah itu, aku bertemu juga dengan Rosetta, manusia yang juga ramah dan baik. Dari dialah aku belajar bagaimana kehidupan sehari-hari manusia selama ini..." Aku menceritakan pengalamanku.
"Entah makanan manusia apa yang kau makan hingga kau menjadi seperti ini, Vae... kau sudah melenceng dari tujuan utamamu hidup, yaitu untuk membalas dendam ras kita pada semua manusia," Fangyerd menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tanpa terasa, ternyata kami berdua sudah berada di depan pintu apartemen Rosetta. Aku pun memencet bel yang tertanam di samping pintunya. Ya, aku baru saja menyadari kalau ada bel di depan rumahnya beberapa waktu lalu setelah ia memberi tahuku. Sebelum itu aku selalu mengetuk pintu jika ingin masuk ke rumahnya.
"Sebentar!" Teriak Rosetta dari dalam. Sesaat kemudian, pintu pun dibuka.
"Grev? Ada apa malam-malam begini?" Tanya Rosetta.
"Sebenarnya kami..."
"Belajar mengeja," potong Fangyerd. Rosetta terkejut melihat wujud manusia Fangyerd yang tidak tampak seperti manusia normal itu.
"Me...ngeja?" Rosetta tampak bingung.
"Ya... itulah maksud kedatangan kami," Tegasku.
"Baiklah, kalian masuk dulu..." Rosetta mempersilakan aku dan Fangyerd masuk, lalu ia pun menutup dan mengunci kembali pintunya.
"Hak...!" Baru saja Rosetta berbalik setelah mengunci pintunya, tiba-tiba Fangyerd menyergapnya, dan menusuk telapak tangan kanannya dengan jari kelingkingnya. Mendadak mata Fangyerd melotot, dan tersenyum dengan memperlihatkan gigi-giginya, terutama gigi taringnya yang menonjol.
"VAE! DIALAH ORANGNYA!!" Kata Fangyerd sambil menyeringai tajam ke arahku.
"Tu... tunggu!" Aku berusaha menghentikan Fangyerd.
Fangyerd segera mencengkeram lehernya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
"AKK... ARRGGGG..." Rosetta meronta-ronta, menggenggam tangan Fangyerd sambil menendang-nendangkan kakinya yang sudah tidak berpijak di atas lantai.
"MATILAH KAU!!" Fangyerd melemparkan Rosetta ke arah jendela...
PYAARRR!!!
Tubuh Rosetta terpelanting, membentur kaca jendela, dan langsung terjun bebas ke bawah apartemen.
"ROOOOOSSSEEEE!!!!" Teriakku.
"Vae, sekarang tak ada lagi Dragon Slayer! Kau bisa hidup dengan tenang!" Fangyerd tersenyum puas.
"Bu... bukan dia orangnya, kan?!" Aku menatap Fang dengan mata berkaca-kaca. Aku ingin menyembunyikannya, tapi itu tak mungkin dalam situasi seperti ini.
"Bau darah itu... adalah darah keluarga Sigurd! Tak salah lagi!" Fangyerd tampak begitu yakin.
"Tapi... ia bukan Attesor Sigurd! Ia adalah Rosetta Drugis!" Bantahku.
"Siapapun dia, ia adalah keturunan Sigurd! Ia pantas mendapatkannya!"
Sahabat baikku, membunuh teman manusiaku? Tidak... tidak mungkin... kenapa ini harus terjadi? Kenapa harus Rosetta? Apa yang harus kulakukan? Membalas dendam rasku? Ataukah membalas dendam temanku? Tidak! Aku tak dapat menerimanya!
"FANG! KAU... KAU..." Aku kehabisan kata-kata. Sebagai gantinya, kulayangkan sebuah pukulan ke pipinya.
Pukulanku yang lumayan keras itu mendorong Fangyerd menyusul Rosetta keluar dari jendela. Namun bersamaan dengan itu, ia mengaktifkan sayapnya, sehingga tubuhnya tak sampai jatuh ke bawah. Aku pun segera menyusulnya, ikut terbang keluar jendela dengan sayapku.
Sejenak mataku menatap ke bawah untuk melihat keadaan Rosetta. Tubuhnya menghujam tepian trotoar, meruntuhkan sebagian trotoar dan aspal yang ditimpanya. Manusia biasa tentu saja tidak akan bertahan hidup bila keadaannya sudah seperti ini. Lagipula di malam yang sepi ini, tak akan ada seorang pun yang memperhatikannya. Mungkin besok baru tubuhnya akan ditemukan. Kualihkan pandanganku kembali pada Fangyerd.
"Ada apa Vae? Kau merasa kehilangannya? Bukankah sudah kubilang, makin kau mengenal seseorang, makin sulit bagimu untuk membunuhnya. Jadi, kulakukan ini untuk bagianmu juga! Karena aku tahu, kau pasti sulit untuk membunuhnya. Bukan begitu?"
"Rosetta... tidak seperti itu..." Kepalaku tertunduk. Air mataku menetes ke bawah. "Ia..." Aku mulai mendongakkan kepalaku, menatap Fangyerd. "...ADALAH MANUSIA YANG BAIK!!" Tanpa sengaja, aku menyemburkan api dari mulutku yang tiba-tiba sudah berubah menjadi mulut naga saat mengucapkannya karena terbawa emosi. Api itu mengarah pada Fangyerd yang jaraknya cukup dekat denganku.
Fangyerd menggunakan tangannya untuk menutupi wajahnya dari semburan apiku. Saat apiku padam, tangannya ternyata sudah berubah menjadi tangan naga!
"Baiklah kalau begitu, Vae... kita sudah lama tak bermain bersama bukan?" Fangyerd tersenyum. "Terakhir kita melakukan ini kira-kira seratus tahun yang lalu..." Perlahan-lahan Fangyerd melayangkan tubuhnya ke atas. "Kau pasti ingin..." Fangyerd mengaktifkan kepala naganya. "...BERNOSTALGIA, BUKAN?!" Bentak Fangyerd sambil menyemburkan nafas esnya ke arahku. Aku segera berkelit dan melesat ke atas, menabrak tubuh Fangyerd, membawanya semakin tinggi ke angkasa, menembus awan-awan, menuju langit yang dipenuhi bintang-bintang. Sampai di lapisan langit di mana awan sudah tak tampak lagi, wujud kami berdua sudah sepenuhnya naga.
Bulan purnama yang bersinar terang benderang malam itu menjadi latar belakang pertarungan kami. Dengan bantuan cahaya rembulan, aku dapat melihat wajah Fangyerd dengan jelas. Wajahnya tak berubah setelah sekian puluh tahun kami berpisah. Aku benar-benar merasa seperti dulu lagi, waktu kami masih tinggal di pegunungan Himalaya. Terkesima oleh masa lalu, aku melupakan diriku yang sedang berada di tengah-tengah pertarungan. Fangyerd memanfaatkan hal itu untuk mencakar wajahku dan mencambuk tubuhku dengan ekornya.
Tubuhku pun terhempas ke bawah, kembali menembus awan-awan. Untungnya, aku segera sadar dan dapat menghentikan lajuku dengan mengembangkan sayapku. Fangyerd pun menyusul ke arahku dengan terbang menukik ke bawah sembari melipat kedua sayapnya untuk menambah lajunya. Aku menggulingkan tubuhku ke samping untuk menghindarinya, lalu terbang kembali ke atas.
Fangyerd pun menghentikan lajunya, kemudian terbang dengan cepat untuk menyusulku ke atas. Sebelum Fangyerd tiba, aku sudah mengambil ancang-ancang untuk melontarkan ekorku. Saat ia tiba, aku segera mencambuknya keras-keras dengan ekorku. Tapi sayangnya, ia sudah mengetahui gerakanku, dan menggenggam ekorku dengan kedua tangannya.
"Heh... gerakanmu tak berubah sejak dulu, Vae!" Fangyerd tersenyum.
"Kau juga, masih mengingat gerakanku, Fang!" Sejenak aku merasa perlu tersenyum. Ya, pertarungan ini begitu menyenangkan! Aku nyaris melupakan kesedihan karena kematian Rosetta sesaat yang lalu. Aku melupakan segala dendam, kebencian, dan lain sebagainya. Fangyerd benar-benar membawaku menjadi diriku yang dulu.
Fangyerd kemudian melemparkan tubuhku ke atas, sejajar dengan cahaya bulan yang bersinar terang. Kepalaku sekarang berada di bawah, dan kakiku di atas. Saat itu aku melihat Fangyerd terbang dengan cepat ke arahku. Saat ia hendak menerkamku, aku segera membengkokkan punggungku untuk mengelak sekaligus mendapatkan posisi yang menguntungkan, sementara Fangyerd melaju kencang di atasku.
Saat itu, posisi Fangyerd berada di atas namun ia berusaha membelokkan tubuhnya ke bawah untuk mengejarku. Sedangkan aku yang berada di bawah berusaha ke atas untuk mengambil tempat yang lebih menguntungkan. Bayangan kami berdua yang tepat berada di depan bulan purnama seperti dua ekor naga yang saling berkejaran satu sama lain. Begitu posisiku berada di atas, aku segera mengembangkan sayapku untuk terbang sedikit lebih tinggi, lalu bersiap-siap menyemburkan apiku. Fangyerd yang menyadari hal ini segera menstabilkan tubuhnya, lalu mengambil nafas dalam-dalam...
BLLLLAAAARRRR!!!
Semburan apiku berbenturan dengan nafas es Fangyerd. Kami berdua mengerahkan segenap kekuatan kami untuk saling mengungguli satu sama lain. Untuk beberapa detik, masa lalu kembali terngiang di otakku...
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
"Namaku Fang... Fangyerd..." Ucap Fangyerd kecil dalam wujud naganya sambil menundukkan kepalanya malu-malu.
"Aku Grevaedon!" Kataku sambil menggerakkan ekorku untuk menggandeng ekor Fangyerd. "Aku baru pindah ke sini. Mohon bantuannya ya!" Kataku.
"Oh iya, usiaku baru 10 tahun. Bagaimana denganmu?" Tanyaku pada Fangyerd. "11 tahun..." Jawab Fangyerd pelan.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Fangyerd jatuh bebas ke bawah setelah terbakar api yang kusemburkan dengan meninggalkan jejak kepulan asap di angkasa. Aku segera terbang secepat mungkin untuk menyusulnya. Beruntung, sebelum tubuhnya membentur tanah di area proyek pembangunan, aku berhasil menangkapnya dan mendarat dengan mulus. Fangyerd masih sadar. Ia tersenyum padaku.
"Vae... sejak dulu... nafas esku tidak pernah menang dari semburan apimu. Kau memang... benar-benar kuat..." Puji Fangyerd dengan nafas terputus-putus. Meski kutahan, aku tak bisa menyembunyikan senyum haru dan linangan air mataku. Tanpa sengaja, aku memperhatikan tanduk di dahinya. Tanduk itu sedikit demi sedikit tampak kabur dan lenyap dari pandangan.
"Fang... tandukmu..."
"Ya, aku tahu... waktuku sudah habis... maafkan aku, Vae, aku tidak bisa bersenang-senang lebih lama denganmu..." Ucap Fangyerd. "Maafkan aku lagi Vae... tidak semua yang kusampaikan padamu itu benar..." Lanjutnya beberapa detik kemudian.
"A... apa maksudmu?!" Aku terkejut dengan ucapannya sekaligus sedih karena akan kehilangannya sekali lagi.
"Sebagian dari perkataanku... bukan berasal dari FATE... tapi Lucifer yang menyuruhku menyampaikannya..." Lanjutnya. Kini seluruh tanduknya telah lenyap, dan sebagian kepalanya mulai terlihat kabur.
"APA MAKSUDMU?!" Bentakku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Selamat tinggal... Vae... semoga kau menemukan naga betina dan bisa berkembang biak... Hehehehe..." Tawa Fangyerd menjadi penutup acara perpisahan kami.
"FANG! FANG!!" Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya, namun percuma. Seluruh tubuhnya sedikit demi sedikit menjadi transparan lalu lenyap begitu saja. Setelah melepas kepergian Fangyerd aku segera menyeka air mataku, dan teringat kembali pada Rosetta. Bagaimana nasib gadis itu? Ia gadis yang baik! Tak seharusnya Fangyerd membunuhnya begitu saja hanya karena ia keturunan Sigurd!
Aku pun berlari menuju tempat Rosetta terjatuh. Dan seperti yang kuduga, orang-orang sudah mengerumuni tempat itu, tapi belum merawat atau memindahkan mayatnya dari sana.
"Minggir! Permisi!" Aku menerobos masuk kerumunan itu dan melihat Rosetta masih terbaring dengan posisi yang sama seperti tadi. Aku segera mengangkat tubuhnya, tapi seseorang tiba-tiba menepuk punggungku.
"Bang, sebaiknya dibawa ke dokter saja! Siapa tahu masih tertolong!" Kata orang itu. Beberapa orang lainnya mengiyakannya.
"Saya sudah telepon Ambulance. Sebentar lagi mereka pasti tiba di sini. Biar mereka saja yang menangani!" Kata orang lain yang berpakaian rapi dan berkacamata sambil melipat telepon genggamnya.
Sesaat kemudian, terdengar suara sirine yang bising, memecah kerumunan itu. Sejumlah manusia berpakaian putih turun dengan tergesa-gesa dari bagian belakang mobil putih yang bergambar palang merah itu, membawa Rosetta bersama mereka. Saat tubuh Rosetta kuserahkan pada mereka, aku dapat mendengar suaranya mengigau pelan.
"Grev..."
To Be Continued...
|
|
|
| V33D12AG0N |
|
The Last Dragon
    
Group: Admin
Posts: 523
Member No.: 28
Joined: 21-May 07

|
Seventh Shard: Injury
"Bagaimana keadaanya, Pak?" Tanyaku setelah seorang pria setengah baya berbaju putih keluar dari pintu ruangan tempat Rosetta dirawat. Setelah masuk tempat yang disebut 'Rumah Sakit' ini, Rosetta segera dimasukkan ke sebuah ruangan dan aku dilarang masuk. Tentu saja ini membuatku khawatir terhadap keadaannya.
"Hanya sedikit lecet dan luka memar. Tak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab pria itu dengan senyuman di wajahnya. "Bahkan aku terkejut setelah menganalisa semua tulang tengkoraknya masih baik-baik saja setelah mendengar ceritamu bahwa ia membentur trotoar," tambahnya.
"Benarkah?" Senyumannyapun menular padaku.
"Seharusnya kau bersyukur pada Tuhan, temanmu telah mengalami mukjizat," katanya sambil menepuk pundakku. "Tapi," Ia masih melanjutkan kalimat yang tampaknya sudah selesai itu. "Ia menderita amnesia ringan karena benturan di kepalanya. Mungkin ia tak dapat mengingat kejadian yang baru saja menimpanya. Tapi sebaiknya jangan diingatkan dulu karena bisa membuatnya trauma," jelasnya.
Mukjizat? Amnesia? Trauma? Benda apa itu? Intinya hanya 'Ia tak dapat mengingat kejadian yang baru saja menimpanya, jangan diingatkan dulu' itu saja kan? Mengapa harus memakai istilah-istilah yang aneh seperti itu?
"Oh iya, kau sudah boleh menjenguknya sekarang!" Katanya sambil mengarahkan jempolnya ke ruangan di belakangnya.
Aku pun bergegas memasuki ruangan itu dan mencari ranjang Rosetta. Aku melihat matanya terpejam dengan tenang, seperti sedang tertidur. Dan kurasa memang ia sedang tertidur, karena saat ini sudah lewat tengah malam.
"Akh... Akh..." Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan kesakitan dari ranjang lain di balik kain yang menutupinya. Penasaran, aku pun membuka kain penutup itu dan melihat seorang pria dengan bibir yang berwarna hijau berteriak kesakitan seraya menggenggam kedua kakinya. Beberapa orang wanita berbaju putih berusaha menenangkannya.
"Jari kakiku!! Aku... AKU TAK DAPAT MERASAKANNYA!!" Teriakannya semakin menjadi-jadi. Namun setelah salah satu dari wanita-wanita itu menyuntikkan sesuatu ke sepasang kakinya, teriakan kesakitannya berangsur-angsur reda.
Aku pun mendekatinya, dan menyingkap sedikit selimutnya untuk melihat kakinya. Kedua kakinya masih tetap utuh apa adanya, tak ada sesuatu apa pun yang kurang. Jari-jarinya semua lengkap, dan tak ada luka yang ternganga di sekitarnya. Lalu mengapa ia berteriak kesakitan? Satu-satunya keanehan adalah bibirnya yang berwarna hijau.
"Semua ini berawal dari dia..." Orang itu pun menceritakan pengalamannya tanpa kuminta. Aku pun memperhatikannya. "Sore tadi, aku bertemu dengan seorang gadis. Gadis yang sangat cantik dan sexy. Ya, aku jatuh cinta padanya. Aku sangat tertarik padanya, dan begitupun dia, terlihat sangat tertarik padaku. Sampai akhirnya, kami pun berciuman. Setelah kami berciuman, mendadak seluruh tubuhku terasa panas dan kesakitan. Kakiku mulai terasa lemas dan sedikit demi sedikit, aku kehilangan kemampuan merasakan maupun menggerakkan jari-jari kakiku. Dan baru saja ini, aku kehilangan kontrol dari betis hingga lututku. Entah apa yang dilakukannya padaku saat berciuman... sepertinya ini hukuman padaku karena terlalu mata keranjang..." Sesalnya.
Seorang gadis bahkan mampu memberikan racun yang begini mematikan pada seorang pria? Manusia memang makin hari makin gila...
"Grev..." Aku mendengar suara Rosetta dari balik kain. Aku pun segera kembali ke dekat ranjang tempat Rosetta berbaring.
"Kau tak apa-apa?" Tanyaku.
"Hanya sedikit ngantuk..." jawabnya sambil menguap ditutupi dengan tangan kanannya. Oh, jadi kalau manusia menguap, mereka menutupinya dengan tangan? Sementara kami para naga, biasa mengaum keras-keras saat menguap. Menurutku, itu lebih terasa memuaskan daripada cara manusia yang terkesan menahan uapan.
"Oh iya, Grev, kau tahu apa yang terjadi padaku barusan hingga aku dirawat di sini? Aku benar-benar tak bisa mengingatnya..."
Kenapa kau dirawat di sini? Karena Fangyerd membanting tubuhmu keluar jendela hingga jatuh terbanting di atas trotoar... itulah yang terjadi sebenarnya. Tapi pria berbaju putih tadi memintaku agar tidak memberi tahu kejadian yang sebenarnya. Jadi...?
"Tadi kau berjalan di trotoar, namun tiba-tiba terpeleset hingga jatuh pingsan," jawabku asal.
"Jatuh di trotoar?" Aku buru-buru mengangguk agar tak terlihat aneh. "Aneh..." Akh! Masihkah terlihat aneh? "...aku tak pernah pingsan karena jatuh di trotoar sebelumnya."
"Ya... tapi itulah yang terjadi..." Aku berusaha meyakinkannya bahwa itu benar-benar terjadi.
"Hmm... oh iya, ngomong-ngomong, apa dokter bilang aku sudah boleh pulang?" Tanyanya lagi.
"Dokter?"
"Iya, dokter... orang yang merawatku saat aku pingsan adalah seorang dokter kan?"
Oohh... maksudnya Bapak yang memaki baju putih tadi? Jadi nama orang itu adalah Dokter...
"Entahlah, aku tidak tahu. Ia hanya mengatakan aku sudah boleh menjengukmu saja, dan jangan mengatakan..." Argh! Celaka, hampir saja aku kelepasan! Aduh... bagaimana ini? Dengan apa sebaiknya kulanjutkan kalimatku? "...hal-hal yang tidak penting..." Lanjutku sambil membersihkan peluh yang membasahi keningku.
"Hal-hal yang tidak penting?" Tanyanya lagi. Sial! Kenapa malah jadi berlanjut seperti ini?
"Iya, hal-hal yang tidak penting..." Ulangku lagi. Aku tak tahu harus mengarang penjelasan seperti apa lagi agar dapat diterimanya.
"Hmm... baiklah, kalau begitu..." Rosetta segera menggeser kakinya keluar dari selimutnya, dan duduk di tepi ranjang, seperti hendak beranjak turun dari ranjang.
"He... hey... apa yang akan kau lakukan?" Tanyaku. Ia tak mungkin pulang sekarang kan?
"Ke toilet. Aku ingin buang air kecil..." Katanya sambil beranjak turun, lalu berjalan keluar ruangan. Aku kemudian duduk di sebuah kursi di samping tempat tidur Rosetta, menunggunya kembali dari toilet.
Saat aku duduk, aku menyadari bahwa manusia memang makhluk yang aneh. Mereka duduk normal dengan kaki bersentuhan dengan lantai, tapi tubuh bertopang pada kursi. Sungguh berbeda dengan makhluk-makhluk lain yang biasa menyejajarkan kaki dengan tubuh mereka saat duduk. Manusia juga terbiasa berjalan dengan dua kaki, sementara dua kaki depannya yang disebut tangan hanya bergerak ke depan dan ke belakang saat berjalan tanpa maksud yang jelas. Selain itu, mereka juga adalah satu-satunya makhluk dengan kulit yang tipis, dan tak terlindung oleh rambut. Rambut mereka hanya melindungi kepala, beberapa bagian wajah, dan beberapa bagian lainnya. Kemampuan berpikir dan kepandaian mereka juga berada jauh di atas makhluk-makhluk lainnya, terkecuali malaikat, iblis, dan naga. Ya, hanya manusia yang menemukan berbagai macam benda canggih untuk mempermudah hidup mereka. Bahkan, sudah ada di antara mereka yang mencapai bulan berdasarkan cerita Rosetta.
"Lho? Mana pasiennya?" Tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu. Aku menoleh ke arah suara itu, dan ternyata itu adalah Dokter.
"Siapa itu Pasien?" Tanyaku.
"Itu... yang tadi berbaring di sini," katanya sambil menunjuk ranjang yang tadi ditempati Rosetta.
"Tadi yang berbaring di sini Rosetta, bukan Pasien," jawabku. "Kan anda sendiri yang merawatnya sewaktu dia pingsan tadi?"
"Hehehe... sudah sudah, jangan bercanda lagi... di mana pasiennya?" Tanyanya lagi.
"Lho? Kan sudah kubilang, yang tidur di sana tadi Rosetta, bukan Pasien!"
"Iya, dia itu disebut pasien!" Dokter terlihat sedikit kesal.
"Bukan, namanya Rosetta!" Bantahku. Aku kenal betul dengan Rosetta, dan tadi benar-benar dia yang terbaring di sini, bukan Pasien!
"Rosetta itu disebut pasien!"
"Rosetta ya Rosetta, Pasien ya Pasien! Rosetta bukan Pasien!" Aku pun ikut kesal.
Tiba-tiba pintu ruangan pun terbuka. Rosetta masuk tepat di antara kami berdua yang sedang perang mulut.
"Eh? Ada apa ya? Dok? Grev?" Tanya Rosetta.
"Dokter, ini Rosetta yang tadi berbaring di sana, bukan Pasien!" Kataku sambil menghadapkan tubuh Rosetta pada Dokter.
"Iya, aku tahu! Rosetta inilah yang disebut sebagai seorang pasien!" Jawab Dokter kesal. Tunggu! 'Seorang pasien'? Jadi, Pasien bukan nama orang? Pasien itu sebenarnya apa? Sebenarnya aku ingin menanyakan hal ini, tapi aku takut dicurigai oleh Dokter dan Rosetta. Jadi...
"Oohh... jadi maksudmu bukan Pasien nama orang?" Aku berusaha terlihat mengerti.
"Mana ada orang yang bernama 'Pasien'?" Dokter masih membalas ucapanku dengan sinis.
"Sudah... sudah... Dok, Grevaedon ini dari desa terpencil, jadi maklumilah kalau dia tidak mengerti apa yang dimaksud 'pasien'," Rosetta pun ikut dalam percakapan kami.
"Oh, begitu... di desamu tak ada puskesmas ya?" Tanya Dokter lagi kepadaku. Puskesmas? Apa pula itu? Setelah kupikir-pikir, ada baiknya aku menjawab 'ya' kali ini.
"Iya," jawabku singkat.
"Pantas..." Tanggap Dokter. "Oh iya, bagaimana keadaanmu? Tak seharusnya kau ke toilet sendirian!" Dokter beralih kepada Rosetta.
"Aku tak apa-apa, Dok! Aku hanya merasakan luka-lukaku sedikit perih, dan tubuhku agak linu saja," jawab Rosetta. "Aku sudah boleh pulang belum, Dok?"
"Melihat keadaanmu sekarang sepertinya sudah tidak apa-apa. Tapi untuk memastikan, sebaiknya kau beristirahat di sini dulu sampai besok pagi," jawab Dokter.
"Terima kasih, Dok," ucap Rosetta.
"Sama-sama. Oh iya, Grev, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Ayo kita keluar ruangan dulu..." ajak Dokter. Keluar ruangan? Kalau di dalam memangnya kenapa?
"Kenapa tidak di sini saja?" Tanyaku.
"Suasananya kan lebih enak di luar..." Jawabnya sambil membuka pintu ruangan dan berjalan keluar. Mau tidak mau aku harus mengikutinya, sementara Rosetta kembali ke ranjangnya.
Setibanya di luar ruangan, Dokter segera bercerita. "Walaupun kondisinya saat ini baik-baik saja, dan tak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi hasil riset kami menunjukkan sesuatu yang aneh..."
"Aneh?" Tanyaku.
"Ya. Jaringan tubuh dan sel-sel darahnya memang bekerja normal, dan tidak ada masalah jika diamati biasa. Tapi setelah analisa lebih lanjut, kami menemukan gejala-gejala aneh pada sel-sel darah dan jaringan tubuhnya. Keanehan ini ada pada setiap sel tubuhnya, dan bersifat menyeluruh. Kemungkinan terburuk adalah ia menderita kanker jenis baru yang belum ditemukan obatnya ataupun cara mengatasinya..." jelas Dokter.
Penjelasan apa itu? Tak ada satu pun kalimatnya yang dapat kumengerti! Sepertinya aku harus berpura-pura mengerti lagi kali ini...
"... jadi sebaiknya ia tetap kami kontrol setiap minggu. Setiap seminggu, bawalah ia ke sini untuk kami pantau perkembangannya, dan kami usahakan semampu kami untuk membantunya bertahan," lanjutnya.
"Dok, kenapa tidak bilang saja ke Rosetta? Dia bisa kok ke sini sendiri..." Usulku.
"Kau ini... Maksudku menyampaikan ini padamu adalah agar kau bisa menyampaikannya ke Rosetta dengan lebih baik dan tidak menyakiti perasaannya!" Jawab Dokter dengan sedikit kesal.
Memangnya memberi penjelasan rumit lalu menyuruhnya kemari setiap minggu bisa menyakiti perasaannya?
"Ya sudah, aku serahkan padamu. Aku harus menangani pasien lain sekarang. Sampai jumpa, ya!" Dokter itu lalu pergi meninggalkanku sendiri. Aku terdiam dan terpaku, tak mengerti apa yang baru saja disampaikannya. Satu-satunya kalimat yang aku mengerti adalah Rosetta harus ke sini setiap minggu. Ya, mungkin hanya itulah yang harus kusampaikan padanya.
Aku pun membuka pintu ruangan itu, dan segera mengatakannya pada Rosetta, "Rose, setiap minggu kau harus..." Kalimatku terhenti. Aku melihat Rosetta duduk di atas ranjangnya dengan wajah tertunduk, dan dua telapak tangannya menutupi wajahnya. Aku bisa mendengar suara dengusan ingusnya.
"Grev..." Suaranya terdengar kacau dan aneh, tidak seperti biasanya. "Berdasarkan perkataannya... hidupku... tinggal sebentar lagi, kan?" Lanjutnya. Aku bisa merasakan kesedihannya. Meskipun aku tak terlalu mengerti apa yang dibicarakannya, aku merasakannya. Baru kali ini aku merasakan perasaan manusia sebegitu dalamnya.
Tiba-tiba ia mendekap tubuhku dan menangis tersedu-sedu. Aku merasa aneh diperlakukan seperti ini, tapi kurasa Rose memerlukannya untuk melampiaskan kesedihannya. Selama ini tidak menggangguku, aku tidak akan menolaknya.
Aku hanya bisa berharap, kesedihan apa pun yang dirasakannya, semoga cepat berlalu dan tidak membuatnya selamanya bersedih...
-----------------------
Sementara itu, di atap sebuah gedung tak jauh dari rumah sakit itu, terlihat bayangan seseorang di depan cahaya matahari fajar yang akan menyingsing. Dari bentuk tubuhnya, dapat disimpulkan bahwa ia adalah seorang wanita.
Ia mengeluarkan segenggam ponsel dari saku roknya, membuka layarnya, dan terlihat menekan tombol-tombolnya, hingga muncul gambar dua ekor naga, hitam dan putih, yang sedang berkejaran di depan bulan purnama pada layar ponselnya.
Senyuman di bibir tipisnya yang berwarna hijau terlihat menggoda. Samar-samar terlihat bayangan sesuatu yang bergerak di balik punggungnya. Sesuatu yang panjang, tapi elastis. Ekor yang bersisik.
"Akhirnya..." ia berbisik kepada dirinya sendiri, "Kutemukan kau! Hihihihi..." Desahnya dengan suara kecil namun merdu.
Wanita itu pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku roknya. Kemudian ia menegakkan tubuhnya, mendongakkan kepalanya, lalu memunculkan sepasang sayap dari punggungnya dan terbang bebas ke arah sinar matahari fajar...
To Be Continued...
|
|
|
Track this topic
Receive email notification when a reply has been made to this topic and you are not active on the board.
Subscribe to this forum
Receive email notification when a new topic is posted in this forum and you are not active on the board.
Download / Print this Topic
Download this topic in different formats or view a printer friendly version.
| |